Bab 13

109 25 5
                                        


Untuk sesaat pandangan mereka bertemu. Mencoba mencari jawaban dari balik manik cokelat mereka yang kelam. Sampai akhirnya salah satu dari mereka berdeham dan membuka suara, "Kita harus segera pergi." 

Anthony menarik tangannya yang berada di punggung terbuka Ameera dan beranjak dari situ. Meninggalkan Ameera yang memandang punggung pria itu dengan kekecewaan. Mengapa kamu kecewa Ameera? Bukankah ini yang kamu inginkan? Juga ingatlah selalu jika pria itu bukanlah milikmu!

Ameera menelan saliva-nya dengan sulit. Seakan dengan melakukan tindakan tersebut mampu memberinya kekuatan sebelum akhirnya berjalan menyusul Anthony dan masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil suasana menjadi hening. Tak ada satu pun dari mereka yang berinisitif untuk memulai percakapan. Hingga perjalanan yang sebenarnya singkat itu menjadi perjalanan terlama bagi mereka. 

Sesampainya di rumah Dokter Subrata dengan sikap gentleman-nya Anthony membukakan pintu dan menyodorkan lengannya kepada Ameera, Hati kecilnya tahu jika dirinya tidak memiliki pilihan lain maka dengan berat hati Ameera menyambut lengan yang kokoh itu dengan terpaksa. "Bersikaplah seakan kamu adalah Ameera, istriku," bisik Anthony dengan penekanan pada kata terakhir.

Ameera bergeming. Tak ingin terlihat lemah di depan Anthony membuat Ameera mengangkat dagunya dan memulai aktingnya menjadi isteri pria yang berdiri tegak di sisinya. Dengan percaya diri mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah dengan dua pilar putih yang kokoh seakan menyambut mereka lebih dahulu sebelum pemilik aslinya. Di dalam gedung bercat putih itu sudah banyak tamu yang tampak sedang asyik berbincang-bincang dengan tamu lainnya. Pakaian yang mereka gunakan pun memperlihatkan latar belakang mereka. Hal ini sempat membuat Ameera berkecil hati. Takut jika dress yang ia kenakan terlalu berlebihan atau bahkan tidak menarik. Setidaknya malam ini Ameera tidak ingin membuat pria yang sedang berjalan di sisinya malu. Bagaimana pun juga Antony merupakan salah satu dokter ternama di rumah sakit tempatnya bekerja. Jadi, tidaklah heran jika seorang Dokter Subrata yang merupakan senior mengundang pria itu.

Suara alunan merdu biola mengalun merdu di telinga Ameera. Beriringan dengan langkah Subroto yang mulai mendekati mereka. 

"Dokter Anthony!" seru pria paruh baya itu ketika sudut pandangnya melihat sosok Anthony.

"Selamat malam Dokter Subrata!" balas Anthony bersamaan dengan senyum tampan yang membuat Ameera merasa pahit di dalam hati karena sejak pengakuannya Anthony tak pernah tersenyum seperti itu lagi kepadanya. "Pesta yang meriah," lanjutnya.

"Ya. Memang sengaja aku siapkan supaya kamu menyukai pestaku dan mau datang lagi di acaraku tahun depan," canda Subrata.

Anthony tertawa kecil, "Saya tidak akan pernah bisa menolak undangan anda tanpa acara meriah pun."

Subrata ikut tertawa mendengar ucapan Anthony lalu melirikan matanya ke arah Ameera. Kekaguman tampak jelas di iris matanya yang berwarna cokelat.

"Senang melihatmu bisa berada di sini bersama Anthony malam ini, Ameera," kata Subrata sembari menatap lurus ke arah Ameera. Di tempatnya berdiri, Ameera hanya mampu tersenyum kecil sambil meredakan gemuruh taburan drum di dalam dadanya. "Sepertinya istrimu semakin cantik, Anthony." imbuhnya.

Anthony tertawa kecil, "Anda membuat saya bangga karena tidak salah memilih istri."

Percakapan mereka berlanjut ke arah pekerjaan dan saat itulah Ameera meminta izin untuk mengambil minum. Yang sebenarnya meminta jeda untuk bisa bernapas lega sejenak. Pikirannya kembali pada ucapan Anthony beberapa menit lalu. Apakah benar ucapan pria itu hanya sekedar kebohongan belaka? Ameera berjalan menjauh dari tempat Anthony dan meraih segelas wine dari seorang waiter yang berjalan melaluinya. Dalam hitungan detik ia mengabiskan wine-nya dengan harapan minuman itu mampu menenangkan perasaannya yang sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini pernah tenang. Namun, nyatanya minuman itu tidak memliki pengaruh apapun untuknya. 

Bagaimana ini? Apa yang sedang terjadi pada dirinya? Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana cara menghilangkan kegelisahan ini? Dan apa penyebabnya? Mengapa dadanya terasa panas dan sesak? Sepertinya ia membutuhkan udara segar. Ketika melihat pintu ke taman terbuka lebar tanpa berpikir panjang Ameera berjalan menuju ke sana dan pandangan matanya menemukan pemandangan di mana beberapa pria yang sedang asyik berbincang-bincang. Kedatangan Ameera yang berjalan dengan heels setinggi sembilan sentimeter langsung berhasil membuat beberapa pasang mata dari para pria itu menoleh ke arahnya.

Di dalam ruangan Anthony yang menyadari jika Ameera menghilang dari pandangan matanya langsung mengakhiri pembicaraannya dengan teman-teman dokter sejawatnya dan pamit undur diri untuk mencari istrinya. Anthony mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Namun, hasilnya nihil. Dia tidak dapat menemukan Ameera di dalam ruangan ini. Akhirnya pilihan terakhirnya jatuh pada taman belakang rumah. Karena hanya itu satu-satunya lokasi yang di datanginya. Anthony melangkahkan kakinya ke taman belakang dan mengedarkan pandangan matanya ke taman yang cukup luas itu. Untunglah penerangan lampu taman yang berbentuk bulat ditambah lampu sorot outdoor membantu Anthony menemukan Ameera dengan cepat. Dari balik bulu matanya Anthony dapat melihat Ameera tampak sedang bercengkerama dan sesekali tertawa lepas bersama tiga pria di sekitarnya. Pemandangan tersebut berhasil membuat darah di dalam dirinya mendidih. Melihat Ameera bisa tertawa selepas itu adalah hal yang belum pernah ia lihat sejak wanita itu kembali bersama dengannya. Tapi wanita itu bukan Ameera yang dia kenal. Apa yang kamu harapkan Anthony? teriak hati kecilnya.  

Anthony bergeming. Matanya menatap lurus ke arah Ameera yang tampak cantik dengan tawa yang terlukis sempurna di bibirnya. Para pria di sekitarnya ikut tertawa bersama istrinya dan tatapan mereka jelas sekali memandang Ameera dengan espresi kagum. Tanpa pikir panjang lagi Anthony melangkahkan kakinya mendekati mereka. Menarik tangan Ameera lalu melangkah pergi dari situ tanpa memedulikan tiga pasang mata yang menatap kepergian mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Mengapa ia senekat itu? Karena hati kecilnya tidak peduli lagi dengan apapun. Persetan dengan Ameera yang dia kenal atau tidak. Tetap saja wanita itu adalah istriku! Milikku dan hanya aku yang boleh melihat dan menikmati senyum dan tawa istrinya! Bukan pria lain!



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Magic RingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang