37 - mon chéri

903 52 5
                                        

Tersisa tiga hari libur sebelum perayaan.

Naleeya tersenyum senang, hal yang pertama kali dia lihat ketika membuka pintu mobil adalah sebuah buket bunga tulip besar yang indah bersama dengan beberapa hadiah mewah dan camilan manis. Masih menetralkan keterkejutan, tak ada kata-kata yang dapat terucap selagi dia masih mencoba untuk tenang. Zakiel tak pernah absen memberi letupan gembira dalam hidupnya.

Cowok itu berdiri di sebelah Naleeya, memandang lekat dan tangannya terulur untuk membenahi helaian rambut Naleeya, meski tidak ada yang salah dari tatanan rambutnya hari ini, dia hanya menyukai bagaimana telapak tangannya menyentuh rambut halus kekasihnya.

“Hadiah akhir tahun.” ujar Zakiel.

Menggelengkan kepala. Naleeya meletakkan kedua tangannya di pinggul. Menatap galak. “Hadiah kamu yang sebelumnya masih banyak yang belum aku buka, Aarash. Kamu kirim barang setiap minggu dan itu dalam jumlah yang nggak sedikit.” ujarnya. Naleeya bukannya tidak senang ketika Zakiel memberikan hadiah, tetapi karena pemberian cowok tersebut kamarnya menjadi lebih sempit dari sebelumnya sebab dipenuhi tumpukan barang mewah yang tiada habisnya berdatangan.

Zakiel merentangkan kedua tangan, isyarat pada Naleeya agar perempuan tersebut masuk dalam dekapannya. Naleeya menurut, menubruk dada bidang yang nyaman tersebut dan memeluk erat. Masih lanjut memprotes. “Aku sampai bingung mau taruh dimana lagi barang-barang dari kamu.”

Naleeya tersenyum, menoel ujung hidung mancung Zakiel dengan tatapan iseng. “Aku senang banget, Aarash, terima kasih banyak gantengku! Tapi, lain waktu kasih sesuatu secukupnya aja ya, bahkan barang yang aku kasih juga belum ada setengahnya dari yang kamu kasih.”

“Bawel.”

“Aarash!” Naleeya marah.

“Yes, dear.”

Dan, luluh dengan mudah.

Kekalahan telak.

Zakiel mudah meruntuhkan pilar kewarasannya, membuatnya salah tingkah dan berakhir berusaha keras menahan senyum. Tak menanggapi ucapan cowok tersebut.


Perempuan itu masih menggandeng lengan Zakiel dengan perasaan hangat yang menggebu-gebu tiap detik saat bersama cowok tersebut. Zakiel tak mau kalah, merengkuh lebih dekat tubuh perempuan tersebut dan membelai lembut sisi pinggangnya.

Naleeya kemudian bertanya saat mendongak. “Kita mau kemana?”

Zakiel menggiring Naleeya untuk masuk ke dalam mobil setelah memindahkan buket besar ke kursi belakang dan beberapa hadiah ke bagasi. “Nanti juga tahu.”

Zakiel dan Naleeya banyak membahas hal menarik dan perencanaan masa depan yang menyenangkan. Naleeya lebih banyak memberi saran, perempuan itu tak henti-henti memberikan ide dan gagasan menarik yang mampu membuat Zakiel mengangguk saja. Kedua tangan mereka bertautan disepanjang jalan. Rindang pepohonan besar di dua sisi membuat suasana lebih sejuk dan segar.

Satu setengah jam menyusuri jalanan. Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.

Suara debur ombak yang menghantam tepian pantai berirama menjadi alunan musik yang menenangkan, berpadu sempurna dengan semilir angin sepoi-sepoi yang membawa harum asin lautan.

Naleeya melebarkan kelopak mata, bola mata birunya memancarkan antusiasme tinggi yang membara, dia keluar dari mobil dengan penuh semangat, meninggalkan Zakiel yang hendak membukakan pintu untuknya dan hanya dapat geleng-geleng melihat tingkah kekanakan tersebut. Naleeya menghirup rakus aroma laut dan pohon kelapa, dress motif bunga yang memamerkan lekuk tubuhnya yang cantik berkibar.

Exquisite Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang