Happy Reading
*****
"Yah, aku nggak mau," tolak Zoya sekali lagi.
Mencekal pergelangan Zoya, Arvin mendelik. "Diam," bisiknya.
Menahan kekesalan hati, Zoya mengatupkan bibir erat. Wajah menakutkan Arvin sekali lagi terlihat olehnya. Dulu, dia pernah membantah perkataan lelaki itu dan berujung dengan kesakitan. Arvin tak segan-segan menggunakan kekuatan untuk membuatnya diam.
Menghentakkan kaki dan berjalan ke sofa, Zoya duduk sambil menyilangkan tangannya. Pandangannya lurus, tajam pada Arvin. "Kenapa Ayah harus memintanya menikahiku?" gumamnya.
Selesai membantu memasangkan alat bantu pernapasan Arsyad dan menyelimutinya, Arvin mendekati Zoya.
"Aku memang nggak pantas untuk menikahimu, tapi bisakah kamu memenuhi permintaan beliau demi kesembuhannya?" kata Arvin dengan wajah datar. Sungguh sikap lelaki itu makin membuat Zoya membencinya.
"Bagus kalau kamu sadar diri. Jadi, aku akan menolak permintaan Ayah tadi."
"Zoya!" ucap Arvin tegas. Gejolak di hatinya membara.
Bukan setahun dua tahun, tatapan mata perempuan itu penuh kebencian padanya. Namun, sampai belasan tahun berlalu, Zoya tetap melihatnya seperti itu. Andai waktu bisa diputar, Arvin pasti tak ingin mengalahkan Zoya. Namun, ucapan Arsyad kembali terngiang sehingga menyebabkan semangat Arvin membara.
"Jangan jadikan kelemahan orang tuamu dalam hal keuangan menjadi penghambat sekolahmu. Justru karena orang tuamu yang nggak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Maka, kamu harus berhasil. Jika kamu terus mendapatkan gelar juara, Bapak akan memberikan beasiswa sampai kamu lulus kuliah," ucap Arsyad waktu Arvin masih kelas 5 SD.
Namun, di balik semua gelar juara dan prestasi yang berhasil diraih Arvin. Ada kebencian Zoya yang tak pernah bisa dipadamkan. Demi membuktikan kemampuannya jauh di atas Arvin, Zoya rela merantau dan mengejar kariernya sendiri.
"Apa?" ucap Zoya. Matanya membulat sempurna, menantang Arvin. "Aku tahu apa niatmu saat mengiyakan permintaan Ayah. Pasti kamu ingin, aku berada di bawah kuasamu. Bukankah dengan menjadikanku istri, maka posisiku akan berada di bawah kendalimu?"
"Terserah," jawab Arvin. Dia memilih duduk di sebelah Arsyad.
Tak ada kata bantahan lagi yang keluar dari bibir Zoya. Arvin pun tak peduli dengan kehadiran perempuan itu. Dia memilih menyalakan layar laptop sambil menjaga Arsyad.
Satu jam kemudian, ketika Arvin sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Zoya tertidur pulas di sofa. Tangan perempuan itu menyilang di depan dada dengan kepala mendongak. Tersenyum, Arvin menggelengkan kepala melihat keadaan Zoya.
Sangat hati-hati, lelaki itu mengubah posisi tidur Zoya. Memberikan selimut demi kenyamanan perempuan yang sangat membencinya.
"Aku selalu berharap, kita bisa berbaikan seperti dulu. Jadi, kita bisa mendiskusikan banyak hal. Terutama tentang beberapa usaha milik keluargamu," ucap Arvin lirih. Hanya, ketika seperti inilah, Zoya tenang dan Arvin bisa berkata cukup panjang.
"Tidur yang nyenyak," ucap Arvin mengakhiri semua tindakannya. Dia sendiri akhirnya kembali duduk di sebelah Arsyad.
Rasa perih yang melilit perutnya, membuat Zoya membuka mata. Mengedarkan pandangan, netranya menangkap sosok Arvin dengan mata tertutup sambil duduk. Laptopnya pun masih menyala.
Zoya bergerak mendekati lelaki itu. "Dasar, sudah ngantuk masih saja nonton film." Tangannya bergerak hendak mematikan laptop tersebut. Namun, matanya terpaku ketika melihat wallpaper. "Sialan! Mana mungkin aku akan menikah dengan lelaki sepertinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Saingan, Kok Nikah?
RomantikCantik, energik, mandiri, kaya dengan segudang prestasi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zoya. Namun, siapa sangka, dia yang selalu berada di urutan pertama dalam prestasinya, tiba-tiba dikalahkan oleh seorang anak salah satu pembantu di rumahnya...
