17. Lalai

3.1K 258 42
                                        

Mata dengan manik merah keemasan itu terbuka dengan perlahan, menatap sekeliling dengan pandangan bingung yang tercetak jelas di raut wajahnya.

Samar-samar ia mendengar suara gelak tawa, Gentar melirik kedua tangannya yang terikat rantai dengan masing-masing tiang disisi kiri dan kanannya, "Ugh... Dimana ini?" gumam Gentar sambil menarik pelan tangannya.

Sebuah langkah kaki yang berat terdengar mendekat, langkah itu terdengar pelan dan tegas seakan menunjukkan wibawanya dari hanya sekedar langkah kaki sahaja. Wajah Gentar terlihat waspada, ia kembali menarik tangan dengan keras dengan geraman rendah.

"Hm, siapa kamu? Apa kamu fusion baru milik Boboiboy?" tanya lelaki dewasa didepan Gentar dengan topeng yang melekat apik di wajahnya.

Gentar mendengus kasar, "Aku yang harusnya bertanya, siapa kau? Apa tujuanmu menculikku huh?" tanya Gentar kasar.

Sang lelaki tertawa kecil, ia membawa tangannya untuk mengelus lembut rambut halus Gentar yang di selelingi rambut putih dibagian depannya, "Aku memang tidak berniat untuk menculikmu, target awalku itu Supra, tapi mungkin karena kalian mirip anak buahku salah tangkap. Awalnya mengecewakan tapi bagaimana jika kita tes dulu kuasa milikmu? Siapa tau itu akan berguna, bukan?" ucap sang lelaki yang belum Gentar ketahui namanya itu.

"Jangan harap! Aku tidak akan pernah memberi tau kau tentang kekuatan milikku. Teruslah bermimpi tentang hal itu!" tolak Gentar dengan keras, ia menatap tajam mata yang terlapisi topeng besi yang tampak kokoh menutupi wajah penculik dirinya ini.

Kekehan halus terdengar jelas di telinga Gentar, lelaki itu kembali mengelus rambut Gentar sebelum berubah menjadi sebuah jambakan kasar yang berhasil membuat percikan listrik mulai terbentuk di tubuh Gentar.

"Dengarkan aku baik-baik, jika kamu mau bekerjasama denganku tanpa ada perlawanan sama sekali maka aku akan melepaskan mu kembali pada keluarga sialanmu itu. Aku tidak minta banyak, cukup beri tau apa kuasamu dan berikan aku sedikit jika sekiranya kuasamu berguna bagiku. Mudah bukan? Itu kesepakatan yang sangat bagus."

Gentar menatap sengit orang didepannya, "Teruslah bermimpi mulai dari hari ini."

.
.
.
.
.

Keadaan rumah sekarang benar-benar hening, para fusion tampak murung dengan para elemental yang baru saja sampai kerumah. Glacier dan Frostfire bertugas untuk menjelaskan kejadian yang terjadi, sedangkan Solar dan Gempa berada disamping Supra untuk menenangkan sang anak.

"Maaf aku ga bisa bertanggungjawab atas mereka, aku gagal dalam menjaga mereka. Maaf." gumam Frostfire dengan wajah sendu pada seluruh elemental yang ada.

Para fusion yang lain saling terdiam, berharap sang kakak sulung mereka tidak apa-apa akibat kelalaian mereka semua.

"Gapapa, ini bukan sepenuhnya kesalahan kamu Frosty. Mama tau, kalian semua pasti udah berusaha ngelakuin yang terbaik bukan? Kami semua juga tau kalian pasti sempat mencari mereka ke seluruh penjuru komplek ini bukan? Kami paham. Jangan salahkan diri kamu sendiri Frosty, setelah ini kita semua akan berusaha untuk mencari Gentar, oke? Sekarang kalian semua tolong kembali ke kamar masing-masing ya, kita harus mendinginkan kepala kita masing-masing terlebih dahulu." ucap Gempa panjang lebar yang diangguki oleh seluruh makhluk hidup yang ada diruang tengah itu.

Satu-persatu dari mereka mulai masuk ke kamar mereka, hingga tinggallah Gempa, Halilintar dan Supra yang masih duduk terdiam dengan kepala menunduk di ruang tengah itu. Gempa bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Supra dengan senyum lembut yang kontras dari tatapan sendunya, "Jangan menyalahkan diri kamu sendiri ya Supra? Kamu udah berusaha untuk melindungi Gentar, kamu udah melakukan yang terbaik." gumam Gempa dengan tepukan lembut dibahu kiri Supra.

Dengan itu tinggallah Halilintar dan Supra diruang tengah itu, Halilintar hanya terdiam dengan posisi tangannya yang terlipat di depan dada dan matanya yang tertutup pelan diiringi helaan napas kasar yang mengisi keheningan diantara keduanya. Sementara itu, Supra masih dalam posisinya seakan meminta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat.

