[ ada banyak conversation bing ya teman-teman, kalau ada yang salah tolong koreksi sekalian ] — About You, The 1975 for this chapter! 🤍
Akhir pekan yang sibuk di penghujung hujan, udara begitu dingin hingga terasa menusuk tulang. Di kedatangan langit malam pada bumi, orang-orang mulai terlelap lebih awal, menikmati sejuknya udara yang memainkan melodi penghantar tidur yang apik.
Namun, di sudut kota, jauh dari keramaian, mansion megah kini sedang dalam masa resah berlanjut. Salah satu tuan muda mereka mengatakan akan bermalam di salah satu kamar. Lalu, di kesempatan lain, remaja muda yang dihormati itu kini sedang berdiri gagah dan tegap dengan tubuh atasnya dibiarkan tanpa pakaian, berpijak di tanah luas tepat di samping rumah kaca. Beberapa pelayan wanita yang masih harus memantau pergerakan Zakiel berdiri dengan cemas di belakang cowok tersebut, mengigit jari akan tingkahnya yang tentu tak dapat di tahan mudah oleh mereka. Mengesampingkan perasaan takjub terhadap bentuk otot perut pemuda tersebut. Mbak Aas selaku pelayan yang lebih akrab pun sungkan untuk menahannya, dia menerima perintah dari mayor untuk menggiring para pelayan masuk ke dalam, meninggalkan Zakiel dengan urusannya memberi 'hadiah' pada bawahannya.
Zakiel menatap tajam, tatapannya memberikan kesan yang jelas tidak bersahabat, sombong, penuh ambisi dan mampu menekan rasa percaya diri lawan bicaranya untuk mundur. Ketidakpuasan adalah akar dari makna tatapan tajamnya pada satu objek yang berdiri sejauh sepuluh meter darinya. Zero, orang kepercayaan Zakiel yang selalu dapat diandalkan hari ini memberi informasi yang tidak mengenakkan sehingga membuat telinga Zakiel malas mendengarnya sama sekali. Informasi yang tidak memuaskan. Terlalu aneh dan dangkal.
Lemparan pisau itu mengenai apel hijau di atas kepala Zero. Pria itu tetap mempertahankan keteguhannya dengan berdiri di posisinya tanpa bergerak sedikit pun. Lalu lemparan kedua meleset melewati sisi wajahnya, otomatis menahan napas sekejap, sedikit lagi mata pisau itu dapat memberi goresan panjang disana. Zero mulai merasakan tekanan kuat, dia tahu Zakiel mungkin sengaja melakukannya untuk memperingatinya. Zero berusaha keras menelan ludah, butiran keringat membasahi dahi. Dibanding berada dalam tekanan seperti ini, Zero lebih baik menerima duel bersama lima atau tujuh orang sekaligus diatas ring tinju. Setidaknya, serangan-serangan mereka dapat terbaca dengan mudah atau dihindari, sementara Zakiel memberi gerakan yang tak dapat Zero prediksi dengan akurat.
"Gue harus bilang ini. You have been very disappointed this time, Zero." Suara serak terdengar di telinga Zero. Dia menatap Zakiel yang memprotes kinerjanya yang nampak payah dan menerimanya dengan baik, sebagaimana mestinya.
"You seem to have overlooked something. What you said sounded like nonsense," kata Zakiel.
"I don't like sloppiness in any from." Ketiga apel yang disusun bertingkat jatuh dengan pisau tertancap di dalamnya. Begitu pula dua buah yang ada di kedua tangan Zero. Satu buah masih berada di antara bagian paling sensitif dari tubuhnya. Zero menggumamkan sebuah kalimat kepada Zakiel agar setidaknya lebih murah hati. Tidak menyakiti sekitaran kehidupan masa depannya. Sejauh ini dia belum menerima luka apa pun, padahal terakhir kalinya untuk penghakiman khusus, Zakiel memberi sentuhan 'manis' pada bahu kirinya, dimana peluru itu meninggalkan bekas yang belum pudar sampai saat ini.
"Heh, you look like you're waiting for a reward?" Zakiel tersenyum tipis, memutar pisau dengan cekatan di jari-jarinya. Langkah kakinya mendekat perlahan. Jarak sepuluh langkah besar tersisa. Zakiel menatap wajah Zero. "Lo merusak suasana hati gue. Tapi kali ini gue biarin lo bebas," katanya.
"Sebagai gantinya, lukai tangan kanan lo dan obati setelahnya."
Zero menurut. Menghela napas lega, apel di antara kedua kakinya otomatis jatuh ke tanah saat dia melangkah ke arah Zakiel dan mengambil pisau yang ditawarkan remaja itu. Kemudian, tanpa berteriak atau reaksi gelisah lainnya seperti yang dilakukan kebanyakan orang ketika mereka terluka, Zero dengan sengaja mengiris tangan kanannya hingga berdarah deras dan terus menetes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Exquisite
Genç Kurgu[ SHANKARA #02 ] ⚠︎ Mature themes, Contents kissing scene, and Bilingual. When he closed his eyes, he saw only the shadow of his lover, who loved to colonize the contents of his head. Many men admirer her in secret, and Zakiel has the privilege of h...
