Tampilan wajah bodoh Nejiro diabadikan dalam potret yang sengaja diambil oleh Ozzie. Cowok itu menyimpan ponselnya kemudian. Perbuatan iseng yang tak diketahui siapapun.
Arah mata Nejiro mengikuti satu temannya yang dari lima belas menit lalu mondar-mandir sambil menggerutu setelah mencoba menghubungi seseorang tetapi tak mendapat jawaban. Nejiro berdecak karena merasa lehernya kram. “Lo napa anjing? Uring-uringan gitu, pantat lo bisulan? Duduk coba.”
“Mulut lo ngomong yang benar.” sahut Petra masih dengan tingkah yang sama. Lalu, ketika Zakiel menyuruhnya untuk duduk, ajaibnya cowok tersebut menurut tanpa wajah atau kata-kata protes. Mengambil tempat di sebelah Ozzie. Ke empat sedang berada di dalam apartment Zakiel. Seperti biasa, hanya menghabiskan waktu bersama dengan candaan super garing. Tapi kali ini suasana terasa berbeda. Petra ketara gelisah dan terus-menerus mendesah panjang. Lalu berakhir bergerak seperti tadi hingga Nejiro jengkel melihatnya.
“Masih nggak bisa dihubungin?” Ozzie bertanya yang diangguki oleh Petra. Yah, semua tahu alasan mengapa Petra bertingkah demikian.
Mulut Nejiro membulat kecil sembari manggut-manggut. Mengerti sumber mengapa Petra kelihatan tidak tenang seharian ini. Dia berdehem ringkas. “Sibuk belajar kali. Mau test kelulusan ini kita.” Bukan ranahnya lagi jika sudah berkaitan dengan perempuan tersebut, sebuah nama yang hanya akan membuat Nejiro dan Petra berada dalam kecanggungan.
“Nggak usah sok tau!” Petra menatapnya sinis.
Nejiro tak mengerti kenapa hanya padanya cowok itu bersikap selayak api yang berkobar-kobar ingin membakar dirinya. Dia melempar kulit kacang ke arah Petra. “Yeuh, preman! Dibilangin kok galak bener.”
“Coba tanya temannya, Naleeya kalau nggak Kalula.” usul Ozzie.
“Udah. Mereka bilang nggak tau. Mereka juga udah telpon tapi nggak pernah di angkat, anaknya juga absen udah seminggu ini.” Petra kehilangan jejak Disha. Perempuan itu sama sekali tidak bisa dihubungi, pesan-pesan dari kemarin belum juga terbalaskan. Membuat Petra khawatir dan gundah gulana sendiri.
“Buset ngilangnya mantep amat.” celetuk Nejiro. Lantas sudut matanya berkerut. Telunjuknya menuding penuh terhadap Petra. “Lo bikin ulah kali.”
“Nggak.”
Nejiro menghela napas. Dia tahu apa yang dirasakan Petra. Berujar lebih serius. “Barang kali lo ngobrol sama cewek mesra-mesraan terus si Disha liat abis itu patah hati ngurung diri di kamarnya.”
Petra termenung. Seingatnya, dia tidak pernah bercengkrama mesra dengan lawan jenis, kalau pun ada hanya berbicara saja tidak lebih. Petra juga tidak suka bersentuhan dengan orang asing. Beberapa kali bahkan Disha ada untuk menemaninya disaat-saat sejumlah siswi berani mengajaknya bicara. Tentu, karena adanya Disha, pengusiran dilakukan hingga membuat mereka berakhir berlari terbirit-birit sambil meneriakkan kalau Disha adalah nenek sihir.
“Udah ke rumahnya?” Zakiel bertanya. Kedua kakinya bertumpu pada meja, duduk setengah berbaring. Telanjang dada seperti biasa.
Petra menggeleng untuk pertanyaan tersebut. Sukses mengundang tatapan bingung dan bertanya-tanya dari teman-temannya.
“Oh, monyet, monyet!” Nejiro paling bereaksi heboh. Dia berdecak keras. Tak mau mengakui memiliki teman kelewat dungu seperti Petra. “Lo nyari cuman modal telpon sama chat doang? Kelamin lo kemana? Malu-maluin sesama konti aja lo, bangsat!” Hardiknya kesal. Dia berdecih karena menilai kalau Petra masihlah pengecut. “Temuin langsung lah. Kali aja dia juga nunggu lo datang ke rumahnya.”
“Nggak semudah itu.” sahut Petra frustasi. Sungguh, jika bisa sudah sejak hari pertama Disha tidak ada kabar Petra akan menemui perempuan itu dirumahnya. Tetapi, orang tua Disha begitu ketat menjaga sang putri, menempatkan sejumlah penjaga bertubuh kekar di depan gerbang selain satpam pribadi. Akses masuknya bukan sembarangan. Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan mendatangi rumah Disha. Orang tuanya tak memberi izin pada Petra untuk menemui putri mereka lagi setelah kesalahpahaman terjadi diantara mereka. Agaknya, Disha juga belum menjelaskan apa yang terjadi pada orang tuanya, makanya agak sulit bagi Petra untuk menembus keamanan disana. Meski begitu, dia telah memikirkan cara nekat dengan pengorbanan yang dikira-kira, hanya tinggal yakin sedikit lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Exquisite
Ficção Adolescente[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual. When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