"Pergilah ke kamar Supra, jangan terus-terusan menyalahkan diri. Ayah tau itu bukan salah kamu." ujar Halilintar dengan suara pelan yang terasa dingin.

Supra mendongak, "Tapi, Supra gagal untuk menjaga Gentar ayah, Supra gagal menjaga adik Supra. Supra kakak yang buruk ayah." gumam sang anak dengan mata yang mulai memerah.

Halilintar membuka matanya dengan perlahan, ia berdiri dengan satu helaan napas panjang dan berjalan mendekati Supra dengan langkah tegas, "Kamu tidak gagal, sama sekali tidak. Ini bukan sepenuhnya salah kamu, kamu ga seharusnya terlarut dengan rasa bersalah kamu. Tenangkan diri dan perasaan kamu, gunakan logika kamu dan jangan terlalu larut dalam rasa bersalah. Kita akan menemukan Gentar besok apapun yang terjadi, jadi tolong jangan seperti ini lagi." ucap Halilintar sambil memeluk Supra yang mulai meneteskan air matanya di bahu sang ayah.

"Maaf ayah, maaf." gumam Supra lagi.

Halilintar mengangguk, ia melepas pelukannya dan membawa tangannya untuk menghapus air mata Supra layaknya seorang ayah sungguhan yang menenangkan sang anak, "Pergilah ke kamar dan tenangkan diri kamu, besok pagi-pagi sekali kita akan terjun untuk mencari Gentar. Persiapan stamina kamu, kita ga tau lawan kita ini seperti apa." tambah Halilintar lagi sebelum beranjak memasuki kamarnya dilantai dua.

Supra hanya mengangguk dalam diam dan menatap lantai dengan tekad kuat dimatanya, "Kamu akan segera pulang Gentar, tolong tunggu sebentar lagi."

.
.
.
.
.

Teriakan demi teriakan terdengar menyayat hati, pukulan demi pukulan terus diterima oleh tubuh jangkung yang terikat di tiang besi dengan rantai yang menjaga erat ikatannya.

Kabel-kabel bertaut dengan apik ditubuh penuh lebam itu, darah dan keringat bercampur menjadi satu dalam aliran air yang menetes menjatuhi lantai.

"Kekuatan yang sangat luar biasa, bagaimana mungkin ada manusia yang bisa menghasilkan energi sebesar ini setiap kali dipukul? Tubuh yang unik." ucap si lelaki bertopeng dengan rasa gembira yang memenuhi nada suaranya.

"Lanjutkan penyerapan kuasanya, kita dapat memanfaatkan energi ini untuk mengaktifkan robot-robot itu bukan? Yah, mungkin anak ini lebih berharga daripada fusion Halilintar dan Solar itu." tambah si lelaki tadi.

Gentar menelan ludahnya kasar, rasa amis dan asin bercampur dalam liurnya. Darah dari bibir dan hidungnya tak berhenti mengalir, tubuhnya juga berada diambang batas. Kekuatannya semakin meningkat hingga rasanya tubuhnya akan meledak jika hal itu tetap berlanjut, mata merah dengan dihiasi aksen keemasan itu menatap tajam lelaki yang ia ketahui adalah paman Pian itu. Sahabat dari ayahnya itu benar-benar menggila setelah tau apa kekuatan milik Gentar. Bahkan sekarang tubuh Gentar masih di pukul habis-habisan oleh dua kayu besar dari depan dan belakang tubuhnya.

Teriakan, rasa sakit dan lelah bercampur aduk, amarahnya benar-benar membara namun tubunya melemah dengan setiap helaan napas yang mulai memberat.

"Bajingan sialan, jangan harap aku akan membiarkan kalian menggunakan kekuatan ini untuk hal buruk! AARRRGHH!" ucap Gentar yang diiringi teriakan terakhirnya sebelum gelap menggapai dirinya.








































Allo cintaaaa🤍
Ada yang kangen mereka? Hehehe, maaf ya kalau aku telat buat up.
Setelah masalah kemarin selesai, eh akunya langsung mati ide atau bisa kita sebut writter block hahaha.

Maaf ya cinta kalau di chapter ini ada yang kurang, aku agak ngebut buat nulisnya karena udah berhari-hari naskah ini ga selesai. Maaf juga kalau agak pendek dan ada typo yang bertebaran, dan pasti itu buat kalian sakit mata, silahkan kritik kalau semisal nemu oke?

Udahh ya cinta? Mungkin segini aja dulu kali ya? Thankyou and see next chapter cintaaa🤍

Elemental parents and fusion? [OG]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang