Mizan menemui sang kakak di kantor law firm tempat dia bekerja.
Dengan perasaan marah Mizan langsung masuk ke ruangan santira tanpa permisi.
Saat itu santira terlihat tengah beberes berkas di atas mejanya dan terlihat akan segera pulang karna memang waktu telah sore.
Dan seketika dia kaget ketika dia melihat kedatangan Mizan namun dia juga sudah paham apa maksud kedatangannya kesini yang pastinya ingin membahas persoalan kasus Romi Prawira.
Santira bersikap abai dan melanjutkan beberes.
"Kak!, kenapa kakak harus melakukan ini? Dimana hati nurani kakak?"
"Cukup Mizan! Yang kau bahas ini ranah hukum dan kakak lebih tahu dan paham soal ini di bandingkan dirimu."
"Hukum itu adil bukan hanya menyenangkan satu pihak."
Sontak santira terdiam dan langsung membalikkan badan.
"Kakak gak menyenangkan siapapun,kakak hanya berusaha memenangkan kasus yang seharusnya memang di menangkan, toh lagipula pihak keluarga Farah sudah mendapatkan uang dari Romi dan keluarga Romi bersedia membayar segala kebutuhan atau pengobatan jika diperlukan kepada Farah, dimana letak gak adilnya? Kakak yang lebih tahu Mizan."
"Berapa kakak di bayar sampai kakak bisa setega ini?"
"Mizan jaga bicaramu!, aku gak melakukan semua ini hanya untuk uang semata."
"Kakak dengan ayah itu sama, sama sama gak peduli dan hanya mementingkan karir, aku kecewa dengan kakak!"
"Mizan! Aku tahu kau marah tapi jangan pernah menyamakan aku dengan ayah, kau tahu kan kita sama sama marah dengan ayah.
Dan apa yang aku lakukan sekarang ini sudah yang adil dan terbaik untuk semua pihak."
"Kakak yakin sudah bersikap adil?
Atau kakak hanya kasihan dengan jeny?
Setahuku kasihan itu gak terbaca di mata hukum, seseorang gak bisa menetapkan hukum hanya karna kasihan iya kan kak?"
"Enggak aku gak kasihan dengan siapapun."tolak santira sedikit panik.
Mizan tersenyum menyayangkan tak menyangka kakaknya menjadi seegois ini.
"Aku harap kakak gak akan pernah merayakan kemenangan kakak kali ini."pungkas Mizan lalu pergi dengan amarah.
"Mizan tunggu!, Mizan!!"
Tak terasa perjalanan Mizan telah sampai di rumahnya yang dia tinggali seorang diri.
Kehidupan Mizan memang begitu sepi, dari kecil dia jauh dari sang ayah,setelah beranjak dewasa dan memiliki pekerjaan mapan, dia memilih tinggal di rumah baru seorang diri, karna tinggal di rumah bersama sang ayah hanya akan membuat mereka terus bertengkar.
Begitupun dengan santira, setelah menjadi pengacara, hidupnya berubah, sering terbang ke berbagai kota untuk menangani kasus kasus sehingga dia memilih untuk tinggal di apartemen.
Mizan turun dari taksi karna hari ini dia memilih untuk tidak membawa mobil.
Taksi pergi dan Mizan berjalan masuk ke rumah.
Namun di depan pintu rumahnya ada sang kakak yang tengah berdiri menunggu, membuat Mizan menghentikan langkahnya dan terdiam.
Santira menoleh dan melihat kedatangan adiknya.
Mizan langsung memutar tubuhnya dan berjalan pergi, tak jadi memasuki rumah.
Sontak santira berlari mengejar sembari memanggil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musafir Rindu[On Going]
AçãoMizan, seorang dokter ahli bedah. Dirinya yang memiliki masa kecil yang kurang menyenangkan bersama keluarganya membuat dia menaruh simpati yang cukup besar pada permasalahan anak di dunia, baik itu dari pendidikan, kesehatan, maupun keamanan dan ke...
![Musafir Rindu[On Going]](https://img.wattpad.com/cover/370520168-64-k745755.jpg)