“Lo nggak mau kasih peringatan? Dia udah beberapa kali celakain cewek lo.” Ketika berbicara, asap dari rokok mengepul ke udara. Ozzie duduk santai di kursi tunggal dekat balkon dalam kamar Petra, pemiliknya sedang mandi, meninggalkan dua temannya yang terlibat perenungan pada pikiran masing-masing. Lalu Ozzie tertarik untuk membahas hal yang masih menjadi sumber kebingungan, sebab temannya sampai sekarang belum mengambil tindakan untuk penghakiman.
Zakiel menuangkan soda pada gelas kecil yang tersedia. “Ada waktunya.” Gerakannya begitu santai.
Ozzie memperhatikan dengan teliti. Mungkin, ada desakan lain yang membuat cowok tersebut lebih lama menjalankan aksinya untuk melenyapkan seseorang. Dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, pasalnya Zakiel adalah sosok bringas yang tak kenal ampun, siapapun yang berani mengusik maka berani mati. Dan, ketika cowok tersebut justru berleha-leha dan membiarkan targetnya berkeliaran mengancam di sekeliling kekasihnya, sesungguhnya merupakan sesuatu yang cukup mengejutkan. “Lo mengulur terlalu lama.” komentar Ozzie. Ada satu kejanggalan yang mengisi kepalanya saat ini. “Jangan bilang cewek lo udah tau? Dan, dia yang nahan lo supaya nggak nyakitin temannya yang jahat itu.” Matanya memicing.
“Leeya bakal benci seandainya gue bunuh dia.” Zakiel membenarkan. Jika tidak, sudah sejak awal dia menghilangkan nyawa targetnya.
“Lo mulai peduli penilaian orang lain?” Ozzie tersenyum remeh. Tidak mengejutkan untuk yang satu ini, mengingat bagaimana gilanya Zakiel untuk memiliki Naleeya dan berhasil menjerat perempuan tersebut pada pesonanya. Juga, perubahan beberapa sikap. Ozzie menekan ujung rokoknya ke asbak, mengepulkan asap terakhir, lalu memberitahu. “Gue amati beberapa hari terakhir dia jadi lebih terang-terangan buat terlibat langsung, di beberapa situasi malah jadi korban. Tapi nggak tau juga, mungkin cuman kebetulan.”
Hanya didengarkan, tidak mendapat balasan. Zakiel telah menerima laporan dari beberapa orang yang dia perintahkan untuk mengawasi targetnya. Namun, pada beberapa waktu akan ada celah yang dipergunakan si target untuk tetap mencoba mencelakai Naleeya. Hingga musibah kecil tak dapat dihindari.
Ozzie menggosokkan jari telunjuknya di dagu. “Petra tahu?”
“Kayaknya nggak.”
Lalu hening. Tak berselang lama pintu kamar terbuka kasar dan menampakkan seseorang yang masuk tanpa sopan santun, duduk diatas kasur si pemilik kamar yang kebetulan selesai membersihkan diri. Aroma khas menyebar sampai membuat Nejiro mengendus rakus.
“Datang-datang muka lo lecek amat.” Petra menyindir. Hanya mengenakan celana panjang bahan sementara tubuh atasnya telanjang. Dia melangkah ke arah Zakiel untuk mengambil minum sembari mengusak-ngusak rambutnya yang basah dengan handuk. Membuka klip kaleng soda dengan ibu jari lalu meminumnya.
Nejiro menopang dagu. Menerawang pada situasi sebelum dia datang kemari. “Gimana cara yang ampuh bujuk cewek marah?” Tanyanya skeptis.
“Ciuman.”
Jawaban kompak ketiga temannya membuat Nejiro melotot horor. “Tolol lo semua.” Dia menghina sambil mengusap wajahnya kasar tiga kali. Lantas bergerak kaku dengan wajah pucat, menyadari ada yang janggal. Sepasang matanya menatap wajah ketiga temannya yang masing-masing menampilkan sebuah seringai aneh. Kelopak matanya kembali melebar. “Yaha ketauan, berarti lo pada sering begitu ye.” Dia geleng-geleng dengan tangan membekap mulut tak percaya. Berlakon dramatis hingga Ozzie memutarkan bola matanya malas.
“Siapa cewek lo?” tanya Petra.
Nejiro menggeleng ribut, mengartikan bahwa dia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan Petra barusan. Tetapi mengatakan alasan mengapa dia meminta saran untuk membujuk seorang perempuan yang sedang marah. Nejiro bercerita singkat. “Luina marah gara-gara gue nggak sengaja jatuhin lampu idol-idol dia itu. Mana nangis kenceng banget lagi, gue di usir sampe gerbang sambil di maki-maki. Sebelumnya dia nggak pernah se-histeris itu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Exquisite
Novela Juvenil[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual. When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
