[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual.
When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi! I always hope y'all like what i wrote here. Tolong bayar dengan vote dan komen yaa! 🤍
— PART INI DIBUAT UNTUK MENGENAL ZAKIEL. Cari posisi ternyaman biar bacanya lebih enak, lagunya pilih sesuai selera kalian.
Mengenal beberapa waktu ke belakang.
Hitam mengacu pada kegelapan, suram, sunyi, sesuatu yang kehilangan cahaya. Kesan-kesan yang bertolak belakang dengan warna cerah lainnya. Pun, dikaitkan dengan makna berkabung, sampai kehidupan yang buruk.
“Apa?” Kazael bertanya. Ketika membawa diri pada suatu ruangan yang ternyata penghuninya tengah bersantai di ranjang, cowok tersebut tak menampakkan keterkejutan, melainkan memberi respon yang amat menjengkelkan bagi si pemilik kamar.
Zakiel mendengus dingin. Melempar ponselnya asal dan beranjak. Berdiri tak jauh dari Kazael dengan kedua tangan bersedekap didada. “Lo nginep?”
“Ambil baju.” Manik mata hitam Kazael mengamati benda-benda sekitar, dia berjalan lebih masuk ke dalam dan ditanggapi decakan keras oleh Zakiel yang sepertinya keberatan dia memasuki kamar tanpa izin, tetapi Kazael tak peduli. Tangannya menyentuh figuran yang masih tertata di atas meja panjang, sudut bibirnya berkedut hingga menciptakan seringai kecil.
Sebagai pemilik kamar Zakiel mengamati pergerakan kembarannya agar tak menimbulkan kerusakan pada benda yang dia jaga. Cowok itu menyandarkan sisi tubuhnya pada dinding didekat ranjang, pandangannya seakan-akan dapat melubangi punggung tegap yang entah sedang berbuat apa dengan figurannya. Alih-alih mereka berbincang santai selayaknya kembaran diluar sana, keduanya seperti dua tanda api yang dipaksa menyatu. Perangai yang hampir serupa menjadi alasan utama mengapa mereka sulit berdiskusi dengan baik. Meski beberapa waktu bisa terjadi, tetapi setelahnya akan ada 'pertunjukan' tak terduga yang dialami.
Waktu seolah melambat. Ada jutaan kenangan dimasa kecil yang menjadi kenangan manis terakhir sebelum hari kesialan itu datang. Zakiel menatap lekat wajah Kazael ketika saudaranya berbalik. Tinggi mereka hanya terpaut satu centi, Zakiel unggul untuk hal tersebut. Sebuah pertanyaan terlontar. “Sampai kapan lo keras kepala?” Pertanyaan ini hanya mengarah pada satu titik yang sama sejak tahun-tahun berlalu.
Tangan Kazael mengambang saat akan meletakkan satu figuran yang dia pegang, lalu detik kelima baru lah benda tersebut kembali pada tempatnya semula. Tidak langsung menjawab, Kazael balas menatap pada Zakiel dengan sorot setajam elang. “Jangan nanya gue kalau lo sendiri juga muak napakin kaki disini.” ucapnya dengan nada dingin.
Helaan napas berat terdengar. “Gue tau.” Seperti jawaban sebelumnya, masih tersisa kekecewaan mendalam dan kebencian yang kian berkembang tiap detiknya.