BAB 8
Dua orang berjas putih panjang di dalam laboratorium sudah selesai memeriksa organ dalam yang dibawa kedua penjagal itu. Sepasang suami istri yang mengenakan masker dan kacamata hitam serta topi. Penyamaran lengkap untuk menutupi dari pengawasan cctv. Salah seorang petugas di dalam laboratorium mengeluarkan ponsel dari saku jas panjangnya. Dia membuka m-bangkingnya. Lantas mentransfer sejumlah uang sesuai kesepakatan sebelumnya.
"Sudah berhasil. Silahkan di cek". Ujar salah seorang petugas sambil memasukkan organ-organ dalam itu ke lemari khusus untuk mengawetkannya. Agar tetap terjaga dan tidak membusuk.
Wanita itu mengecek uang masuk di m-bangkingnya. Sejumlah uang ratusan juta telah masuk ke dalam rekeningnya. Wajah sumringah tersenyum dibalik masker dan kacamata hitam.
"Oke sudah masuk uangnya". Sepasang penjagal itu berdiri. Lalu menyalami kedua petugas yang ikutan berdiri itu. "Senang berbisnis dengan anda", ujar suaminya.
"Jangan lupa!. Yang selanjutnya laki-laki"
"Tenang saja. kita sudah dapat targetnya"
Setelah meyakinkan lepada kedua petugas laboratorium, akhirnya sepasang penjagal itu segera meninggalkan laboratorium saat hari masih gelap. Matahari belum menampakkan keseluruhan tubuhnya. Mereka masuk ke dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari ruang laboratorium itu. Di dekat ruang IGD.
Di area perparkiran, sang suami menyalakan mesin mobilnya. Keduanya membuka masker, kacamata dan topi. Mereka tertawa cukup kencang. Bisnis ini sangat menguntungkan mereka. Walaupun beresiko tinggi. Namun uangnya sangat menggiurkan. Selanjutnya kedua penjagal beranjak tua itu berpagutan penuh hasrat yang tinggi.
"Kapan mau memasak potongan tubuh Miftah?", tanya sang suami setelah melepaskan bibir hitamnya dari sang istri.
"Hari ini. Aku akan masak rendang kesukaan kamu"
"Aku sudah tidak sabar. Pasti akan jadi masakan terlezat kamu. Lemaknya banyak. Bikin gurih"
Sang istri tertawa manja. Bersandar di lengan suaminya. Memasuki usia senja mereka masih terlihat romantis. Walaupun mereka adalah sepasang penjagal berdarah dingin. Kemudian keduanya pergi meninggalkan parkiran rumah sakit yang sudah mulai ramai kedatangan karyawannya. Kembali ke rumah kos ketika matahari belum sepenuhnya menyinari bumi. Dan ketika penghuni kos belum menunjukkan batang hidungnya untuk beraktivitas di pagi ini.
*
Pagi-pagi pak Krisno - suami bu Anni - membersihkan kamar Miftah. Kamar yang tampak berantakan karena pria bertopeng buff membersihkannya terburu-buru. Mengejar waktu. Pak Krisno tampak tenang. Seperti sudah tahu apa yang terjadi semalam. Pak Krisno adalah orang yang pertama kali ditemui Davina ketika sedang menanyakan kos di rumah ini.
Pak Krisno berperawakan cukup tinggi untuk ukuran orang zaman dulu. Kulitnya menghitam seperti seseorang yang sering berada di luar rumah. Tatapannya sangat dingin. Sikapnya juga dingin. Pak Krisno hanya menampakkan dirinya sekali-sekali, ketika ia membersihkan ruang-ruang tertentu. Sesuai permintaan.
Selesai dengan kamar peninggalan Miftah, ia mengganti lampu di depan bekas kamar dua penghuni yang bersebelahan, yang berturut-turut mendadak pergi. Dengan santainya, pak Krisno menaiki sebuah kursi plastik untuk menggapai lampu di langit-langit.
Satu per satu penghuni kos mulai keluar kamar. Sudah siap menjalankan rutinitas sepanjang hari ini. Rutinitas membosankan yang wajib mereka lakukan. Ridwan, penghuni terdekat Miftah menanyakan kamar wanita tambun itu yang sudah tidak berpenghuni.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH KOS
Misterio / SuspensoSeorang gadis yang cantik merantau dari kota Semarang ke kota Jakarta. Davina diterima bekerja sebagai seorang sekertaris CEO sebuah perusahaan swasta. Sebagai gadis yang baru nebapakkan kakinya di kota sebesar Jakarta, Davina tidak teliti dalam mem...
