Happy reading cinta🤍
.
.
.
.
.
Helaan napas kasar terdengar dari mulutnya, keringat mulai bercucuran di dahi itu. Lengannya ia bawa untuk kembali memukul dengan keras lawan yang sedang ia hadapi.
Manik emas itu bergetar sesaat setelah lawannya memberi serangan balik dengan cara melambungkan tangan yang ia arahkan tadi dengan kuat. Menurutnya, lawan dirinya kali ini cukup kuat, mengingat hampir satu jam lebih mereka bergelud tanpa henti.
"Sial." gumamnya.
Gumaman itu tentu saja terdengar hingga ke temannya yang juga sibuk mempertaruhkan hidup dan matinya.
Si pemilik manik emas itu tetap berusaha menaklukkan lawannya dengan tangannya yang mulai memerah, sudah tak terhitung berapa banyak perlawanan yang ia beri, tetap saja ia tak mampu membuat seonggok adonan kue kering didepannya ini menjadi lebih kalis.
"Gem, adonannya udah belum? Kalau udah biar kakak cetak." ujar Taufan dengan manik biru yang mulai berkilat kesal melihat sang adik.
Gempa yang masih bergulat dengan adonan kue yang ia buat mulai mengerang, dia memang ahli dalam memasak apapun itu, tapi demi Neptunus Uranus Venus Merkurius, ia tak bisa membuat kue!
"Kak, aku ga bisa! Tangan aku udah pegel sama merah-merah, dari tadi mukul-mukul adonannya tapi ga jadi kayak punya kakak." ucapnya dengan wajah pasrah sambil bergeser tempat dengan Taufan yang tampak mengamati.
Sore itu, Gempa dengan antusias minta diajari oleh Taufan cara membuat kue kering yang lezat. Mendengar permintaan sang adik, dengan gembira Taufan mengiyakan dan mulai mengajari adik pertamanya itu secara perlahan dan telaten.
Gelengan pelan datang dari arah Taufan, "Kalau masih kayak gini, tandanya adonan kuenya masih kurang air Gempa sayang. Tadi kan udah kakak kasih tau, masa kamu lupa sih? Sini, biar kakak yang coba."
Gempa hanya mengangguk dan bergeser dengan wajah cemberut yang kentara dengan wajah manisnya, "Iya-iya, aku lupa."
Gempa memberi ruang yang lebih luas pada Taufan, manik emasnya mengamati si biru dengan seksama tanpa meninggalkan satupun gerakan dari sang kakak, ia terlihat fokus dalam pelajaran memasak kue itu sebelum sebuah suara membuyarkan fokus Gempa tadi.
"Kak Gempa? Bisa tolongin aku bentar?" kepala Blaze menyembul dari balik dinding penghubung dapur dan ruang makan.
Gempa menoleh, ia mengangguk sekali kemudian menatap Taufan untuk meminta izin, "Kak-"
"Gapapa, pergi aja. Biar kakak yang nyelesaiin ini, lagian kamu cuma diem doang disitu." ucap Taufan ringan, tangannya masih sibuk menguli adonan kue itu hingga kalis.
Gempa merungut, berjalan dengan wajah kesal untuk menghampiri Blaze yang menatap bingung kedua kakaknya itu.
"Kamu mau minta tolong apa, Blaze?"
"Konsol game aku rusak, kak Hali tadi lagi sibuk makanya minta tolong kakak buat benerin."
Gempa hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, "Makanya, jangan keseringan main game." ucapnya dengan tangan yang mengelus kepala sang adik. Mereka berdua kemudian berlalu dari dapur dan meninggalkan Taufan yang melanjutkan acara membuat kue keringnya.
Cukup lama berkutat dengan adonan yang dibuat Gempa, akhirnya Taufan selesai dan tampak akan mencetak setiap adonan yang ada menggunakan cetakan yang baru ia beli dua minggu yang lalu bersama Thorn.
Saat sedang sibuk dengan cetakannya, sebuah suara berhasil mengagetkan Taufan dan membuat beberapa kue yang sudah jadi hancur.
"Ibunda sedang apa?" bisik Sopan dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elemental parents and fusion? [OG]
FantasySetelah terjadinya penyerangan dari sang penguasa elemental legenda, Retta'ka. Boboiboy memutuskan untuk berpecah menjadi tujuh selamanya, ia membiarkan para elemental mengambil alih tubuh aslinya. Sedangkan para elemental mendapatkan sebuah cara me...
![Elemental parents and fusion? [OG]](https://img.wattpad.com/cover/363208595-64-k592012.jpg)