Khitbah

4 1 0
                                        

Malam tiba,
Mizan sedang menunggu adzar di lokasi yang dia tentukan tadi siang.

Tak di sangka cuaca malam begitu terang namun sangat dingin.

Adzar tak lama muncul duduk di sebelah Mizan yang memakai balutan syal berlapis di leher nya.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"tanya adzar langsung ke pokok pembicaraan.

Mizan sejenak terdiam, menunduk ke bawah.
"Aku sudah memutuskan bahwa aku akan menikahi Hajiza."jawabnya dengan suara parau.

Sontak adzar menoleh dengan cepat kepada Mizan dengan raut wajah terkejut.
"Kau bilang apa barusan??"

"Sudahlah aku tahu kau pasti mendengar nya."

"Jadi aku gak salah dengar?"

Mizan menggelengkan kepalanya.

Sejenak adzar terdiam,seperti butuh waktu untuk merespons pernyataan mengejutkan dari teman nya ini.
"Kau serius?"

"Iya aku serius, aku gak terlihat becanda kan?"

"Tapi kenapa? Tiba tiba sekali?, kau sudah pikirkan ini baik baik?"

"Hajiza itu perempuan yang aku cari selama setahun belakangan ini dan aku gak menyangka Tuhan mempertemukan aku dengannya di tempat ini."

"Kau sudah pernah mengenal jiza?"

"Awalnya aku gak sadar kalau aku ternyata sudah pernah bertemu dengan nya, tapi setelah tadi siang aku tersadar bahkan di sadarkan sendiri oleh jiza bahwa kami sudah pernah bertemu satu tahun yang lalu di perbatasan Lebanon."

"Ketika kau hampir di tahan itu?"

"Iya, sepulang nya aku ke Indonesia, aku terbayang dengan satu wajah seorang perempuan yang aku temui di Lebanon dan aku gak bisa melupakan nya sampai detik ini bahkan kesibukanku sebagai seorang dokter gak bisa mengalihkan pikiranku dari bayang bayang wajahnya."

Adzar merenung.
"Tuhan gak mungkin mempertemukan kalian kembali kalau gak ada tujuan nya."

Mizan lantas menoleh setelah adzar berucap demikian.

"Aku akan temani kapanpun kau siap untuk menemui jiza."ucap adzar.

"Aku akan menemuinya besok dan mengutarakan keinginanku."

"Memang nya kau sudah bicarakan ini dengan keluargamu?"

"Keluarga?"decak Mizan sendiri.
Mizan tahu betul, di Indonesia dia tidak memiliki keluarga dalam definisi yang indah.

"Biarlah itu jadi urusanku."tambah Mizan.

"Semuanya baik baik saja kan?"tanya adzar mulai curiga.

Lantas Mizan beranjak dan sejenak merenung.
"Kau tahu kan, apa yang aku lakukan disini sangat membuatku bahagia,
Tapi kau juga harusnya paham, kalau aku bahagia dengan keluargaku di Indonesia, aku gak akan jauh jauh cari kebahagiaan sampai kesini."

Lalu adzar juga berdiri.
"Kau sedang ada masalah dengan keluargamu?"

"Bukan sedang ada, tapi dari aku kecil memang tidak pernah baik baik saja.
Tapi aku tahu syarat pernikahan harus bagaimana itu sebabnya biarlah itu jadi urusanku."

Lantas adzar menepuk bahu Mizan memberikan dukungan.
"Semoga Allah mudahkan."

Lalu adzar bergerak memeluk teman nya itu di sambut reaksi hangat dari Mizan yang membalas pelukan nya.
...




Keesokan harinya...
Santira baru saja menyelesaikan meeting nya dengan rekan rekan kerja nya di law firm.

Setelah selesai, tira merapikan berkas berkas nya dan di ruang meeting itu hanya tersisa dia dengan manajernya yang bernama aluna.

Musafir Rindu[On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang