BAB 5
Davina mengalami sakit perut seharian ini. Tubuhnya lemas karena harus mondar mandir ke toilet. Perutnya melilit tak karuan. Selain harus mengeluarkan makanan dari jalan belakang, mulutnya juga memuntahkan makanan yang tadi pagi dimakannya. Pram sudah memberikannya obat yang dibelinya di warung terdekat. Timbul perasaan cemasnya melihat kondisi Davina. Gadis yang baru dikenalnya itu terkulai dengan wajah pucat dan menahan kesakitan. Santi dan Nova juga sudah mengompres perutnya dengan botol yang diisi air hangat. Menyangka Davina sedang merasakan sakit reguler karena sedang masa siklus wanita normal.
Gadis itu heran, kenapa hanya dia yang mengalami kesakitan ini setelah sarapan bersama tadi pagi. Bahkan tidak ada satu pun yang merasakan mual dengan makanan yang tersedia di meja makan. Semua baik-baik saja tanpa ada gangguan sedikit pun. Hanya dirinya. Benar, hanya dirinya. Seperti penghuni yang keracunan makanan.
"Kayanya kita harus bawa ke dokter deh. Atau rumah sakit sekalian", tutur Pram.
"Aku setuju mas", ucap Nova.
"Tapi aku pikir dirawat di sini aja deh. Kalau di rumah sakit siapa yang jaga. Kita semua kan punya kesibukan masing-masing", ucap Linda sedikit cemburu pada Davina yang mendapatkan perhatian lebih dari Pram.
"Aku yang jaga", jawab Pram cepat.
"Aku sama Nova juga bisa kok mba Linda. Kebetulan senin dan selasa jadwal matkul kita kosong", ujar Santi. "Aku setuju", sela Nova.
"Oke", balas Linda lalu meninggalkan kamar Davina. Ketiganya saling menatap penuh heran kelakuan Linda. Santi menyikut Nova. Ia mengerti dengan situasi canggung di kamar Davina.
"Santi, kamu order taksi ya. Aku gendong Davina ke bawah"
"Iya mas Pram"
Pram menggendong Davina turun ke bawah. Hati-hati melangkah menuruni tangga yang tinggi dengan undakannya yang curam. Linda hanya menatapnya dengan kecemburuan dari dalam kamarnya melalui jendela. Santi dan Nova mengikutinya sambil berteriak-teriak kalau mereka sudah berhasil mendapatkan orderan taksi.
Sewaktu menunggu taksi datang, Pram sempat mendengar seseorang bercakap melalui ponselnya.
"Oke siap. Satu lagi"
Ditutupnya ponsel tersebut karena penelepon sudah mengakhiri percakapan.
"Satu lagi. Perempuan", ujar orang itu berbisik pada seseorang yang bersamanya.
Suara itu mirip dengan yang di dengarnya di dalam kamar yang gelap ketika ia dan Davina berangkat kerja. Siapa sebenarnya pemilik suara itu. Pram melirik Santi dan Nova yang tengah autis memainkan ponselnya.
"Santi. Nova. Kalian mendengar tidak suara orang sedang menelepon?"
Santi dan Nova berpandangan, lalu menatap Pram dan menggelengkan kepalanya. Taksi yang di order sudah datang. Santi membuka gerbang dan meminta supirnya untuk membawa masuk ke dalam dan berhenti di depan teras. Pram buru-buru membawa Davina masuk ke dalam mobil. Diikuti Santi yang duduk di kursi tengah bersama Pram dan Nova duduk di kursi depan.
Jalanan yang lengang memudahkan supir taksi memacu kecepatan diatas 70 km per jam. Taksi itu meliuk-liuk menghindari kendaraan lain. Dan dengan keahliannya, supir taksi itu selalu bisa lolos dari jebakan lampu merah. Tidak lebih dari setengah jam mobil itu sudah sampai di sebuah rumah sakit. Davina langsung di bawa ke ruang gawat darurat.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH KOS
Tajemnica / ThrillerSeorang gadis yang cantik merantau dari kota Semarang ke kota Jakarta. Davina diterima bekerja sebagai seorang sekertaris CEO sebuah perusahaan swasta. Sebagai gadis yang baru nebapakkan kakinya di kota sebesar Jakarta, Davina tidak teliti dalam mem...
