04

429 47 6
                                        

Bel tanda istirahat berbunyi, menandakan akhir dari pelajaran. Guru mereka menutup kelas dengan suara tegas namun ramah, "Oke, pelajaran kita cukup sampai sini. Jangan lupa kerjakan tugas kalian, ya."

"Iya, Pak," jawab murid-murid serempak.

Setelah guru meninggalkan kelas, suasana langsung berubah menjadi riuh.

"Yan, kita disuruh ke perpustakaan sama Wain," bisik Hyunsik kepada Zayan.

"Hanya kita berdua? Yang lain gimana?" tanya Zayan sambil membereskan bukunya.

"Yang lain juga, tapi belum gue kasih tahu," jawab Hyunsik sambil menyandang tasnya.

"Ya udah, sekalian aja kita kasih tahu mereka," ajak Zayan sambil berdiri.

"Jadi kita harus turun dulu ke lantai satu?" keluh Hyunsik.

"Iya lah, kan harus kasih tahu mereka dulu," jawab Zayan santai.

Hyunsik menghela napas. "Males banget turun ke lantai satu, terus naik lagi. Capek, tahu."

"Kalau nggak mau, chat aja mereka," usul Zayan sambil tersenyum kecil.

Hyunsik langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan di grup mereka:

Hyunsik: Woi, kumpul di perpus sekarang.
Leo: Ngapain, Bang?
Hyunsik: Datang aja dulu. Nanti gue jelasin.
Leo: Oke, siap, Bang.
Hyunsik: 5 menit!

---

Perpustakaan

Sesampainya di perpustakaan, Hyunsik dan Zayan menemukan Sing dan Wain sudah menunggu.

"Yang lain mana?" tanya Wain sambil melirik jam tangannya.

"Masih di jalan, bentar lagi sampai," jawab Hyunsik sambil duduk di kursi dekat Sing.

Beberapa menit kemudian, Leo muncul di pintu dengan gaya santainya. "Halo, abang-abang kyu!" sapanya sambil melambaikan tangan.

"Lama banget lo. Tadi kan gue bilang 5 menit," protes Hyunsik.

"Yah, tadi mampir dulu beli bakso Kang Jamal. Nggak tahan godaannya," jawab Leo sambil tertawa kecil.

Setelah semua berkumpul, Wain memulai pembicaraan. "Oke, semuanya sudah ada, ya. Jadi gini, gue ajak kalian kumpul di sini buat bahas kejadian yang dialami Sing tadi pagi."

"Eh, bener, lo yang mecahin kaca dapur itu, Sing?" tanya Davin penasaran.

"Bukan, bukan gue," jawab Sing sambil menggelengkan kepala.

"Lah, terus siapa?" desak Davin lagi.

Sing menghela napas sebelum mulai bercerita. "Tadi pagi, waktu gue mau ambil air di dapur, tiba-tiba ada yang ngelempar sesuatu ke kaca dapur. Setelah gue cek, ternyata itu batu yang dibungkus kain. Di dalamnya ada darah."

Semua terdiam, memperhatikan cerita Sing dengan serius.

"Itu yang bikin lo teriak?" tanya Lex.

"Bukan. Yang bikin gue teriak itu... waktu gue lihat ke luar jendela, ada orang pakai topeng yang lagi senyum ke arah gue," jelas Sing.

"Senyum? Orang pakai topeng? Gimana lo tahu dia senyum?" tanya Wain skeptis.

"Matanya," jawab Zayan tiba-tiba.

Semua menoleh ke arah Zayan dengan tatapan heran.

"Kalau orang senyum, matanya bakal kelihatan sedikit melengkung, walaupun pakai topeng," jelas Zayan.

"Asli, nggak paham gue," gumam Gyumin.

"Nggak perlu dipahami, cukup didengar aja," sahut Lex sambil menepuk pundak Gyumin.


VEGEANCE ( xodiac )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang