🚨Warning : 18+
Perhatian! Untuk yang masih di bawah umur, dengan hormat saya ingatkan untuk menjauh dari lapak ini yaa. Untuk yang sudah cukup umur, mohon lebih dewasa dan bijak dalam membaca. Terima kasih :)
Warning ⚠️❗
Sebelum kalian baca cerita...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jujur aku lagi suka sama lagu royalty dari Egzod & Maestro Chives, soo buat kalian yang mau baca sambil di temenin lagu, boleh banget puter lagunya.. Loyalty song by Egzod & Maestro Chives
Happy reading🌱 Masih anget banget, maaf kalo banyak typo . .
Dua bulan sudah terlewati, Salma yang kehilangan memorinya itu belum juga mampu mengingat secara sempurna.
Entah harus menghabiskan berapa banyak waktu lagi untuk melakukannya, Salma sendiri bahkan hampir menyerah dengan keadaan. Bagaimana tidak, setiap kali Salma berusaha mengingat semuanya, semakin lebur gambarannya.
Di satu hari dimana Salma menemukan sebuah kertas berisikan tulisan apik, Salma seperti merasa pernah menemukan itu sebelumnya. Namun, lagi-lagi semuanya hanya gambaran transparan yang tidak lebih dari gelembung yang meletup.
Salma menghela nafas panjang, tangannya memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Sampe kapan gue kaya gini?" Monolog Salma yang sekarang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit dengan hati yang gamang.
Perlahan namun pasti, angin yang masuk melalui celah-celah fentilasi udara itu membawa rasa kantuk pada matanya. Semakin lama semakin merapat, kepalanya dengan perlahan mulai terkulai lemas di atas bantal.
Seketika menjadi gelap, matanya hanya menampilkam ruang hitam yang tidak memiliki ujung. Salma bingung, ini dimana? Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Bukan kah ia tengah tertidur?
Seperti tengah berada di suatu bioskop, satu-persatu tayangan dari rekaman layar itu berputar dengan sendirinya. Menampilkan beberapa gambar yang Salma sendiri tidak paham.
Berselang menampilkan gambar, layar di depannya menampilkan sebuah video berdurasi. Sebut saja begitu, karena Salma masih belum paham apa yang tengah terjadi.
Salma mengenali wajah yang terpampang di layar, Salma juga melihat ada wajah Ibu dan Bianca di sana. Di sana Ibu mengatakan kalau beliau sangat menyayangi Salma, Bianca pun mengatakan kalau mereka adalah sahabat selamanya. Namun, saat layar di depannya menampilkan sosok wajah laki-laki, Salma terdiam dan bertanya-tanya.
Laki-laki itu lagi? Dan apa yang baru saja dia katakan, mengapa di sana dia semudah itu mengatakan cinta padanya?
Laki-laki itu cukup tampan, dan Salma pikir ia pernah melihatnya. Namun, di mana?
Perlahan kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, keningnya mulai membentuk persimpangan yang membuat ujung-ujung alisnya bertemu.
Salma terbangun dari tidurnya dengan nafas tersenggal, membawa tangannya menyentuh dada. Tidak seperti biasanya debaran jantungnya akan sekencang ini. Apakah tadi hanya mimpi biasa? Mimpi macam apa itu, mengapa rumit sekali?