12

458 41 20
                                        

🤍🤍

Pagi ini, Hye Yoon menatap dirinya di cermin sebelum berangkat bekerja. Rambutnya yang hitam legam tergerai indah di bahunya, sementara wajahnya tampak segar meskipun matanya sedikit menunjukkan kelelahan. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan aneh yang terus menghantuinya.

Sudah seminggu sejak makan malam keluarga itu. Dan selama seminggu ini pula, Hye Yoon sama sekali tidak bertemu dengan Byeon Wooseok. Tidak di kantor, tidak di ruang pertemuan, bahkan tidak ada kabar apapun darinya.

Awalnya, dia merasa lega. Lagipula, setelah insiden di kolam renang dan percakapan menyebalkan di malam makan malam itu, pertemuan dengan Wooseok bukanlah sesuatu yang dia harapkan.

"Kau harus lebih rajin bekerja, Hye Yoon-ah."

Kata-kata Wooseok terus terngiang di kepalanya. Dia benar-benar mengira pria itu akan membicarakan sesuatu yang penting, mungkin tentang mereka atau setidaknya tentang perasaan aneh yang mulai tumbuh di antara mereka. Namun ternyata, itu semua hanya tentang pekerjaan.

Hye Yoon mendengus kesal.

"Aku benar-benar bodoh," gumamnya pada bayangannya di cermin. "Kenapa aku pikir dia akan membahas sesuatu yang lebih dari itu?"

Dia mengambil tasnya dan bergegas keluar rumah.
-
Di kantor, suasana terasa seperti biasa. Rekan-rekannya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sesekali terdengar tawa dan percakapan ringan di antara mereka. Namun bagi Hye Yoon, semua itu terasa begitu hambar.

Dia memeriksa ponselnya untuk kesekian kalinya. Tidak ada pesan atau panggilan dari Wooseok. Bahkan tidak ada sekadar pesan formal tentang pekerjaan.

"Mungkin dia memang sengaja menghindar," pikirnya.

Hye Yoon mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak peduli. Toh, tanpa kehadiran pria itu, hari-harinya justru terasa lebih tenang. Tapi anehnya, ada perasaan tidak nyaman yang mulai mengganggu.

Setiap kali dia melewati ruang kerja Wooseok yang kosong, ada dorongan kecil untuk bertanya pada orang-orang di sekitar tentang keberadaan pria itu. Namun, harga dirinya menahannya.

"Dia hanya kakak sepupumu Hye yoon-ah, Hye Yoon. Jangan bertingkah seolah kau peduli."

Namun, semakin dia mencoba mengabaikan perasaan itu, semakin kuat rasa gelisah di hatinya. Wooseok bukan tipe orang yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan.

"Dia baik-baik saja, kan?"

Pertanyaan itu melintas di benaknya, membuatnya semakin gusar. Namun, dia menepisnya cepat-cepat. Tidak mungkin dia mengkhawatirkan pria itu setelah semua sikap menyebalkannya.

Hye Yoon menghela napas panjang, berusaha fokus pada pekerjaannya. Tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu bahwa ketidakhadiran Wooseok telah meninggalkan ruang kosong yang sulit untuk diabaikan.
-
Di sisi lain, suasana di sebuah bar kelas atas terasa begitu mewah dan eksklusif. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan lembut di sepanjang dinding, sementara dentingan gelas-gelas kristal dan alunan musik jazz menambah kesan elegan di ruangan itu.

Di dalam VIP room yang dipenuhi aroma wiski mahal dan parfum wanita, Byeon Wooseok duduk dengan tenang di sofa kulit berwarna hitam. Tangannya memegang gelas berisi cairan keemasan yang berputar perlahan seiring gerakan jemarinya. Matanya menatap kosong ke arah meja di depannya, seakan tak memedulikan keramaian di sekitarnya.

Di pangkuannya, dua wanita dengan gaun mini berwarna merah marun duduk begitu dekat. Bibir mereka yang dipulas lipstik merah mencolok membentuk senyum manis yang penuh godaan. Dada mereka yang sengaja ditonjolkan hampir menyentuh bahunya, namun Wooseok tak memberi reaksi apa pun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TROUBLE MAKERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang