[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual.
When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🎧 Liability — SWIM. Curse anyone who doesn't support this story.
“Rokok?”
Zakiel menggeleng tegas ketika Ozzie menawarkan sebungkus padanya. “Nggak.”
Terkejut sesaat. Ozzie tersenyum remeh. “Kalau lo nolak nggak sampai lima menit nyomot sebatang, mau gue ketawain di kuping kanan apa kiri?” Dia menjamin kalau Zakiel tidak benar-benar bisa menahan hasrat untuk menghisap barang nikotin tersebut.
Alih-alih menyesal, Zakiel justru menampilkan senyum khas dibarengi ekspresi serius. “Kalau seharian gue nggak ngerokok, lima juta lo masuk rekening gue.” taruhnya.
Zakiel bukanlah sosok yang mudah ditantang. Kecuali itu melibatkan harga dirinya yang dijunjung tinggi, taruhan bukan jalannya kecuali dia ingin, maka dengan menantang balik dan menyuarakan sistem materialis lebih dia akan sangat senang menyetujui ucapan Ozzie. Uangnya tidak sungguhan dia gunakan secara pribadi, Zakiel tidak kekurangan lembaran kertas berwarna tersebut, kadang hal tersebut hanyalah sebuah pancingan semata agar temannya tidak lagi bersikap meremehkan apa yang dia lakukan.
“Kecil segitu mah. Coba aja kalau bisa.” sahut Ozzie. Dia bertaruh senilai lima juta, namun bukan sebuah perkara besar. Harga yang sebenarnya tidak sebanding dengan penggadaian hasrat alami manusia, terutama kaumnya pada barang batangan tersebut.
Sekilas melirik, Zakiel meneguk secup cappucino dan meletakkannya kembali ke atas meja. “Leeya nggak suka asap rokok.” jawabnya.
“Calon-calon bucin mampus.” Petra berkomentar. Mendadak isi kepalanya membayangkan bagaimana sosok seperti Zakiel yang akan berlutut dihadapan sang pujaan, kemudian tiap bertemu mengatakan ungkapan kasih dan sentuhan sayang, yang sialnya hampir membuat Petra memuntahkan isi perutnya, merasa mual serta merinding. Tidak kuat hanya dengan sekilas bayangan absurd yang hadir. Sama sekali tidak cocok untuk perangai keras serta dominan Zakiel yang terlihat.
Nejiro tertawa kecil, mengibaskan tangannya. “Biarin aja lah, buat pengalaman.” Berkedip sebelah mata, cara instan menggoda temannya. Zakiel mendengus, segera mengedarkan pandangan ke sisi lain dengan gerutuan dalam hati.
“Satu pertanyaan pasti nih.”
Meski Zakiel enggan menanggapi, gerakan kepalanya yang naik turun justru menjadi respon otomatis hingga Petra menatapnya lebih serius.
Walau agak ragu karena paham bagaimana reaksi temannya yang tidak akan membenarkan juga menyanggah, tetapi Petra tetap mencoba, isi kepalanya sudah tak kuat lagi menampung pertanyaan yang sama dengan segudang spekulasi acak terbentuk. Dia membasahi bibir bawahnya dulu sebelum mulus bertanya, “Tapi belum pacaran?” Nyatanya, ketika lontaran pertanyaan tersebut terucap, respon yang sudah diwaspadai Petra dan siap disergap cercaan pedas justru sirna begitu saja mendengar sahutan teramat singkat Zakiel.