🚨Warning : 18+
Perhatian! Untuk yang masih di bawah umur, dengan hormat saya ingatkan untuk menjauh dari lapak ini yaa. Untuk yang sudah cukup umur, mohon lebih dewasa dan bijak dalam membaca. Terima kasih :)
Warning ⚠️❗
Sebelum kalian baca cerita...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haidar mulai memasuki garasi, memarkirkan mobilnya di sana sebelum turun dan masuk kedalam rumahnya, setelah acara makan malam dadakan itu dirinya mengantarkan Salma pulang kerumahnya.
"Dari mana kak?" Sahut seorang wanita setengah baya. Duduk di sofa ruang tengah sedang menonton siaran televisi, bahkan tanpa melihat siapa yang datang wanita itu sudah tahu jika yang datang itu putra sulungnya.
"Biasa mah" Balas sang anak santai, sebelum suara lain mengintrupsinya dengan suara yang jauh lebih keras.
"DARI MANA AJA SIH LO!" Suara cempreng itu, Haidar sudah muak mendengarnya. Rasa ingin melakban mulut kembarannya tiba-tiba melambung tinggi.
Ada alasan dibalik itu semua, bermula dari Celine yang meminta bantuan Haidar untuk mengantarnya ke suatu tempat, karena dirinya memiliki keperluan untuk mengerjakan tugas kuliah bersama teman-temannya.
Sebelumnya Celine sempat bertanya pada sang kakak apakah ia memiliki waktu luang siang nanti, dan laki-laki itu menganggukan kepalanya walaupun saat itu dirinya sedang sibuk dengan handphone di tangannya. Tapi hal itu praktis membuat sang adik merasa senang karena ia tidak perlu buang-buang uang untuk membayar gojek. Tapi sang kakak justru tidak ditemukan di rumah dan sulit sekali di hubungi, membuat sang adik geram karena sang kakak mengingkari janjinya. Emang dasar ya si Haidar.
"APA SIH LU, KEPO AJA!" Balas Haidar yang ikut meninggikan suaranya, membalas sahutan Celine yang sekarang sudah bangkit dari kegiatan baringnya di sofa dengan paha sang mama sebagai bantalan kepalanya.
"HAIDAR NGESELIIINN, INGKAR JANJI TAII!" Jerit Celine lagi ketika melihat kembarannya itu mulai menaiki tangga.
"BODO!" Sahut Haidar sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Wanita setengah baya yang sedari tadi memerhatikan keributan itu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua anaknya yang sama-sama tidak ingin mengalah. Kalau saja ayahnya ada di sana duduk bersama, yakin dua anaknya sudah kena sidang akibat percakapannya barusan.
Haidar memasuki kamarnya yang didominasi oleh warna abu-abu, aroma wangi khas Haidar lekat menempel pada setiap sudut kamarnya. Laki-laki itu melepas jaketnya sebelum membanting tubuhnya diatas kasur empuknya.
Matanya menatap langit-langit kamarnya, menerawang isi pikirannya yang sudah penuh ingin dikeluarkan sekarang juga. Rasanya kepala Haidar akan pecah karena terlalu banyak pertanyaan di kepalanya yang belum terjawab.
Sepertinya memang akan sedikit sulit untuk menemukan jawabannya, karena pertanyaan ini sedikit membutuhkan orang yang bersangkutan untuk Haidar menemukan semuanya.
Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang disembunyikan? Sejak kapan? Dan kenapa luka itu ada di sana, membekas dengan jelas bahkan di kepalanya? Tidak mungkin kan hal seperti itu terjadi jika tidak ada penyebabnya? Apa separah itu kejadiannya? Batin laki-laki itu menggerutu.