6. Mau, tetapi Gengsi

53 8 9
                                        

Happy Reading

*****

Arvin terdiam, perlahan dia melepaskan cekalan tangannya. Apa yang terucap dari bibir Zoya mampu mematahkan benteng pertahanannya.  Adeeva tersenyum penuh kemenangan kemudian dia mendekati si lelaki yang nyawanya seolah pergi entah ke mana.

"Kamu dengar sendiri, kan, Mas. Mbak Zoya itu nggak layak untukmu," ucap Adeeva. Tangannya hendak melingkar pada pergelangan Arvin. Namun, lelaki itu dengan cepat menghindar.

Tatapan Zoya begitu tajam pada adik tirinya sama seperti Arsyad. Lelaki paruh baya itu ingin sekali melerai dan menyatukan Arvin dan Zoya supaya tidak berdebat lagi. Namun, kemampuannya sangat terbatas hingga cuma bisa menatap ketiga anak-anaknya dengan sedih.

"Kamu dengar itu, Vin?" tanya Zoya, "jadi, untuk apa kita menikah jika aku nggak layak dan pantas untukmu? Carilah perempuan yang sebanding denganmu, seperti Adeeva, misalnya. Lupakan permintaan Ayah."

"Zoya!" bentak Sekar keras. Wanita itu, kini sudah berdiri di ambang pintu dan mendengar semua perkataan si sulung.

"Apa?" Melihat indera penglihatan ibu tirinya yang membola, Zoya juga membalasnya. "Adeeva ngomong kalau aku nggak pantas untuk Arvin, bukankah sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa dialah yang pantas? Apa perkataanku salah, Bu? Lagian, selama ini mereka sering terlihat berdua. Di mana ada Arvin, Adeeva juga pasti ada."

Arvin cuma bisa menghela napas panjang. Inilah yang dia takutkan, Zoya salah sangka terhadapnya dan Adeeva.

"Diam!" sentak Sekar sekali lagi. Ekor matanya melirik pada dua orang petugas medis yang dia bawa.

"Tolong periksa keadaan suami saya, Dok," pinta Sekar. Menghalau Arvin dan Zoya supaya menjauhi Arsyad.

Setelah beberapa saat kemudian, sang dokter menatap semua orang di ruangan tersebut. "Kalau ingin Bapak cepat sembuh. Mohon kerja samanya. Beliau tidak bisa dikejutkan dengan keadaan-keadaan yang dapat memicu kemarahan seperti tadi. Saya berharap, apa pun masalah keluarga kalian, tolong selesaikan dengan baik. Saya permisi."

"Terima kasih, Dok," ucap Sekar. Sepeninggal sang dokter, dia menatap putri sambungnya. "Kamu dengar itu, Aya. Ayahmu nggak bisa mendengar berita-berita mengejutkan seperti tadi. Selama ini, dia selalau khawatir dengan keadaanmu. Apalagi mengenai pernikahan. Umurmu sudah lebih dari cukup untuk menikah, demikian juga dengan Arvin. Apalagi yang kalian tunggu."

Zoya dan Arvin terdiam, mereka berdua sama-sama tertunduk. Namun, tidak dengan Adeeva, dia menatap ibunya marah.

"Kenapa Ibu memaksa Mbak Zoya?" tanya Adeeva. Jelas sekali terlihat jika dia tidak suka dengan perkataan orang tuanya.

"Karena dia, ayahmu jatuh sakit seperti sekarang," jawab Sekar.

"Jika benar Ayah memikirkan pernikahanku, kenapa harus dengan Arvin?" Terdengar sekali jika perempuan itu sangat keberatan untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. "Aku bisa menikah dengan lelaki lain."

"Benarkah begitu?" tanya Sekar seolah meragukan perkataan si sulung. "Kalau memang kamu bisa menikah dengan lelaki lain. Maka, kenalkan orang itu pada kami."

"Aku permisi pulang, Bu," ucap Arvin tidak ingin menanggapi apa pun lagi.

"Mas, tunggu. Aku ikut pulang," tambah Adeeva. Kedua orang itu benar-benar tidak mempedulikan perkataan Zoya lagi.

Arvin bahkan berlalu begitu saja padahal biasanya lelaki itu menyalami Sekar. 

"Ibu harap perkataanmu benar, Aya. Siapa yang mau menikah dengan gadis sepertimu? Ingat, kamu sudah tidak sempurna sebagai seorang perempuan," ucap Sekar, menyadarkan tentang kelemahan Zoya yang satu itu.

Saingan, Kok Nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang