“Lo tau body tuh cewek, kalau ngebayangin udah bikin ngaceng, anjir! Sedep banget kayaknya kalau di cobain.” Seorang siswa dengan seragam tak taat aturan berbicara pada teman-temannya sambil tertawa puas. Menerawang jauh pada satu objek yang mudah memantik gairahnya. “Apalagi dadanya, beuh, kalau lo perhatiin lagi segini mah ada kali.” Dia memperagakan sebuah bentuk bulatan besar dengan tampilan senyum mesum. Dion terbahak-bahak di kursinya. Puas membayangi apa yang ada dalam otaknya.
Di kursi lain. Temannya menggelengkan kepala beberapa kali dengan pola pikir kotor Dion yang sudah mendarah daging, meski sama halnya dengan cowok tersebut tetapi, Tama, lebih waras untuk tidak secara gamblang menunjukkan kemesuman di depan umum.Tama memberi komentar seperti biasanya, di selingi wajah muak. “Di, lo berlebihan peragainnya. Liat sekitar juga, barangkali nanti ada yang aduiin lo karena ngomong kotor kayak tadi.” katanya, memperingati. Tetapi Dion nampak tidak peduli.
“Tau! Kayak yang pernah pegang langsung aja lo, dasar omes!” sahut temannya yang lain.
Dion menggeleng, senyum manis menghiasi wajahnya. “Ah, nggak! Emang bener segitu dari pengamatan gue pribadi. Jadi pengen jajal remes. Lagian, si Naleeya udah pasti perawan —”
Sisa kalimatnya terpaksa tertinggal. Sebuah pukulan mendarat di wajahnya bertubi-tubi dengan keras. Jeritan para murid lain selaras dengan pukulan yang menargetkan mulut Dion hingga kedua sudutnya berdarah dan bibirnya bengkak parah, namun hal itu belum juga menyudahi keberingasan seseorang yang menyerangnya.
Kantin menjadi tak kondusif. Orang-orang melihat penasaran, sebagian lagi memilih untuk berlari keluar agar tak melihat bagaimana Zakiel meloloskan tinjuan mautnya dengan mudah kepada Dion.
Mulanya, Zakiel sama sekali tak menghiraukan apa yang sedang dibicarakan oleh pengisi di meja sebelah, dia sibuk menikmati pesanannya yang datang beberapa menit lalu sambil bertukar kabar dengan kekasihnya. Pembahasan kotor semacam itu memang sudah biasa terjadi diantara kaumnya, Nejiro dan Petra juga sering kali menjadikan hal tersebut bahan obrolan. Hingga sebuah nama yang disebutkan membuat darahnya mendidih, kepalanya panas dan terbakar detik itu juga, emosi tak dapat ditahan, segera tanpa kata permisi atau perlu disesali dia memberi penghakiman pada Dion yang telah lancang mengatai tak pantas pada Naleeya. Dia marah karena ternyata sejak awal pembicaraan, kekasihnya yang dijadikan alasan mulut busuk Dion berbicara yang kurang ajar.
“Brengsek! Masalah lo apa!?” Raung Dion. Dia mencoba berdiri dengan banyak usaha, menahan serangan Zakiel yang brutal dengan napas terengah-engah. Hampir mati dipukuli dalam posisi berbaring tadi.
Nyatanya, pertanyaan itu cukup dinilai mengesankan oleh Zakiel. Dion berlagak seakan tak mengetahui kesalahannya dimana sementara kematian menunggunya di ujung langkah.
Zakiel menahan pukulan Dion yang akan menyerangnya, memelintirnya ke belakang punggung Dion dan menendang perpotongan dengkul belakang hingga kini posisi cowok tersebut berlutut sambil menahan kesakitan pada tangannya yang berputar dan terasa akan patah jika tidak dilepaskan.
“Lo bahkan nggak liat tempat. Gue cowoknya Leeya, kata-kata sampah lo barusan bikin gue mual. Mau gue ludahin atau gue robekin mulut lo?” Tangan Zakiel yang bebas tak tinggal diam, menjambak kuat rambut Dion hingga cowok itu berteriak nyaring dengan menggumamkan kata 'sakit'.
Bagi Zakiel, apa yang dia lakukan tidak sebanding dengan penghinaan tak bermoral yang Dion peruntukan untuk kekasihnya didepan orang-orang. Dia kira, setelah kasus Bagas dan beberapa oknum nakal yang sebelumnya melontarkan kata-kata tak pantas untuk Naleeya sudah berakhir, namun dia masih menemukan komplotan serupa yang bahkan lebih menjijikkan. Apa-apaan dengan berani membayangkan dia bersetubuh dan menjajal memegang payudaranya itu!
Dion tertawa. Mengerti alasan mengapa Zakiel tiba-tiba menyerangnya. Tertarik pada hal lain. Dia tersenyum miring. “Mending lo kasih tau gue gimana rasanya? Yah, nggak masalah kalau lo yang pertama nyobain tuh cewek, lagian zaman sekarang yang perawan — anjing, anjing!” Mengumpat saat rambutnya semakin keras ditarik hingga rasanya seperti akan terlepas dari kulit kepala. Dion mencengkram tangan Zakiel yang bertahan di kepalanya. Teman-temannya tak bisa melakukan apapun, melawan Zakiel disaat sedang emosi setenang lautan adalah cara mudah menghadap kematian. Konsekuensi bukan sekedar kata, Zakiel akan mewujudkannya dalam bentuk karma terburuk, beberapa berita mengenai Zakiel yang kejam sudah tersebar dari mulut ke mulut, tentu mereka berpikir ulang untuk tidak mencoba bersikap sok pahlawan dengan menengahi perkelahian keduanya. Memberi pembelaan pula akan nampak tak berguna sebab apa yang Dion ucapkan merupakan kesalahan cowok tersebut yang tak berpikir sebelum membuka mulut, jadi teman-teman Dion hanya dapat meringis prihatin saat melihatnya dipukuli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Exquisite
Teen Fiction[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual. When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
