Kedua mata Ameera membesar ketika menemukan sosok Anthony berdiri tegak di depan kamarnya. Pandangan matanya jatuh pada sebuah bantal putih yang dipegang oeh pria bertubuh tinggi seratus delapan puluh dua itu.
"A-apa kamu akan tidur di sini malam ini?" tanya Ameera hati-hati.
Anthony mengangguk dan langsung melangkah menuju salah satu sisi tempat tidur di kamar tersebut. "Aku tidak punya pilihan lain karena ibu sedang berada di rumah kita. Jadi, aku harap kamu mengizinkan aku tidur di sini mulai malam ini."
Ameera memandang Anthony dalam diam sebelum akhirnya mengangguk pelan. Toh, ia memang tidak memiliki pilihan lain dan sebenarnya kamar ini adalah miliknya. Bukan milik Ameera. Tapi, sejak Ameera mengaku masih tidak sehat ia meminta pria itu untuk tidur di kamar lain. Dan pria itu menghormati keputusannya dan menuruti keinginan Ameera. Bukankah sikapnya itu membuktikan jika Anthony adalah suami yang baik. Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?
"Kalau begitu kamu bisa tidur di atas tempat tidur. Biar aku yang tidur di sofa," kata Ameera seraya meraih bantal miliknya.
"Sebesar itukah rasa jijikmu kepada suamimu sendiri?" tanya Anthony tanpa bisa menahan amarahnya lagi.
"Apa maksudmu?"
"Sikapmu itu sudah menjadi jawaban atas pertanyaanmu sendiri."
Ameera menyatukan dahinya dan memandang Anthony yang berdiri tak jauh darinya. "Aku hanya mencoba membuatmu merasa nyaman di sini. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh. Lagipula Ibu ada di sini dan aku tidak mau beliau mendengar pertengkaran ini," jelas Ameera berjalan melewati Anthony. Namun, pria itu menarik pergelangan tangannya kuat-kuat sehingga dia kehilangan keseimbangan tubuhnya dan berakhir dan pelukan Anthony.
Saat itulah Ameera memekik pelan dan langsung mengangkat wajahnya untuk protes akan sikap pria itu. Sayangnya Ameera harus mengurungkan niatnya itu dan menemukan manik cokelat bening milik Anthony yang sedang menatapnya dengan penuh amarah sekaligus kerinduan. Rindukah itu?
Untuk pertama kalinya wajah mereka sedekat ini. Sampai Ameera bisa melihat dengan jelas betapa tampannya Anthony. Membuat hati kecilnya merasa ciut dibuatnya. Karena ia yakin dengan ketampanannya, Anthony mampu memiliki perempuan mana pun yang diinginkannya. Namun, mengapa pria ini memilih perempuan seperti dirinya sebagai istrinya? Tunggu, dia bukanlah istri dari pria tampan di hadapannya ini. Jadi, segeralah sadar Ameera!
"Lepaskan aku," pinta Ameera dengan suara parau karena ia bisa merasakan hembusan napas Anthony yang membelai lembut wajahnya.
"Bagaimana jika aku menolak?" tantang Anthony.
Ameera bergeming. Tiba-tiba saja ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk membalas ucapan Anthony. Yang bisa ia lakukan hanya membuka sedikit bibirnya yang membuat Anthony yang selama ini berusaha mengunci harimau di dalam dirinya rapat-rapat, mulai melangkah keluar ketika melihat celah untuk keluar. Saat itulah tanpa menunggu lebih lama lagi Anthony mendekatkan wajahnya dan menyapu bibir Ameera dengan lembut.
Di tempatnya berdiri, Ameera terkejut. Tidak menyangka jika Anthony akan menciumnya. Cukup lama hingga membuat Anthony berpikir jika istrinya tidak menolak keinginannya. Sehingga selanjutnya harimau itu pun melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan menunjukkan kejantanannya yang tersembunyi selama ini. Membawa Ameera ke langit tertinggi dan menunjukkan betapa indahnya di atas sana sampai Ameera mengerang pelan dan lupa akan pertahanan yang telah ia buat selama ini. Juga lupa jika pria yang berada di atas tubuhnya bukanlah suaminya.
***
Seluruh tubuh Ameera terasa sakit. Ameera membuka matanya perlahan dan saat itulah ia terkejut. Di mana dirinya saat ini? Dia memandang ke seluruh ruangan dan saat itulah dia menyadari jika dirinya berada di dalam kamarnya sendiri. Bagaimana bisa? Seingatnya malam ini dia sedang... Ameera bahkan tidak mampu melanjutkan ucapannya sendiri. Lalu apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa ia bisa berakhir di dalam kamarnya sendiri?
Sekeras apa pun Ameera mencari jawaban, hasilnya nihil sampai bunyi ponsel miliknya menyadarkan dirinya dari pikirannya sendiri. Lalu Ameera mencari keberadaan benda yang sedang berbunyi itu dan menjawab, "Ya?"
"Ameera? You okay?" Suara Zack terdengar khawatir di seberang sana.
"Ya, ya... I am okay. Tapi apa yang sebenarnya sedang terjadi?"
Zack terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Bisakah kita bertemu hari ini?"
"Tentu saja. Aku akan datang ke tempatmu nanti siang."
"Tidak perlu, biar aku saja yang datang ke rumahmu."
Zack mengakhiri pembicaraan mereka dan saat itulah Ameera tersadar. Sejak kapan mereka menggunakan aku dan kamu dalam pembicaraan di antara mereka? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dan mengapa aku tidak bisa mengingat apapun? Karena setiap kali Ameera mencoba untuk mengingat, kepalanya terasa sakit. Ameera mencoba menghiraukan rasa sakitnya itu dan bersiap-siap untuk bangkit dari tempat tidurnya untuk melangkah menuju dapur untuk sarapan dan setelah itu dia akan membersihkan diri dan menunggu kedatangan Zack.
Siangnya Zack datang dengan wajah jauh dari kata baik-baik saja. Tidak ada senyum ceria seperti yang biasa pria itu berikan untuknya. Yang dilihat Ameera saat itu hanyalah kesedihan dan kekhawatiran. Ameera membuka lebar pintu masuk rumahnya dan detik berikutnya Zack langsung memeluk tubuh Ameera erat-erat dan berbisik, "I love you, Ameera..."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Magic Ring
RomanceMengenakan sebuah cincin emas pemberian mantan kekasihnya sukses mengubah kehidupan Ameera Diana. Di mana cincin tersebut memiliki sihir yang membuat Ameera harus menjalani kehidupan baru sebagai seorang istri dari Anthony Bragantara. Seorang dokter...
