🚨Warning : 18+
Perhatian! Untuk yang masih di bawah umur, dengan hormat saya ingatkan untuk menjauh dari lapak ini yaa. Untuk yang sudah cukup umur, mohon lebih dewasa dan bijak dalam membaca. Terima kasih :)
Warning ⚠️❗
Sebelum kalian baca cerita...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Haidar tengah berbaring di asramanya seorang diri, ditemani televisi yang setia menampilkan tayangan film barat.
Terdapat satu benda putih yang masih menempel pada dahi laki-laki itu. Sesekali juga Haidar akan terbatuk, lalu menarik selimut yang di kenakannya sampai batas dada.
Tidak ada kopi, tidak ada rokok, dan tidak ada teman. Haidar hanya sendiri di asrama dan hanya di temani oleh beberapa obat di atas meja, air putih dan susu steril pemberian Mama.
Iya, Mama memang sempat berkunjung ke asrama Haidar setelah mendengar kabar kalau putranya jatuh sakit. Mama baru mendengar kabar sepenting itu dari Celine yang mengatakan kalau Haidar jatuh sakit.
Haidar demam selama 2 hari. Ini sudah ke 3 harinya dan keadaannya sudah cukup lebih baik dari pada hari-hari kemarin. Haidar tumbang tanpa aba-aba dan membuat Mama khawatir.
Saat itu Mama datang ke asrama Haidar diantar Celine. Yang pertama kali Mama lihat saat itu adalah, Haidar yang sudah dalam posisi tengkurap dengan suhu tubuh tinggi. Tubuhnya terkurung sepenuhnya di dalam selimut. Mama memaksa Haidar untuk periksa ke klinik terdekat, Mama juga sempat mengomeli Haidar karena sakit tanpa memberi kabar apapun. Tidak seperti biasanya.
"Mikirin apa aja kamu sampe tumbang kaya gini?" Mama memojokan Haidar dengan pertanyaannya.
Karena Mama tahu dan paham betul, Haidar bakal jatuh sakit kalau pikirannya terlalu berat. Mama tidak pernah menemui Haidar jatuh sakit karena telat makan atau absen makan, karena Mama tahu Haidar itu kalau melihat nasi saja pasti bawaannya lapar tanpa mikir tempat.
"Ini mah cuma kecapean aja, kan aku lagi sibuk-sibuknya skripsi" Balas Haidar saat itu.
Benar juga, Haidar memang tengah sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir skripsi. Niat kembali mengomeli sang putra, Mama urungkan kembali setelah mendengar lontaran kalimat itu.
Haidar tengah berusaha di akhir perjuangannya sebagai mahasiswa, sebelum nanti berhasil mendapat gelar dan bebas melempar toga keatas dengan bangga.
Mama hanya bisa memberi wejangan-wajangannya pada Haidar. Mengatakan kalau Haidar tidak perlu buru-buru untuk menyelesaikan tugasnya. Selagi masih ada waktu, Haidar bisa ambil sedikit celah-celah untuk tubuh dan pikirannya istirahat walaupun sejenak.
Sesuatu yang di jalankan terlalu tergesa-gesa tidak melulu akan berujung baik, kesehatan tetep menjadi yang nomor satu bagi Mama.
"Ya udah, Mama pulang kalo gitu. Kamu jaga diri baik-baik, jangan keluar malem dulu. Jangan ngerokok dulu" Tekan Mama sambil melirik bekas wadah rokok di bawah meja.
Haidar mendesah pelan, "Itu bekas Natahaniel, Mah. Bukan aku" Balasnya sambil mengalihkan perhatiannya ke televisi yang ada di depannya.
"Heleh, ngelak aja"
Mama lekas bangkit berdiri dan melenggang pergi begitu saja, di ikuti Celine yang mengekor di belakangnya.
Setelah kepergian Mama, tidak lama dari itu terdengar rintik-rintik hujan yang mulai berjatuhan di atas atap asramanya. Sepertinya hujan hari ini tidak cukup deras. Namun, cukup membuat basah tanah bumi dan akan cukup awet sampai malam tiba.