prolog

2.4K 57 2
                                        

Ternyata benar ya, memasuki usia 20 tahun itu semakin rumit semuanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ternyata benar ya, memasuki usia 20 tahun itu semakin rumit semuanya.

Problem will come one by one. Tentang cinta, pertemanan, keluarga, dan diri sendiri. Sesulit itu ya untuk menjadi dewasa, semakin dewasa semakin kuat problem menghantam. Memang, problem is process of the most mature then anything. Namun, mengapa harus se-sakit dan se-menyesakan ini?

Setiap hari aku disini sibuk memikirkan bagaimana untuk menjalani hari esok. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, 'apakah aku akan baik-baik saja?'. Bukan tanpa alasan aku seperti itu, terlalu banyak ke-khawatiran yang berbisik di seputar telingaku, sampai-sampai aku harus selalu waspada dengan diriku sendiri. Ketakutan yang kian hari kian merusak mental, kekisruhan isi kepala yang tidak ada habisnya itu pun seperti berusaha memprovokasinya agar aku menjadi lebih cepat gila karenanya.

Disaat orang lain terutama anak yang seusiaku memiliki pegangan untuk setiap jalan tertatihnya, aku disini justru kehilangan semuanya. Membuat langkah kecilku semakin terseok, tidak dapat lagi menutup kerapuhan yang ada didalam diriku. Tiang yang justru seharusnya menanungi atap rumah ku, justru pergi dan meninggalkan tanggung jawabnya. Reruntuhan itu masih berserakan dan belum sepenuhnya di pulihkan, sementara pemilik rumah itu tergopoh-gopoh sibuk melindungi diri dari banyaknya hantaman badai hanya dengan mengandalkan dua tangan yang saling bertaut.

Berharap seberapa pun kencang angin menerjang, itu tidak mampu melepaskan eratnya tautan tangan.

Jika ada diantara siapapun yang melihatku bahagia, itu bukanlah sebenar-benarnya aku. Kerusakan itu sudah terlanjur membuat ranting-ranting yang ada pada diriku patah, bersamaan dengan angin ribut saat itu. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang tidak memiliki akhir.

Dari sisa-sisa luka kemarin yang belum sepenuhnya pulih dan terobati, sudah ditimbun dengan luka-luka baru. Dari sisa-sisa masalah kemarin yang belum sepenuhnya selesai, sudah datang masalah baru. Satu persatu seakan-akan ingin mencekik ku di keadaan itu, bahkan saat ragaku sudah lelah dengan keberadaannya.

Sakit itu, ketika orang lain bisa, namun kita tidak bisa.

Sakit itu, ketika kita tidak mampu berjalan karena terhambat oleh kemampuan diri kita sendiri.

Sakit itu, ketika kita tidak bisa menerima kenyataan yang ada, namun kita di paksa dengan harus tetep menerima kenyataan itu sendiri.

Aku benci berpikir kalau aku tidak seberguna itu, bahkan untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin bahagia seperti mereka tanpa diselimuti gerongan suara yang bisik-bisik mengusik ku, mengikatku dan membawaku pada ruang gelap itu.

Aku pernah mendengar kalimat ini, three important reminder is, you matter, you loved, and everything will be okey. You are worthy, you are entitled.

Kalimat yang selalu aku simpan didalam kepala ku, sekaligus untuk mencegahku dari kerusakan jiwaku sendiri.

Karena pada kenyataannya, bahagia itu cukup dengan memiliki tiga hal, yourself, your mother, and someone who loves you. Juga tentang keberhasilan diri yang sempurna, untuk bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri.

~~~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

~~~

Haiii👋👋

Aku si penulis amatir yang bawa cerita ini, cerita pertama aku☺️

Ini murni no copas yaa, real dari imajinasi aku sendiri yang sekarang aku tuangkan dalam bentuk tulisan.

Semoga cerita ini banyak peminatnya yaa, semoga kalian juga nyaman sama alur ceritanya.

Terima kasih🌱

Salam manis,


🌻Sunflower
05 juny 2024

Eccedentesiast (COMPLETED)✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang