Mizan dan jiza berjalan melintasi pasir tebal khas gurun untuk menuju pasar yang jauhnya 5 km.
Debur angin mengiringi menyejukkan kedua jiwa yang saling diam itu.
"Jiza?"
"Iya?"
"Apakah sebelum perang terjadi di negaramu, kau sempat menempuh pendidikan tinggi?"
"Iya,tapi tidak bisa aku lanjutkan, karna perang menghancurkan tempatku bersekolah, dan kehidupan finansial keluargaku jatuh sejatuh jatuhnya."
"Dulu kau mengambil jurusan apa?"
"Arsitek,cita citaku adalah bisa membangunkan sebuah rumah besar untuk keluargaku,masjid, dan bangunan indah lainnya.
Tapi semua itu hanya tinggal angan angan sekarang,karna Tuhan sudah lebih baik memberikan rumah untuk keluargaku di surga."
"Jiza,kau wanita yang hebat."
"Dokter juga manusia yang hebat, jauh jauh datang ke Yordania hanya untuk melayani tanpa imbalan apapun."
Lalu keduanya melanjutkan langkah dengan keheningan kembali.
"Saya sudah pernah bertemu dokter sebelumnya."ucap jiza yang mengejutkan Mizan hingga membuat langkah kaki lelaki itu berhenti.
"Sudah pernah?"
"Di perbatasan Lebanon,
Saya mewajari kalau dokter tidak mengingat saya, lagipula itu sudah hampir satu tahun yang lalu,dan saya bukan siapa siapa waktu itu."
Mizan bergeming beberapa detik.
"Apa mungkin Hajiza adalah wanita yang aku cari selama ini."benak Mizan.
Lalu jiza kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Mizan yang masih bergeming dengan isi pikiran nya sendiri.
"Saya juga mengingatmu."sahut Mizan membuat jiza berhenti.
Mizan lantas menyusul jiza beberapa langkah di depan nya.
"Kau perempuan yang membantuku menolong seorang lelaki tua kan?"
Jiza tersenyum mengangguk.
Mizan pun juga melakukan hal yang sama.
"Saya tidak menyangka kau masih mengingat wajah saya."ucap Mizan.
"Saya mengingat semua wajah orang baik yang menolong saya selama perang ini berkecamuk, kalian adalah malaikat dari Tuhan
Penghuni bumi yang di utus dari surga.
Begitupun dengan semua relawan yang ada disini, di mata semua pengungsi disini kalian juga pasti di anggap malaikat."
Tak sengaja sebuah senyum terukir dari wajah Mizan.
Lalu keduanya kembali melanjutkan langkah.
"Ya Tuhan, aku sudah menemukan wanita yang aku cari selama ini."benak Mizan.
...
Mizan dan jiza telah sampai di pasar yang mereka tuju.
Lokasi pasar begitu sederhana dan terlihat berbeda dengan pasar pada umumnya.
Dan karna di antara keduanya hanya jiza yang bisa berbahasa setempat, jadi Mizan hanya meminta bantuan kepada jiza untuk menjadi perantara nya selama bertransaksi di pasar.
Selama kurang lebih satu jam keduanya menghabiskan waktu untuk membeli beberapa keperluan di pasar itu hingga keduanya telah menenteng beberapa kantong belanja.
...
Mizan dan jiza kembali pulang, dengan berjalan kaki di waktu pagi menjelang siang dimana matahari telah naik sepenggalah.
"Biar aku saja yang bawa."tawar Mizan
Namun jiza dengan lembut menolak
"Biar aku saja,barang belanjaanmu juga banyak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Musafir Rindu[On Going]
ActionMizan, seorang dokter ahli bedah. Dirinya yang memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan bersama keluarganya membuat dia menaruh simpati yang cukup besar pada permasalahan anak di dunia, baik itu dari pendidikan, kesehatan, maupun keamanan dan ke...
![Musafir Rindu[On Going]](https://img.wattpad.com/cover/370520168-64-k745755.jpg)