Happy Reading
*****
Takut terjadi hal-hal tak terduga seperti sebelumnya, Zoya memundurkan kursi. Lalu, menatap lawannya. "Ingat, ya, Vin. Aku sudah punya calon suami. Kamu nggak berhak mencampuri urusan pribadiku."
Pergi begitu saja meninggalkan Arvin yang menjadi patung, Zoya menghentakkan kakinya. Kesal sekali dengan sikap diktator lelaki itu.
"Memangnya dia siapa? Ayah saja nggak pernah kayak tadi. Dia itu cuma anaknya tukang kebun di rumah ini. Berani-beraninya sok kuasa. Apa jadinya kalau aku sampai nikah sama dia tadi," gerutu Zoya sepanjang perjalanan menuju kamar.
Sepeninggal Zoya, Arvin merutuki dirinya sendiri. Kenapa begitu ceroboh hingga membuat Zoya marah. "Dia pasti makin membenciku padahal, sikapnya sudah mulai melunak. Bodoh kamu, Vin," umpatnya pada diri sendiri.
Sampai di kamar, Zoya menghubungi Bara kembali. Namun, panggilannya tak terangkat, gadis itu mencoba beberapa kali melakukan panggilan yang terjadi malah nomor Bara tidak aktif. Capek dengan segala aktivitasnya hari ini, perlahan mata Zoya terpejam.
*****
Silau cahaya mentari pagi mengenai wajah Zoya melalui jendela kaca yang gordennya tidak tertutup sempurna. Tangannya meraba-raba mencari ponsel untuk melihat jam.
"Astagfirullah," ucap Zoya ketika jam di ponselnya menunjuk angka enam lebih lima menit. Segera turun tanpa mengganti baju, gadis itu berlari ke musala kecil di halaman samping rumahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melewati dapur.
Arvin yang mengenakan celemek dan sedang memotong sesuatu terlihat menarik hatinya. Zoya pun tersenyum tanpa disadari. Ketika lelaki itu mengongakkan kepalanya, dia cepat-cepat melanjutkan langkahnya menuju musala.
"Mau ke mana dia? Terburu-buru seperti melihat hantu saja," gumam Arvin.
"Mas, aku bantu, ya? Mau masak apa?" tanya Adeeva dari arah samping. Perempuan itu sudah berdiri tepat di sebelah Arvin bahkan jaraknya begitu dekat. Dilihat sekilas, keduanya seperti pasangan yang saling membantu.
Memiringkan badan, Arvin berkata, "Nggak usah, Deev. Aku cuma masak sop ayam. Sebentar lagi matang. Kamu siap-siap ke kantor saja. Gimana keadaan gudang kemarin?" Melanjutkan membuat masakan yang disebutkan tadi, lelaki itu jelas terlihat menghindari Adeeva.
"Aman, Mas. Stock produksi untuk minuman terbaru kita, buahnya sudah siap semua. Stock beras yang akan dikirim ke Kalimantan juga melimpah. Nggak perlu khawatir," jelas gadis yang masih mengenakan pakaian tidur berbahan satin dan cukup pendek tanpa lengan.
"Bagus kalau gitu. Cepatlah bersiap, masakannya sebantar lagi matang. Jangan menggunakan pakaian seperti itu saat keluar kamar." Arvin tak menoleh lagi pada Adeeva membuat perempuan itu kesal. Lalu, adik tiri Zoya itu berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Ojo terlalu sadis gitu kalau ngomong sama Mbak Deeva, Le," ucap Maryam yang baru saja menghampiri dapur dan langsung menuju wastafel cucian piring.
"Eh, Ibu. Nggak usah dicuci, Bu. Biar Arvin saja." Lelaki itu segera menyingkirkan tangan Maryam dari wastafel. "Kalau nggak sadis, dia nggak bakalan ngerti, Bu. Kalau sampai ada cowok lain di rumah ini yang melihat pakaiannya seperti tadi, Deeva nggak bakalan selamat, Bu."
"Yo, tapi omongannya jangan kasar gitu." Maryam kembali menepis tangan putranya supaya tidak mencegahnya mencuci peralatan yang kotor. "Vin, kamu ini cowok nggak pantes di dapur terus. Aminah cuti bukan berarti kamu harus menggantikan posisinya," ucapnya.u
"Bu, Arvin cuma nggak mau Ibu capek. Ibu baru sembuh, nggak boleh kerja terlalu berat. Kalau cuma masak, aku masih bisa mengatasinya."
Dari pintu yang menghubungkan dapur dengan halaman samping, Zoya mendengar semua percakapan Ibu dan anak itu. "Sekalinya diktator tetap saja diktator. Apa yang kamu kehendaki, orang lain harus menuruti. Dasar!" umpatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Saingan, Kok Nikah?
RomansaCantik, energik, mandiri, kaya dengan segudang prestasi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zoya. Namun, siapa sangka, dia yang selalu berada di urutan pertama dalam prestasinya, tiba-tiba dikalahkan oleh seorang anak salah satu pembantu di rumahnya...
