●●●
Malam yang seharusnya berjalan biasa saja berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Byeon Wooseok.
Dia tidak tahu kapan dirinya mulai kehilangan kendali. Semua terjadi begitu saja—pelukan yang seharusnya hanya untuk pelukan biasa justru berakhir dengan kehangatan yang membuatnya ingin bertahan lebih lama. Wooseok bisa merasakan tubuh mungil gadis itu menempel erat padanya, napasnya yang hangat menyentuh lehernya, serta aroma manis yang samar-samar menyelimuti dirinya.
Hye Yoon, gadis kecil yang selalu dia lindungi sejak dulu.
Namun, saat ini, dia bukan lagi sekadar 'adik kecil' baginya.
Kesadaran itu menghantamnya begitu keras hingga tubuhnya seketika menegang. Wooseok mengerjap, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Apa yang sedang dia lakukan?
Dia menggigit bibirnya, berusaha meredam sesuatu yang mulai muncul di dalam dirinya. Tidak, ini salah.
Dengan gerakan mendadak, Wooseok mendorong tubuh Hye Yoon menjauh darinya. Tidak kasar, tapi cukup untuk menciptakan jarak di antara mereka.
Hye Yoon menatapnya dengan bingung. "Oppa?"
Dia tidak menjawab. Wooseok segera berpaling, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, seakan berusaha menahan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
"aku harus pulang," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih dingin dari yang dia inginkan.
Hye Yoon menatapnya dengan kening berkerut, ekspresinya penuh tanda tanya. "Eoh?"
"Jangan ganggu aku untuk sementara waktu."
Dia bisa melihat bagaimana raut wajah gadis itu berubah. Ada sorot terluka yang jelas di matanya, tapi Hye Yoon tidak membantah. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia hanya mengangguk kecil dan hanya membiarkan wooseok beranjak pergi dari rumah gadis itu.
Pintu tertutup.
Wooseok menutup matanya, membiarkan napasnya keluar dengan berat. Jari-jarinya terangkat ke dahinya, mengusap wajahnya dengan frustasi.
Ini tidak boleh terjadi lagi.
Keesokan harinya
Byeon Wooseok bukan pria yang mudah terpengaruh oleh apa pun. Dia selalu bisa mengendalikan dirinya, menjaga batas, serta tetap rasional dalam segala situasi.
Namun, sejak semalam, pikirannya terus dihantui sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di benaknya.
Dia berusaha mengabaikannya dengan bekerja lebih keras di kantor, tapi tetap saja, pikirna tentang kembalinya sang ibu dan pelukanya terhadap hye yoon masih terngiang-ngiang dikepalanya.
Sial.
Dering ponsel tiba-tiba menyelamatkannya dari lamunannya. Dia mengerutkan kening saat melihat nama yang muncul di layar.
Ayah Hye Yoon.
Tanpa menunda, Wooseok segera mengangkatnya. "Halo, Paman?"
"Wooseok-ah, kau sibuk?"
"Tidak terlalu. Ada apa?"
"Aku ingin meminta tolong," suara di ujung telepon terdengar ramah seperti biasanya. "Bisakah kau menjemput Hye Yoon di rumahnya sore ini? Kami akan mengadakan makan malam keluarga, dan aku ingin kau membawanya."
Wooseok mengernyit. "Makan malam keluarga?"
"Ya, dengan keluarga kita," ayah Hye Yoon menjelaskan. "Aku sudah memberitahunya kemarin, tapi aku khawatir dia lupa."
KAMU SEDANG MEMBACA
TROUBLE MAKER
RomanceMenurut sebagian besar orang jatuh cinta itu indah, memang betul. Tapi, bagaimana jika kau jatuh cinta kepada orang yang tidak mencintaimu? Ya, aku tau itu. Tentu itu sungguh menyakitkan. Namun, itu tidak akan menyakitkan jika kau tidak terlalu bany...
