Raut wajah adzar dan nafda terlihat menegang.
"Kenapa jiza?"tanya Mizan dengan lembut.
"Saya berusaha bertahan hidup sampai detik ini supaya saya bisa menuntaskan waktu yang Tuhan kasih ke saya sebelum akhirnya saya menjemput keluarga saya yang sudah lebih dulu pergi,
Saya tidak terpikirkan untuk menikah, bisa bertahan hidup dengan kehidupan yang sedang saya jalani sekarang saja saya sudah sangat bersyukur."
"Tapi jiza pertemuan kita di Lebanon satu tahun yang lalu itu adalah alasan saya meminta namamu ke Tuhan setiap saya berdoa, dan sekarang saya ada disini ini pasti bukan kebetulan."
"Dokter tidak pantas bersama dengan wanita yang tidak pernah meminta dokter dalam sebuah doa."
Mizan terbungkam, apa mungkin dia harus sampai memaksa?
"Saya tahu dokter disini hanya singgah atas nama kemanusiaan, dokter masih memiliki kehidupan lain di negara dokter yang pastinya jauh lebih indah daripada disini.
Jangan bertahan disini hanya untuk saya, saya sudah berdamai dengan hidup saya disini."
Mizan mendengarkan dan menenangkan diri.
"Terimakasih, kau sudah mengizinkan saya mengutarakan niat ini, saya terima keputusanmu jiza."jawab Mizan.
Jiza mendengarkan dan hanya diam,dan sesekali menunduk dengan perasaan bersalah.
"Assalamualaikum."Mizan pamit.
"Waalaikumussalam."jawab jiza.
Lantas Mizan pergi dengan kedua rekan nya menghormati keputusan jiza yang tak terduga.
Jiza menutup pintu rumah nya dan berjalan menuju area belakang rumah nya.
Tangis air mata berderai di balik kain cadar yang menutupi wajahnya, desak pilu mencekik jiwanya yang rapuh.
Dia tersandar pada dinding rumah nya yang terbuat dari kayu kayu karna tak sanggup menahan rasa sakit karna harus membohongi dirinya sendiri.
Jiza merasa dirinya ingin teriak sekencang mungkin hingga membuat dia melepas cadar nya karna tangisan nya yang semakin pecah dan membasahi kerudung hingga kain cadar nya.
"Hanya perempuan bodoh seperti saya yang menyia nyiakan lelaki seperti dokter Mizan."
...
Mizan menepi tak langsung kembali ke camp pengungsian.
Adzar dan nafda mau tidak mau ikut menemani.
"Sepertinya aku harus segera kembali ke camp paling tidak kau temani dulu Mizan,hibur dia,aku khawatir dia lagi terpukul banget."ucap nafda.
Adzar lalu mengiyakan.
Nafda pamit tanpa menegur Mizan yang terlihat sedang melamun menatap kosong ke depan.
Setelah itu adzar kembali fokus kepada Mizan di sebelahnya.
"Aku harap kau tidak sakit hati atas penolakan jiza."ucap adzar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musafir Rindu[On Going]
ActionMizan, seorang dokter ahli bedah. Dirinya yang memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan bersama keluarganya membuat dia menaruh simpati yang cukup besar pada permasalahan anak di dunia, baik itu dari pendidikan, kesehatan, maupun keamanan dan ke...
![Musafir Rindu[On Going]](https://img.wattpad.com/cover/370520168-64-k745755.jpg)