NIGHTMARE

22 6 0
                                        


BAB 4 

Malam yang dingin. Malam yang meresahkan. Malam yang mendadak bermetamorforsis dari angkasa yang indah dengan kerlap kerlip bintang gemintang dan cahaya purnama yang menyinari dengan indahnya, kini menjadi menjadi malam yang mencekam. Langit biru dipenuhi gulungan-gulungan awan hitam bergemuruh. Geluduk menggema bak tabuhan menyambut hari raya. Sekonyong hujan turun dengan derasnya. Angin bertiup kencang. Menghempaskan gerbang tua berkali-kali. Gerbang kos yang belum di gembok terbuka lebar.

Tergugah karena mendengar suara gerbang yang berisik tertiup angin. Ayu keluar kamar ingin memeriksa ke depan. Begitu membuka pintu kamarnya, ia merasa heran kenapa lampu di depan kamarnya tidak menyala. Gelap sekali. Sementara kamar disebelahnya yakni kamar Miftah, penerangannya meredup. Sesekali berkedip-kedip seperti hendak mati. Namun kamar lainnya terang benderang. Kebetulan kamar Ayu dan Miftah letaknya berbeda dengan kamar lainnya. Jika yang lain menghadap ke barat. Kamar Ayu dan Miftah menghadap ke utara.

Miftah ikutan keluar setelah mengintip dari jendela kamarnya kalau Ayu sedang berada di depan kamarnya.

"Ayu. Lagi apa di sini?"

"Itu aku dengar pintu gerbang seperti tertiup angin, kayanya belum di tutup. Pas mau keluar lampu depan kamarku mati"

"Iya, sejak kapan ya matinya. Padahal sewaktu kita masuk kamar masih menyala. Aneh"

"Jadi gelap di sini Miftah"

"Terus kamu mau apa Ayu?"

"Aku mau bangunin yang cowok-cowok untuk nutup pintu gerbang"

"Eee, aku ambil payung. Kebetulan ada dua"

Ayu menyambangi kamar Ridwan yang kebetulan berada tepat di belokan dari kamarnya. dan Miftah kembali ke kamarnya mengambil payung. Setelah mengetuk cukup lama, Ridwan terbangun dan mau menutup pintu gerbang asal ada temannya. Ayu pun menuju kamar di sebelahnya, yaitu kamar Sammy.

"Bang bantuin Ridwan ya tutup pintu gerbang, nanti aku sama Miftah yang payungin", pinta ayu. Sammy menyanggupi. Jadilah mereka berempat keluar rumah menuju pintu gerbang yang terbuka. Ayu memayungi Ridwan dan Miftah memayungi Sammy. Lampu di luar yang temaram menimbulkan kesan angker. Belum lagi pohon beringin di depan rumah kecil, seperti membentuk makhluk menyeramkan kala petir menyambar di langit malam dan menyinari pohon besar itu.

Setelah pintu gerbang tertutup, Ayu mengajaknya masuk kembali. Ada perasaan tak enak yang mengusik dirinya. Entah apa itu. Ia seolah melihat sesosok bayangan di dekat rumah kecil itu. Tepatnya di samping pohon beringin. Dan Ayu bertanya-tanya. Kenapa sesosok bayangan itu berpindah dari depan kamar yang gelap itu ke dekat pohon beringin setelah kamar gelap itu dibersihkan. Apa sesosok itu benar makhluk tak kasat mata atau orang yang ingin berbuat kejahatan.

Gadis manis itu tidak mau memberitahu yang lain. Terutama Miftah. Ia takut akan menimbulkan kegaduhan.

"Ridwan. Bang Sammy. Makasih ya. Maaf merepotkan"

"Tidak merepotkan Ayu. Ini kan untuk keamanan kita juga", jawab Sammy.

"Ayu aku antar ya masuk ke kamar. Lampu depan kamar kamu kan mati. Jadi gelap", ujar Miftah.

"Besok bilang saja sama bu Anni, biar diganti lampunya. Ya sudah kita masuk kamar lagi ya. Kalian juga", ucap Ridwan. "Nite guys. Sampai besok ya", imbuh Ayu. Masing-masing masuk ke dalam kamarnya. Lantas Miftah mengantarkan Ayu membuka kunci pintu kamarnya, meneranginya dengan ponsel Ayu yang dia pegang.

RUMAH KOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang