Bab 11

244 36 1
                                        


Tubuh Ameera membeku untuk beberapa menit. Berusaha mencerna segala hal yang sedang terjadi di dalam kehidupannya. Richard, Anthony dan sekarang Zack. Ketika memejamkan matanya, ia berada di rumah Anthony dan saat membuka kedua matanya ia telah berada di rumahnya sendiri.  Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dan mengapa hal ini terjadi kepadanya? 

"Tu-tunggu sebentar!" seru Ameera sambil melepaskan pelukan Zack dari tubuhnya dan saat itulah pandangan mata mereka bertemu. Kebingungan tampak jelas di balik manik cokelat milik Zack. "A-aku... tidak mengerti."

"Apa maksudmu Ameera?" jawab Zack dengan melemparkan kembali pertanyaan.

"Semua ini. Aku tidak mengerti dengan semua ini. Kamu dan kalimatmu itu. Aku tidak mengerti!" jelas Ameera hampir berteriak. Kepalanya terasa sakit dan dadanya mulai terasa sesak. Tubuhnya hampir jatuh terduduk jika Zack tak segera menangkapnya dengan cepat. Pandangan mata Ameera mulai menggelap. Perlahan sosok Zack menghilang digantikan dengan kegelapan. Dari ketidaksadarannya yang mulai menghilang, Ameera masih bisa mendengar suara Zack memanggil namanya beberapa kali sebelum akhirnya semuanya menghilang.

Jika cinderella bisa memilih, ia akan memilih untuk tetap menjadi anak piatu saja daripada membiarkan ayahnya menikah dengan seorang wanita yang akan merenggut semua kebahagiaannya. Tapi bila ayahnya tidak menikah dengan seorang wanita jahat, dia tidak akan bertemu dengan ibu peri yang baik hati yang menolongnya agar bisa bertemu dengan pangeran yang tampan. Begitu pula dengan Ameera, ia tidak akan bertemu dengan Anthony bila ia tidak pernah mencoba mengenakan cincin pemberian Richard saat itu. Ibu peri yang baik hati tidak akan memberikan belas kasihannya kepada Ameera yang malang. Wanita yang harus merasakan namanya dikhianati oleh saudara sepupu dan tunangannya sendiri. 

"Mengapa kamu membantunya? Bukankah dia hanya salah satu dari wanita naif yang terlalu mencintai kekasihnya?" 

"Aku tahu. Tapi dia sedikit berbeda dari yang lain."

"Apa bedanya? Di mataku dia sama saja dengan wanita yang lain."

"Payah kamu. Tidak bisakah kamu melihatnya?" Temannya menggelengkan kepalanya. "Dia masih memiliki jiwa yang besar untuk mengikhlaskan tunangannya dengan wanita lain dan yang membuat aku memilih untuk membantunya karena dia mau memaafkan mereka dan mau melanjutkan hidupnya dengan baik."

"Lalu setelah kamu mempertemukannya dengan pria itu, apa yang akan kamu lakukan?"

"Hmmm... Aku akan membiarkannya untuk memilih," jawabnya bersamaan dengan terbentuknya sebuah senyum di bibirnya yang tipis.

Erangan lolos dari bibir Ameera. Perlahan ia membuka matanya dan detik berikutnya ia menemukan wajah khawatir milik Anthony yang duduk di sisi ranjang sambil menggenggam erat jemarinya. "Ameera?" panggil Anthony pelan. 

"A-apa yang sedang terjadi?" tanya Ameera seraya berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya. Sekarang ia kembali bersama dengan pria ini. Padahal beberapa jam yang lalu ia masih bersama dengan Zack. Memikirkan semua ini membuat kepalanya berdenyut. Sehingga dia harus menunda masalah ini dan mencoba fokus dengan memulihkan tubuhnya yang lemah ini.

"Kamu pingsan. Maafkan aku," jawab Anthony dipenuhi rasa bersalah. "Sepertinya aku terlalu memaksa dirimu."

Kening Ameera menyatu. Ingatannya mencoba mengingat maksud dari ucapan yang diberikan oleh Anthony. "Aku tidak mengerti. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan...?" Ucapan Ameera terhenti karena saat itu juga ingatannya melayang pada saat dia dan Anthony yang sedang... berciuman. Ingatannya sukses menciptakan rona merah di kedua pipi Ameera. Mengapa mengingatnya saja sudah membuat pipinya terasa hangat? Tenangkan dirimu Ameera!

"Bagaimana dengan ibu?" tanya Ameera mencoba mengalihkan pembicaraan. Sinar matahari pagi yang mencoba menembus tirai jendela seolah memberitahukan Ameera jika hari telah berganti. 

"Ibu sudah bangun dan terkejut ketika aku memberitahu beliau jika kamu sakit dan membutuhkan waktu untuk beristirahat sehingga tidak bisa menemani beliau berkeliling kebun. Tapi, untunglah beliau mengerti. Jadi, aku rasa tidak ada masalah," kata Anthony menjelaskan. 

"Aku akan meminta maaf pada ibu nanti."

"Tentu saja kamu bisa melakukannya. Tapi, sebelum itu sebaiknya kamu memulihkan dirimu sendiri."

Ameera mengangguk dan tiba-tiba saja ia teringat sesuatu, "Apakah kamu tidak tidur dan menungguiku semalaman?"

Anthony memandang wajah istrinya dan mengangguk sekali. 

"Maafkan aku..."

"Tidak perlu minta maaf. Memang sudah kewajibanku bukan?"

Entah mengapa mendengar kata kewajiban terdengar mengecewakan bagi Ameera. Padahal bukankah seharusnya dia merasa biasa saja? Toh Anthony bukan suaminya. Mengapa ia merasa kecewa dan mengapa hati kecilnya menginginkan lebih? Dan sejak ia menjadi serakah? Menginginkan Anthony sebagai suaminya sendiri?

***








The Magic RingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang