4. Pernikahan

49 8 17
                                        

Happy Reading

*****

Arvin meninggalkan Zoya setelah mendapat perintah dari Arsyad. Dia berniat membicarakan semua itu pada orang tuanya. Walau sempat berdiskusi sebelumnya, tetapi sebagai bentuk penghormatan, dia harus tetap mengatakan rencana pernikahannya itu pada seluruh keluarga.

Sepeninggal Arvin, Zoya duduk termenung di samping ranjang Arsyad. Kepalanya berputar-putar, membayangkan pernikahan yang sebentar lagi akan dilangsungkan dengan Arvin. Menolak, jelas dia tak sanggup. Apalagi kondisi Arsyad yang tidak memungkinkan.

"Sepertinya, aku harus membuat beberapa perjanjian dengannya," kata Zoya dalam hati.

Oleh karena ayahnya kembali memejamkan mata, Zoya membuka laptop Arvin dan mulai mengetikkan sesuatu. Dia membuat perjanjian untuk pernikahannya nanti.

Sekitar setengah jam kemudian, Zoya sudah menyelesaikan seluruh perjanjian itu. Di saat bersamaan, Adeeva dan ibu tirinya masuk.

"Mbak, kamu kok lancang pakai laptopnya Mas Arvin," kata Adeeva. Raut kecewa dan marah jelas terlihat di wajahnya.

"Lancang gimana? Dia sendiri yang meminjamkan," bantah Zoya. Tak terima dengan tuduhan Adeeva, dia pun mendelik.

"Kalian ini ribut apa, sih. Ayah kalian sedang istirahat," ucap Sekar.

"Mbak Zoya, lho, Bu," adu Adeeva.

"Kenapa sama mbakmu?"

"Sembarangan make laptopnya Mas Arvin."

"Kamu ini aneh, Va. Wajar kalau Mbak Zoya make barang-barangnya Arvin. Dia kan calon istrinya." Sekar menatap marah pada putri kandungnya.

"Kok, Ibu malah belain Mbak Zoya?" Kaki kanannya mengentak. Kedua tangan bersedekah dengan bibir mengerucut. Adeeva benar-benar kesal.

"Ibu membela kebenaran. Jangan berisik, ayahmu sedang istirahat," sahut Sekar, "nggak usah dimasukkan ke hati, Mbak. Adikmu itu kadang-kadang memang."

Sekar menyerahkan paper bag yang dibawanya. "Kemarin, sebelum ayahmu seperti ini, beliau minta Ibu menyiapkan baju ini."

"Baju apa, Bu?"

"Baju untuk pernikahanmu. Ibu sudah memanggil penghulu ke sini. Insya Allah kalau nggak ada halangan, siang nanti kamu resmi menjadi istrinya Arvin."

"Tapi, Bu?" Zoya menunjukkan wajah keberatannya.

"Bisa kita keluar sebentar," pinta Sekar. Wajahnya terlihat sangat serius bahkan cenderung menakutkan. Zoya yakin, ibu sambungnya itu akan mengatakan sesuatu yang penting. "Va, tungguin ayahmu sebentar. Ada hal yang mesti Ibu kerjakan sama Mbak Zoya."

Di kantin rumah sakit, Sekar menatap putri sambungnya.

"Ibu tahu kamu sangat keberatan dengan keputusan Ayah. Tapi, pikirkan lagi. Kalau bukan Arvin, siapa lagi lelaki yang mau menikahimu? Setelah kejadian itu, pasti sangat susah." Sekar menyeruput es jeruk di hadapannya.

Sementara Zoya, dia langsung terdiam. Perkataan Sekar bagai belati yang mencacah habis seluruh tubuhnya. Mengoyak semua harga dirinya yang begitu tinggi.

"Alasan ayahmu memilih Arvin, pasti karena masalah itu. Hanya dia, lelaki yang bisa kita bodohi. Arvin dan seluruh keluarga berhutang Budi banyak. Jadi, dia nggak mungkin menolakmu," tambah Sekar.

Bingung dan gugup, Zoya menghabiskan semua jus alpukat di hadapannya.

"Pikirkan baik-baik, Zoy."

Menelan ludah susah payah, Zoya memejamkan mata. Mengingat kejadian beberapa tahun lalu yang begitu sangat menyakitkan.

Saingan, Kok Nikah?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang