"Zayan!" panggil Lex dengan suara lantang. "Anjir, suara lo kayak toa masjid, Ge," ejek Davin sambil tertawa. "Kalau nggak gitu, Zayan nggak bakal dengar," balas Lex santai.
"Zayan!" panggil Lex sekali lagi. "Oiiiii!" sahut Zayan dari arah dapur.
Zayan adalah murid pindahan dari Amerika. Ibunya memintanya pindah ke Korea untuk mencari suasana baru. Sudah satu tahun Zayan bersekolah di sini, dan selama itu ia berhasil menjalin banyak pertemanan.
"Nah, kan! Apa gue bilang? Kalau nggak teriak, Zayan nggak bakal dengar," ucap Lex puas. "Kenapa?" tanya Zayan sambil muncul dari dapur dengan segelas air di tangannya.
"Ada paket buat lo," jawab Lex sambil menyerahkan sebuah kotak. "Paket dari siapa? Perasaan gue nggak pesan apa-apa," kata Zayan sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
"Nggak tahu. Cuma tertulis 'dari Amerika' doang," jawab Lex sambil memeriksa kembali kotak itu. "Amerika?" gumam Zayan. Setelah mendengar itu, ia langsung mengambil kotak tersebut dari tangan Lex dan membukanya. Di dalamnya terdapat barang-barang milik Zayan serta sebuah surat.
zayan mengambil surat itu dan membukanya isinya kira kira kayak gini :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari: Mama Untuk: Zayan
Zayan, kamu baik-baik aja, kan, di sana? Maaf Mama nggak bisa antar kamu kemarin karena Mama lagi sibuk. Gimana? Kamu betah di sana? Maaf Mama nyuruh kamu ke Korea. Soalnya Mama nggak tahu lagi harus nyuruh kamu ke mana. Semoga aja kamu betah ya di sana. Kapan-kapan Mama bakal jenguk kamu. Dada, sayangnya Mama :)
Setelah membaca surat itu, Zayan berusaha menahan air matanya. Namun, emosi yang ia pendam akhirnya pecah. Ia menangis, tak mampu menahan lagi.
"Yan, lo nggak apa-apa?" tanya Wain yang melihat Zayan menangis. "Iya, gue nggak apa-apa kok," jawab Zayan sambil mengusap air matanya.
"Gue ke kamar dulu," ucap Zayan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata. Teman-temannya hanya bisa memandanginya hingga ia masuk ke kamar.
"Bang Zayan kenapa nangis, ya?" tanya Leo pada Hyunsik. "Mungkin dia lagi kangen sama keluarganya," jawab Hyunsik singkat.
"Gue juga jadi kangen orang tua gue, kan. Gue pengen makan masakan ibu gue lagi," curhat Sing kepada semuanya.
Saat mereka berbincang tentang keluarga, tanpa mereka sadari, seseorang di antara mereka tersenyum jahat. "Lo kangen orang tua lo? Hhh, enak banget ya jadi lo," gumam seseorang dengan nada penuh kebencian.
Malam harinya, Zayan kembali menerima pesan misterius di ponselnya.
Unknown: Lo kangen sama orang tua lo ya? Kasian banget :(
Zayan: Lo sebenernya siapa sih? Suka banget gangguin gue.
Unknown: Belum saatnya lo tahu. Dan mulai besok, lo harus siap-siap, karena permainan akan dimulai besok :)
Setelah membaca pesan itu, Zayan melempar ponselnya ke kasur dan merebahkan tubuhnya. "Bang, lo nggak apa-apa?" tanya Leo yang sedari tadi memperhatikan Zayan. "Oh, gue nggak apa-apa kok," jawab Zayan dengan nada datar.
"Oh ya, Bang, tadi waktu Bang Zayan buka kotak itu, Leo lihat ada kartu warna hitam. Itu apa?" tanya Leo penasaran.
"Kartu hitam? Kartu apa?" Zayan justru balik bertanya. "Yee, malah nanya balik. Leo kan nanya ke Bang Zayan, kok malah balik nanya," ujar Leo kesal.
"Kartu yang mana? Gue nggak lihat kartu apa pun," jawab Zayan bingung. "Itu, tadi Leo lihat di dalam kotak," jawab Leo sambil menunjuk kotak di atas meja.
Zayan segera mengambil kotak itu lagi dan memeriksanya. Benar saja, ada sebuah kartu hitam terselip di antara barang-barangnya. Setelah dilihat lebih dekat, kartu itu ternyata adalah black card.
"Black card?" gumam Zayan singkat dengan ekspresi datar.
Pagi harinya, Zayan, Leo, dan Hyunsik sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Ting!
Saat Zayan hendak mengambil tas di atas meja, ponselnya berbunyi. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari kantong celana dan membuka pesan itu.
Unknown: Ini saatnya :)
Sesaat setelah membaca pesan itu, terdengar suara teriakan dari arah dapur. Zayan, Leo, dan Hyunsik saling pandang sejenak, lalu berlari ke dapur.
Di sana, mereka terkejut melihat pecahan kaca bercampur darah di depan Sing yang berdiri membeku. "Sing, lo nggak apa-apa?" tanya Leo sambil memeriksa keadaan Sing.
"Ada apa?" tanya Wain, Beomsoo, dan Lex yang baru datang. "Kenapa ada pecahan kaca?" tanya Beomsoo bingung.
"Kita juga nggak tahu. Pas dengar teriakan Sing, kita langsung ke sini, dan pecahan itu udah ada di depannya," jawab Gyumin.
"Anjir, Sing, lo mecahin kaca jendela?" tanya Davin. "Stttt," bisik Hyunsik, meminta Davin diam. Sing tetap bungkam, masih syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.
"Sing, ini beneran lo yang mecahin?" tanya Davin lagi. "Udah, kita bahas ini nanti aja. Sekarang kita ke sekolah dulu. Nanti kita telat. Lagian, Sing masih syok. Mending ceritanya nanti aja," ujar Hyunsik panjang lebar.
Mereka pun meninggalkan dapur, membiarkan pecahan kaca dan darah itu tetap di sana.