Bab 9

300 57 5
                                        

Selama satu minggu Ameera mencari tahu perihal ibu mertua-nya melalui Ibu Dewi. Dari info yang didapatkannya dari pengurus rumah tangga, mertuanya di dunia ini, begitu Ameera menyebutnya, tampaknya baik. Hanya saja beliau adalah wanita yang sangat menyayangi putra semata wayangnya sehingga hal ini akan membuat Ameera kesulitan. Mengapa? Karena Ameera tidak tahu apa-apa perihal masa lalu dan seperti apa Anthony itu.  Juga sudah beberapa kali Ameera mencoba untuk mengingat masa lalu pemilik tubuh ini, seberapa keras ia mencoba hasilnya tetap nihil. Tidak ada ingatan apapun. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? 

"Bu," suara Ibu Dewa mengeluarkan Ameera dari pikirannya sendiri  yang sejak tadi duduk seorang diri di kursi taman halaman rumahnya.

"Iya Bu. Ada apa?" tanya Ameera pelan.

"Anu Bu.. Ibunya bapak sudah datang..." jawabnya hampir berbisik.

Kedua alis Ameera terangkat. Wajahnya tampak terkejut. Bukankah ibu mertuanya itu akan datang dua hari lagi? 

"Dimana beliau sekarang??"

"Di ruang tamu, Bu. Nunggu Ibu katanya."

Ameera mengangguk beberapa kali sambil merapikan blouse putih dan rok pink panjang yang dikenakannya. Berharap ibu mertua yang belum pernah melihatnya itu merasa baik-baik saja dengan pakaian yang dikenakannya saat ini. Bersikaplah profesional seperti ketika hendak menemui salah satu klien butikmu Ameera!! ucap hati kecilnya mengingatkan.

Pandangan mata Ameera menemukan sosok wanita paruh baya duduk tegak di ruang tamu rumahnya. Rambutnya yang coklat ikal bergerak ketika wanita itu memiringkan tubuhnya untuk melihat Ameera. "Selamat sore Ibu... Kenapa nggak bilang mau datang hari ini?" sapa Ameera seraya meraih sebelah tangan ibu mertuanya untuk memberi salam.

"Ibu ingin memberi kejutan," sahut Miryam.

Ameera memamerkan senyum terbaiknya. "Kalau begitu Ibu berhasil." 

Miryam membalas senyum Ameera. Saat itulah Ameera tahu dari mana ketampanan Anthony berasal. Dari wanita cantik di hadapannya ini. Alis yang memiliki warana sama dengan rambutnya di setarakan dengan manik cokelatnya yang berwarna abu-abu, hidung rampingnya yang mancung dan bibir tipisnya, semua itu pahatan terbaik milik sang Pencipta diwariskan kepada Anthony. "Bagaimana keadaanmu Ameera?"

"Um.. saya baik-baik saja, Bu." 

"Kata Tony, kamu sakit. Maka dari itu Ibu segera ke sini."

Ameera terperangah. Tidak menyangka jika tujuan Miryam ke sini karena mengkhawatirkan dirinya. Berbeda sekali dengan Tante Anggi yang malahan membanggakan pernikahan putrinya yang akan menikah dengan kekasih dari wanita lain. Memikirkan hal itu membuat hati Ameera terasa seperti di remas kuat-kuat. "Maaf ya kalau ucapan Tony membuat Ibu jadi repot-repot ke sini."

"Tidak masalah..." Miryam meraih sebelah tangan Ameera. "Ingat, kalian telah menikah, jadi Ibu adalah Ibumu juga. Wajar toh jika Ibu mengkhawatirkan-mu juga?" Ucapan Miryam berhasil membuat hati Ameera terasa hangat. Sosok wanita paruh baya ini mengingatkan dirinya kepada sosok Ibunya yang telah tiada.

Setelah pembicaraan tersebut Miryam minta izin untuk istirahat terlebih dahulu dan berjanji akan makan malam bersama. Ameera mengerti dan membiarkan wanita paruh baya itu beristirahat dan segera menghubungi Anthony.

Malamnya Nayla tampak bahagia dengan kedatangan neneknya. Anak perempuan itu terus menempel pada Miryam. Rasa rindu setelah enam bulan lamanya tidak berjumpa membuat Nayla tidak ingin jauh-jauh dari neneknya. Nayla bahkan meminta izin kepada Ameera untuk tidur dengan neneknya malam ini.

"Boleh ya mommy kalau malam ini aku tidur dengan oma," ujar Nayla sambil menatap Ameera dengan mata bulatnya yang seperti kelinci saat mereka sedang makan malam bersama. Tatapan mata penuh permohonan itu tentu saja membuat siapa saja yang melihatnya merasa iba dan akan memberikan apa saja yang diinginkannya.

"Baiklah. Tapi bagaimana kalau besok saja? Oma pasti masih lelah, sayang." Sekarang Ameera merasa dirinya telah menjadi seorang ibu sejak Nayla tidak pernah bosan menemaninya selama ia di rumah. Anak perempuan cantik itu terus membantunya tanpa bosan. Katanya supaya mami cepet sembuh dan bisa segera mengingat Nayla. Hal ini tentu saja menyentug hati Ameera dan sejak itu ia berjanji akan berusaha menjadi ibu yang baik bagi anak perempuan itu. Karena di dalam hatinya Ameera juga merasa iba karena anak perempuan itu telah kehilangan ibunya. Ibu yang sebeneranya. Karena ibu yang saat ini dilihatnya adalah tubuh ibunya saja. Tapi tidak dengan jiwanya.

"Tidak apa-apa kok. Malam ini Nayla bisa tidur sama Oma," bela Miryam.

Di seberangnya Ameera menoleh kepada Anthony. Dengan harapan pria itu akan membantunya. Dan kebetulan pandangan mata mereka bertemu. Saat itulah Anthony sadar jika Ameera membutuhkan jawaban darinya.

"Kalau Ibu setuju, ya aku juga tidak masalah."

"Yaaayyy!!!!!" teriakan sorak sorai dari bibir mungil Nayla memenuhi ruang makan malam itu. Diiringi tawa lolos dari bibir Ameera, Anthony dan Miryam malam itu. Ameera mengedarkan pandangan matanya. Menyadarkannya akan satu hal yang tidak pernah ia miliki selama ini.

Seperti inikah rasanya memiliki keluarga?

Selama enam belas tahun lamanya dia hidup seorang diri. Bahkan sampai lupa dengan yang namanya keluarga. Ibunya yang anak tunggal dan ayahnya yang telah menikah lagi telah melupakan dirinya sebagai seorang putri.

Ameera tersenyum pahit di dalam hatinya. Kamu sangat beruntung Ameera di dunia ini. Memiliki suami yang tampan dan baik, putri yang cantik, dan mertua yang seperti ibu kandungmu sendiri. Lalu apa yang membuatmu menghilang dari kehidupan ini? Apa yang sebenarnya disembunyikan Anthony? Dan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kehidupannya sehingga dia bisa berada di dalam dunia ini? Lalu bagaimana dengan dunianya yang sebenarnya?

***

The Magic RingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang