30 | November. Pesta Perayaan Kelulusan Angkatan Tahun xx - xx.
“Suara lo fals.” Komentar pedas menyakitkan menghentikan suara yang melantunkan bait-bait lirik.
“Anjing! Penghinaan nih bisa kena pasal tindakan tidak menyenangkan!” Petra memegang dadanya karena merasa tersakiti di ulu hati, memandang Nejiro yang barusan memberi komentar dengan dramatis. “Sial, dada gue sakit.”
Nejiro menaikkan satu alisnya menantang. “Gue bilang kenyataan.” Cowok itu menggulung lengan kemeja batik warna maroon hingga siku, memakai hand cream beraroma caramel. Suasana hatinya sedang bertarung, diantara baik dan tidak, dengan sejumlah alasan yang mendasari sehingga respon atau tingkahnya dapat berubah seperkian detik.
Petra berdecak. Kali ini cowok tersebut memakai setelan kemeja dan jas senada berwarna hitam, menikmati malam perayaan kelulusannya dengan wajah lebih cerah. “Iya dah yang jadi vokalis band, suaranya merdu kayak kicauan burung gagak.” Memberi lirikan sinis diakhir kalimat, sayangnya belum cukup membuat Nejiro mengalihkan perhatian yang sedang meminum botol mineral di atas meja entah milik siapa.
“Lo bakal tampil diawal atau akhir?” Ozzie bertanya. Potongan rambutnya mengguncang sejumlah siswi yang spontan memekik histeris kala melihatnya dengan penampilan baru yang memukau, Petra bahkan telah belasan kali memujinya dan meminta saran seputar gaya rambut yang cocok untuk dirinya. Ozzie dengan baik memberi beberapa pilihan pada temannya tersebut. Dia memakai kemeja biru tua dengan dasi yang sama, jas hitam tersampir di sisi bahu.
Nejiro berpakaian berbeda sebab perlu menampilkan bakat hebatnya lebih dulu. Cowok itu menjawab dengan decakan jengkel. “Entah. Yang penting tampil dah. Bangsat emang, gue udah bilang nggak mau tapi mereka tetap maksa jadiin gue vokalis bareng Fabian.” Keluhnya.
“Tumben di paksa mau.” ujar Petra. Dia menawarkan kue kering pada Zakiel yang tentu di tolak singkat oleh temannya tersebut.
“Orang mereka bawa si Luina. Mana ngadu-ngadu nggak jelas lagi, sue emang.” balas Nejiro.
Petra terkekeh. Wajah herannya nampak. “Luina doang lo kalah?”
“Jeh, dia anak kesayangannya Mami asal lo tau, gue yang anak kandung aja kalau ada tuh bocah bakal tersingkirkan, kalau dia ngadu bakal didengar sama Mami. Anaknya special tau, pake telor dua.”
“Anjay jokesnya receh banget.” Petra tertawa geli. “Berarti lo anak pungut. Nemu di selokan waktu bayi.”
“Jokes basi!” sembur Nejiro.
“Nggak ada jedanya liatin poto-poto itu dari tadi.” Petra di sebelah Zakiel mengintip apa yang sedang bocah tersebut lakukan hingga melewatkan sejumlah obrolan dan menutup rapat mulutnya. Hingga dia mengetahui alasan dibalik samar-samar wajah datar Zakiel menerbitkan sebuah senyum. Zakiel sedang memandangi banyaknya potret yang ditangkap oleh ponselnya saat hari kelulusan mereka berlangsung. Disana, sejumlah pose menghasilkan keserasian yang indah di pandang. Dari potret Zakiel merangkul mesra pinggang Naleeya, saling menautkan tangan, saling beradu pandang, berpelukan, hingga gaya dimana Zakiel mengangkat tubuh Naleeya ala bridal style dengan wajah bangga. Masih banyak yang tak bisa disebutkan. Diam-diam Petra menarik sudut bibirnya singkat. Naleeya nampak berkali-kali lipat mempesona dalam balutan kebaya cantik berwarna pastel yang pas di tubuhnya.
“Cewek gue cantik.” ujar Zakiel. Masih memfokuskan perhatian pada potret yang dia puja-puja salah satu objeknya. Tiada henti.
Mendengarnya, ketiga teman Zakiel menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Nejiro paling mencolok dengan wajah khasnya. Delikan sinis tak dapat disembunyikan. “Gue ada dua reaksi. Mending pukul kepala si Kiel atau siram pake air es mukanya?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Exquisite
Ficção Adolescente[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual. When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
