Bab 12

214 44 8
                                        


Sore itu, Ameera duduk di teras kamarnya yang menghadap ke arah taman rumahnya. Seperti diberikan kesempatan untuk berpikir oleh Sang Pencipta, sore itu Ameera duduk di teras kamarnya yang menghadap ke arah taman rumahnya. Sebuah pemandangan yang menajubkan  terlukis indah di hadapannya. Langit senja yang sendu seakan ingin memberikan ketenangan hati Ameera dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.

Bagian mana yang baik-baik saja? Kehidupan mana yang nyata dan mana yang bukan?

Mengapa langit seakan sedang mempermainkan dirinya? Tidakkah langit merasa kasihan kepada dirinya saat ini? Dan apa yang sebenarnya sedang terjadi?

"Apa yang sedang kamu lakukan seorang diri di sini?" ucap suara bariton dari belakang sana.

Ameera menolehkan kepalanya dan menemukan Anthony berjalan menghampiri dirinya dan duduk di kursi sebelahnya yang kosong tanpa meminta izin terlebih dahulu.

"Kamu sudah pulang?" tanya Ameera balik tanpa  memedulikan pertanyaan yang dilemparkan Anthony kepadanya.

"Ya. Dokter Subrata memintaku datang ke acara ulang tahun pernikahannya malam ini di rumahnya. Makanya aku pulang lebih awal dan aku hendak memintamu datang bersamaku malam ini ke acara tersebut."

Ameera menarik napas panjang. Sudah saatnya ia menceritakan semuanya kepada pria di sisinya. Dia sudah lelah berpura-pura menjadi seorang isteri yang lupa ingatan. Karena ia sendiri tidak mau terus-terusan berbohong kepada pria ini. Pria yang terlihat tulus mengasihi isterinya sendiri. "A-aku tidak bisa."

Kening Anthony menyatu. Kekhawatiran tampak jelas di dalam maniknya yang begitu cokelat. "Mengapa? Apa kamu sakit lagi? Di mana?" 

"Aku baik-baik saja." Geleng Ameera pelan. "Ada yang harus aku katakan kepadamu."

Anthony bergeming. Kebingungan tampak terlukis jelas di wajahnya.

"Aku bukan isteri-mu." Akhirnya kalimat itu berhasil lolos dari bibirnya. Bahkan setelah mengatakannya Ameera merasa beban batu di bahunya mendadak hilang dalam hitungan detik.

"Aku tidak mengerti..."

"A-aku bukan Ameera yang kamu cintai. Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku berada di sini. Mungkin tubuh ini adalah milik isterimu, Ameera yang kamu kenal. Tapi yang di dalam sini, bukanlah Ameera yang kamu kenal," jelas Ameera sembari menunjuk dadanya. "Aku adalah seorang wanita karir yang memiliki butik kecil dan baru saja dikhianati oleh tunangannya sendiri. Jadi, maafkan aku. Aku telah membohongimu selama ini..."

"Jika... memang benar demikian, lalu dimanakah Ameera-ku?" Mendengar Anthony menyebut nama Ameera, isterinya seperti itu, entah kenapa hati Ameera terasa sakit. Rasanya seperti ada sebilah pedang yang menusuk begitu dalam hingga darah mengalir terus menerus.

"Aku tidak tahu."

Rahang Anthony mengeras, amarah, kecewa dan sedih melebur menjadi satu. Melihatnya cukup mencabik hati Ameera. Mengapa? Padahal dia tidak memiliki perasaan pada pria di hadapannya ini? Atau tanpa sadar ia telah menaruh perasaan kepada suami dari Ameera yang lain? Tidak! Itu tidak boleh. Semua yang ada di dunia ini bukanlah miliknya. Karena ia sudah memutuskan untuk mencari cara apapun untuk bisa kembali kepada kehidupannya yang sebenarnya. Ya, karena apa yang sedang terjadi saat ini hanyalah mimpi!

Anthony memejamkan matanya sedetik sebelum akhirnya membuka suaranya lagi, "Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Yang terpenting malam ini kamu harus menjadi Ameera-ku, jika memang benar kamu bukanlah Ameera yang aku kenal. Oleh karena itu berdandanlah yang cantik dan jangan mengecewakan diriku. Sebab, Ameera yang lain yang kamu maksud sudah pernah mengecewakanku." 

Selesai mengatakannya Anthony bangkit berdiri dan melangkah pergi dari situ. Meninggalkan Ameera yang duduk dengan rasa bersalah dan kekecewaan mendalam yang ia sendiri tidak pernah menyangka jika akan sesakit ini seandainya ia mengatakan hal yang sebenarnya. Di sisi lain, Ameera tidak ingin mengecewakan Anthony. Sehingga ia pun bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi. Bersiap-siap untuk acara yang disebutkan Anthony tadi. 

Anthony memandang Ameera yang tampak cantik dalam balutan gaun beludru merah maroon berkerah kotak panjang yang menutupi stiletto-nya yang berwarna hitam setinggi dua belas senti meter. Sebuah pouch berwarna senada dengan gaunnya menambah kesempurnaan Ameera malam itu. Rambutnya yang panjang sengaja dilepas terurai menutupi bahunya yang terbuka. Make up tipis tapi merona terlukis di wajahnya yang cantik. Membuat Anthony lupa untuk mengedipkan matanya ketika melihat penampilan Ameera.

"Apa penampilanku berlebihan? Jika iya, aku akan ganti baju." Ameera hendak memutar tubuhnya namun sebuah tangan yang kokoh menahannya sehingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan berakhir di dalam pelukan Anthony. Alhasil mereka membeku untuk beberapa detik. Seakan tak ada satupun dari mereka yang ingin bergerak untuk melepaskan pelukan tersebut. 

"Tidak. Kamu tampak sempurna," bisik Anthony serak tepat di telinga Ameera. "Sampai rasanya aku ingin mencium bibirmu yang tampak menggoda itu."

Ameera bergeming. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang. Ia mencoba mengumpulkan keberanian dan menjawab, "Cium aku kalau begitu."

***


Maaf ya lama, karena di sela-sela kesibukan aku, aku bingung apa masih ada yang menunggu cerita ini atau tidak. Rasanya aku sudah ingin memindahkan cerita ini ke draft. Tapi ketika ada komen dari kalian yang masih menunggu cerita ini jadi aku memutuskan untuk melanjutkan. Jadi semoga kalian menyukai lanjutannya. Dan semoga aku bisa menulis kelanjutannya lebih cepat. Enjoy :D





The Magic RingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang