21. Kemalangan

2.1K 177 36
                                        

Peluh bercampur darah terlihat mengucur deras dari tubuh malang yang semakin waktu semakin mengurus dan lemah. Tiada yang tau rasa sakit seperti apa yang dirasakan pemuda itu selain dirinya sendiri.

Rasa sesak ruangan yang lembab dan juga napas dari sang empunya yang menggema sukses membuat siapapun akan merasa iba padanya dengan keadaan yang begitu prihatin dari tubuhnya. Gentar, pemuda malang yang telah tiga hari lamanya tersiksa diruang gelap dengan tangannya yang masih menggantung disisi tiang.

Kondisi fusion Halilintar dan Gempa itu terlihat tak ubah seperti sebuah boneka yang tengah dimainkan oleh pemiliknya, diikat disisi tiang dengan tenaganya yang tiap detik terus diserap hampir membuat Gentar menyerah untuk tetap hidup.

"Mommy, Gentar sakit." bisiknya dengan lemah saat setelah merasakan tenaganya kembali diserap oleh kabel-kabel yang menggantung ditubuh penuh luka itu.

Mata dengan manik merah-keemasan itu berkedip lemah sambil meneguk ludahnya dengan harapan yang tak kunjung membawa asa bagi dirinya, "Mommy,  maaf kalau nanti Gentar milih buat nyerah, Gentar ga kuat." bisiknya lagi sebelum kesadarannya kembali menjemput diambang batasnya.

.

.

.

Disisi lain hutan, para gerombolan pemuda dengan wajah hampir sama tampak tengah terdiam sembari menunggu salah satu dari mereka yang tengah berkomunikasi pada anggota mereka yang lain.

"Stasiun TAPOPS mulai diserang?" ulang Solar lagi dengan mata peraknya yang menatap layar hologram dijam  tangannya.

"Iya, kami ga tau pasti siapa penyerang ini tapi yang jelas mereka terus datang tanpa henti dan terus ngirim pesawat angkasa yang berisi banyak robot," terang dari seberang dengan napas tergesa.

Taufan, Blaze dan Ice saling berpandangan, ketiganya tampak saling bertukar pikiran sesaat sebelum mengangguk kecil dan segera menghampiri Solar.

"Lar, kayaknya ada yang ga beres disini," ucap Taufan serius.

"Aku tau kak, kita harus cepat karena kalau telat dikit kita ga cuma kehilangan stasion TAPOPS tapi kita juga bakal kehilangan... Getar," ucap Solar yang diakhiri dengan sedikit bisikan diakhir kalimatnya.

Para fusion terdiam sembari memandangi Gempa dan Halilintar yang berdiri di berdampingan. Bersamaan dengan itu Thorn datang dengan membawa informasi yang ia dapatkan dari hasil ia pergi memata-matai hutan ini.

"Aku udah tau kita harus kemana," ucap Thorn serius yang langsung diangguki oleh yang lain.

Dengan langkah penuh semangat dan harap, 12 pasang kaki itu melangkah maju tanpa sedikitpun ada perasaan ragu. Yang memimpin langkah mereka juga tampak begitu tegas pada langkahnya, seakan dengan langkah itu satu nyawa akan berhasil mereka selamatkan.

"Stop! Kita udah sampai," bisik Thorn dengan suara pelan namun sarat akan ketegasan.

Semua pasang mata langsung tertuju pada satu area yang begitu luas, dibalik semak dan pepohonan rindang yang menutupi tubuh mereka, dua belas pemuda itu saling menahan diri untuk tak langsung berlari dan mengamuk ditengah-tengah tempat itu.

"Ini..." bisik Supra dengan mata yang melebar, seolah mengetahui apa yang sedang dipraktikkan dibawah sana, namun Solar menahan dan menggelengkan kepalanya pelan.

Sesuai rencana, Solar, Halilintar, dan juga Gempa dengan perlahan menyusup ke area itu, bergabung dengan begitu alami diantara barisan robot yang berjalan kesana-kemari.

Mata Halilintar begitu tajam dalam menelisik, ketiganya terus berpindah ke kelompok satu dan lainnya hingga pada akhirnya mereka sampai di kelompok dimana para robot itu ditugaskan untuk mengisi ulang energi yang ada.

Ketiganya mengangguk kecil, menyusup dan mengikuti langkah dalam barisan dengan teratur, merekam setiap sisi dan juga belokan sembari memikirkan rencana selanjutnya.

Saat kelompok yang terdiri dari enam personil dengan tiga robot asli dan tiga robot jadi-jadian sampai di ambang pintu ruangan, hal pertama yang terlintas dibenak ketiga elemental itu adalah wajah Gentar.

Benar saja, saat pintu dengan keamanan yang begitu tinggi itu terbuka, sesosok pemuda penuh luka dengan wajah yang tak lagi bisa dibedakan antara darah dan air mata itu terlihat jelas menggantung di tiang.

Mata Halilintar berkilat tajam, kilatan merah mulai keluar dari tangannya sebelum sebuah tangan menghampiri dan menahannya, Solar.

"Tahan kak," bisiknya pelan.

Gempa sendiri hanya terdiam namun mata dengan warna keemasan itu berbinar begitu terang seakan ruangan gelap itu akan silau oleh cahayanya, hal itu membuat Solar kembali menahan Gempa menggunakan tangannya yang bebas.

"Kak," bisik Solar lagi, suaranya begitu pelan namun sarat akan teguran untuk menahan diri.

Kedua elemental sulung itu menghela napas, mencoba mengendalikan diri serta amarah yang membuncah didalam hati, mata keduanya kembali tertuju pada Gentar mereka yang masih setia bertahan, menunggu untuk dijemput pulang.

Disana, Gentar kembali tersadar, mata yang biasanya berbinar dengan teguh itu kali ini terlihat kosong. Air mata, keringat, ataupun darah tak ada yang bisa membedakan ketiga hal itu kecuali Gentar sendiri.

Tubuhnya begitu lemah, raganya begitu sakit, dan jiwanya terasa ingin menyerah, namun dari ketiga hal itu masih ada secercah harapan halus dihatinya, menunggu, baik siapapun itu untuk datang dan membawanya pulang.

Ketiga robot asli di ruangan itu bekerja dengan arahan yang diperintahkan di awal, mereka mencabut kabel sebelumnya dan mengganti dengan kabel lainnya, setelahnya satu robot akan berdiri dibelakang Gentar, memukuli punggung yang penuh dengan darah itu tanpa henti. Mereka tak sedikitpun menghiraukan teriakan penuh kesakitan Gentar, bahkan hanya terus memukuli dan mengotak-atik tombol pada benda-benda disekitar mereka sembari terus menyerap tenaga yang dikeluarkan Gentar.

Solar memejamkan matanya, ia bergerak secepat cahaya, menutup pintu dan setelahnya mengganggu pada kedua kakaknya, seakan ketiganya telah mengerti apa yang harus mereka lakukan.

"Pedang Halilintar."

Siluet cahaya merah dengan cepat berpindah ke belakang robot yang mengotak-atik tombol aneh tadi, pedangnya yang telah dialiri oleh ribuan percikan halilintar ia arahkan pada robot itu, jelas dalam sekejap mata benda yang dikendalikan itu tumbang, dan seterusnya Halilintar kembali mengalahkan dua robot lainnya dengan amarah membara, bahkan saat telah mengalahkan tiga robot itu tak sedikitpun aura membunuh Halilintar hilang dari tubuhnya.

Sementara itu Solar bekerja dengan lugas, membobol sistem yang beroperasi, dan mengalihkan sistem itu pada aliran energi sebelumnya, aliran energi air yang begitu lemah.

Disisi lain, Gempa dengan cepat menuju ke arah Gentar, melepas rantai yang mengikat pemuda itu dan menangkap tubuh penuh luka dan darah itu dengan lembut.

"Gentar... Gentar... kamu aman sekarang, tolong bertahan demi mommy," bisik Gempa sambil mengelus rambut lepek yang penuh keringat milik Gentar.

Mata dengan cahaya merah keemasan itu terbuka, pantulan Gempa terlihat didalamnya seolah itu adalah mimpi dan jawaban atas harapan tipis didadanya, diiringi senyum tipis yang dipaksakan Gentar menutup matanya kembali dan menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Gempa.

"Mom-my... Ge-Gentar kuat 'kan?" bisik Gentar dengan tawa pelan sebelum gelap kembali menjemputnya.













































Hehehe...
Gimana?😗

Btw chapter depan siapin tissue ya? Soalnya dua chapter lagi bakal ending ini, dan spoiler dari aku, ini sad end🤭🤭🤭

Byeee

Elemental parents and fusion? [OG]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang