Happy Reading
*****
"Kalian ini nggak ngerti tempat, ya. Mentang-mentang pengantin baru, di kantor malah mesra-mesraan." Seorang lelaki berkemeja biru muda menyilangkan tangan di ambang pintu. Kepalanya geleng-geleng melihat live dua insan yang sejak dulu bersaing itu.
"Apa, sih, Bi," sahut Zoya. Dia segera berdiri menjauhi Arvin.
"Omonganmu ngawur, Bi," lanjut Arvin, "kamu nyariin aku?"
Berusaha setengah mungkin walau jantungnya tengah berpacu. Arvin mengikuti langkah Zoya menuju sofa.
Lelaki yang dipanggil Bi tersebut terkikik. Geli sekali melihat tingkah dua orang dewasa di depannya. Dia pun tak bisa berhenti tertawa kecil.
"Hasbi!" panggil Zoya, "kalau terus tertawa, aku pecat kamu."
Arvin menahan tawanya, perempuan di sebelahnya itu terlihat kesal sekali dengan tingkah sepupunya. Jadi, dia tidak akan menambah kekesalan Zoya. Bisa-bisa si perempuan akan semakin marah nantinya.
"Dih, Pakde aja nggak pernah ngomong gitu. Eh, penggantinya malah lebih galak. Salah dikit, langsung pecat." Hasbi mencebik, tangannya bergerak menyerahkan map biru pada Zoya.
"Apa ini?" Kening Zoya berkerut ketika membuka map yang berisi angka-angka. "Kamu sengaja buat aku pusing, ya. Dah tahu aku nggak suka hal-hal begini."
Kembali menahan tawa, Arvin melirik sepupu Zoya. Lalu, berganti menatap dingin pada perempuan yang beberapa menit ke belakang mengecup bibirnya. "Mulai sekarang, belajarlah dengan angka-angka itu. Kamu harus secepatnya beradaptasi."
"Mulai, diktator." Zoya membuang muka dan mengerucutkan bibirnya. Dia menatap angka-angka di depannya seperti jijik. Namun, di depan Arvin, perempuan itu berusaha memahami semua.
"Aku pelajari nanti, deh, Bi. Berkas ini cuma rincian gaji, kan?" tanya Zoya memastikan.
"Iya. Kamu tinggal ngecek aja, sih. Dua hari lagi, waktunya gajian. Jangan sampai terlambat. Walau kalian lagi hot-hot-nya, tapi jangan lupakan kewajiban mengurus karyawan," goda Hasbi. Alisnya bahkan naik turun ketika menatap Zoya.
"Diam, Bi," ucap Arvin tegas.
"Aku nggak nikah sama dia, ya," tambah Zoya.
Tawa Hasbi kembali meledak. "Nggak usah nyangkal, deh, Mbak, Mas. Tadi, pagi kalian kan sudah mengucap janji. Sorry aku nggak bisa datang."
"Dia terlalu membenciku, Bi. Aku balik ke ruangan. Banyak kerjaan yang belum selesai." Arvin berdiri dan meninggalkan keduanya.
Dari lirikan mata Arvin padanya, Zoya bisa melihat kekecewaan. "Ngapain juga masang muka gitu. Bukannya pembatalan itu menguntungkannya, ya," kata si perempuan dalam hati.
"Mas Arvin kenapa, Mbak? Kalian beneran nggak jadi nikah?" selidik Hasbi.
"Nggak jadi," jawab Zoya sinis.
"Kenapa? Bukannya Arvin Bucik banget sama kamu, Mbak?"
"Bucin dari Hongkong?" delik Zoya, "dia itu cintanya sama Deeva."
Terdiam, Hasbi memutar bola mata. Seperti mengingat sesuatu. Lalu, dia pun tersenyum. "Kamu cemburu sama Deeva, Mbak? Bukannya dari kecil dia memang terobsesi sama Mas Arvin. Tapi, kan, Mas Arvin nggak pernah nanggepi. Kalau mereka dekat, semua karena profesional kerja saja. Dia pasti nggak mau ngecewain Pakde."
"Profesional kerja kok sampai peluk-peluk. Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi, Bi. Sudahlah, mbakmu ini, sudah punya calon suami. Dia jauh lebih baik dari Arvin dalam segala hal."
KAMU SEDANG MEMBACA
Saingan, Kok Nikah?
RomanceCantik, energik, mandiri, kaya dengan segudang prestasi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Zoya. Namun, siapa sangka, dia yang selalu berada di urutan pertama dalam prestasinya, tiba-tiba dikalahkan oleh seorang anak salah satu pembantu di rumahnya...
