🚨Warning : 18+
Perhatian! Untuk yang masih di bawah umur, dengan hormat saya ingatkan untuk menjauh dari lapak ini yaa. Untuk yang sudah cukup umur, mohon lebih dewasa dan bijak dalam membaca. Terima kasih :)
Warning ⚠️❗
Sebelum kalian baca cerita...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bunyi gelindingan roda yang bertubrukan dengan lantai menggema sepanjang koridor rumah sakit, membuat suasana tegang dan sedikit terasa tidak nyaman. Haidar benar-benar tidak menyukai suasana dan perasaannya saat ini, seumur-umur Haidar baru merasakan ini untuk pertama kalinya. Rungunya hanya dipenuhi dengan suara langkah kaki berat itu, apakah setelah ini Haidar akan membenci suara derap langkah kaki padahal sebelumnya Haidar baik-baik saja dengan itu?
Hati dan isi kepala sibuk dengan masing-masing keramaiannya, hati yang berusaha tenang dengan kerisauan, sementara isi kepala dengan semua dugaan-dugaannya. Dengan tangan yang saling bertaut itu, Haidar ikut mengantarkan Salma menuju ruang operasi. Haidar mencoba tersenyum demi menenangkan Salma yang terbaring lemah diatas brankar, mencoba menjelaskan pada gadis itu kalau semuanya akan baik-baik saja. Ya, lagi-lagi hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan, padahal Haidar sendiri tidak yakin dengan itu. Namun, setidaknya kekasihnya itu tidak terlalu larut untuk memikirkan kerumitan-kerumitan yang mengganggunya.
Tepat didepan pintu kaca yang di atasnya tertulis ruang operasi, brankar berhenti di dorong.
"Ibuu.."
"Kenapa, sayang?"
"Ibu tungguin aku ya, jangan pergi kemana-mana. Aku didalem cuma sebentar kok, ya?" Ucap Salma yang berusaha menggapai tangan Ibu.
"Iya, sayang. Ibu tungguin dari sini ya? Kamu nanti didalem baik-baik, oke?" Salma mengangguk pelan sembari merasakan usapan lembut tangan Ibu pada pipinya. Ibu juga meninggalkan kecupan di kening putri semata wayangnya itu dengan lembut sebelum akhirnya Salma mengalihkan atensinya dari Ibu ke Haidar.
"Jagain Ibu ya selama aku di dalem?" Ucap Salma yang terdengar lemah.
"Pasti, sayang. Pasti aku jagain, nanti kalo udah didalem kamu jangan takut, ya? Aku tungguin disini, aku nggak kemana-mana. Tetep relax jangan tegang jangan khawatir, kamu nggak sendiri didalem. Ada dokter ada suster juga yang bantuin kamu, oke? Aku tunggu disini, ya?" Ucap Haidar dengan sebelah tangan mengusap lembut puncak kepala Salma yang matanya sudah memerah menahan tangis.
Haidar paham dan sangat mengerti, gadis itu takut sekaligus cemas. Bagaimana bisa kita hidup namun dengan tidak mengenal sesiapapun diantaranya? Salma takut jika amnesianya akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh, meskipun dokter sendiri mengatakan kalau amnesia pasca operasi nanti hanya sementara. Namun siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Salma takut di permainkan lagi oleh takdir mengenai semuanya. Sudah cukup, Salma benar-benar lelah jika harus mengulang semuanya dari awal lagi.
"Aku masuk, ya?" Ucap Salma yang sebenarnya enggan, terbukti dari tangannya yang tidak juga melepaskan genggamannya pada tangan Haidar.
Haidar mengangguk pelan dengan senyum yang sebenarnya sangat di paksakan juga.
Tepat pintu kaca itu menenggelamkan bayangan Salma, Bianca dan Nathaniel tiba dengan nafas yang memburu.
"Salma, mana?" Tanya Bianca dengan nafas yang masih belum stabil membuat ucapannya terdengar sedikit putus-putus.