11

395 52 17
                                        

🤍🤍

Setelah makan malam selesai dan semua orang mulai sibuk dengan obrolan masing-masing, Wooseok berdiri dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah Hye Yoon yang masih duduk di sofa.

"Ikut aku," katanya, suaranya dalam dan sedikit berat.

Hye Yoon menatapnya dengan bingung, tapi dia tetap menurut. Mereka berdua berjalan keluar dari ruang tamu menuju balkon yang sepi di lantai atas vila. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma laut yang lembut. Cahaya bulan membuat bayangan Wooseok terlihat semakin tajam di sana.

"Apa yang ingin oppa bicarakan?" suara Hye Yoon terdengar ragu.

Wooseok tidak langsung menjawab. Dia menatapnya lama, seakan sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Tangan kanannya bersandar di pagar balkon, sementara tangan kirinya bergerak, tanpa sadar menyentuh dagu Hye Yoon dan mengangkatnya sedikit agar gadis itu menatapnya langsung.

"Kau," katanya pelan. "Apa yang kau lakukan padaku, Hye Yoon?"

Hye Yoon mengerjap, jantungnya berdegup cepat. "Maksud oppa?"

Wooseok menghela napas pelan, matanya menatap bibir gadis itu sejenak sebelum kembali ke matanya. Ada ketegangan di sana—percampuran antara rasa ingin menolak dan rasa ingin memiliki.

"Tadi di kolam renang..." suaranya sedikit serak. "Aku melihatmu. Dan sejak itu, aku tidak bisa menghapus bayanganmu dari kepalaku."

Hye Yoon membeku. Pikirannya langsung kembali ke momen di mana Wooseok memergokinya di kolam. Dia merasa wajahnya memanas, tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, Wooseok sudah menariknya mendekat, membuat tubuh mereka nyaris tidak berjarak.

"Aku sudah mencoba menghindari ini," bisiknya. "Tapi kau terus saja ada di pikiranku."

Hye Yoon merasa napasnya tercekat. Tubuh tinggi pria itu begitu dekat hingga dia bisa merasakan kehangatan dari jas yang dikenakannya. Jari-jari Wooseok masih bertahan di dagunya, lalu turun perlahan ke lehernya, menyentuhnya dengan gerakan yang nyaris tidak terasa.

"Oppa..." suara Hye Yoon terdengar goyah.

Namun, alih-alih menjawab, Wooseok hanya menatapnya lebih dalam. Jari-jarinya menyelip ke belakang tengkuk Hye Yoon, menariknya semakin dekat. Hye Yoon bisa merasakan detak jantungnya berpacu, seakan tubuhnya sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Katakan padaku kalau aku harus berhenti," bisik Wooseok di dekat telinganya. "Kalau kau tidak menginginkannya, aku akan pergi."

Namun, Hye Yoon tidak berkata apa-apa.

Sebaliknya, dia justru diam di tempat, bibirnya sedikit terbuka, napasnya tidak teratur. Wooseok menunggu, memberinya waktu untuk menolak. Namun, ketika Hye Yoon tetap diam dan hanya menutup matanya, Wooseok akhirnya menyerah pada hasratnya.

Jarak di antara mereka menghilang sepenuhnya. Bibir Wooseok menyentuh bibir Hye Yoon dengan lembut, menguji, mencicipi. Hye Yoon terkejut, tapi tubuhnya secara naluriah merespons, jari-jarinya mencengkeram lengan jas Wooseok, sementara tubuhnya menempel erat padanya.

Wooseok menggeram pelan saat dia memperdalam ciuman itu, tangannya kini turun ke pinggang Hye Yoon, menariknya lebih dekat lagi. Napas mereka bercampur, detak jantung mereka berpacu dalam irama yang sama.

Hye Yoon bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh pria itu, membuatnya sedikit gemetar. Tapi dia tidak menarik diri. Sebaliknya, dia membiarkan dirinya terhanyut, tenggelam dalam kehangatan dan gairah yang selama ini mereka tahan.

Saat Wooseok akhirnya melepaskan ciumannya, napasnya masih memburu. Dia menatap Hye Yoon dengan mata gelap yang dipenuhi keinginan.

"Ini bukan ide yang bagus," gumamnya, meskipun tangannya masih bertahan di pinggang gadis itu.

TROUBLE MAKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang