BAB 15
Tomi memandang sinis tatkala Pram sudah berdiri di depan gedung perkantorannya. Memandang penuh kebencian. Kecemburuannya semakin tampak dari hari ke hari. Pun dengan Pram yang makin hari makin dekat dengan Davina. Tomi mendekatinya. Kali ini dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Udah di sini aja Pram. Ngga bosan?"
Pram berbalik badan. Memandang Tomi. Dengan tenangnya dia menjawab sindirian halus teman kosnya itu. "Bosan. Menjemput perempuan yang saya sukai tidak akan bosan. Kecuali berbicara dengan orang dengki di depan saya"
"Maksudmu apa Pram?". Tomi maju selangkah. Wajahnya semakin menunjukkan ketidaksukaan pada Pram.
"Tidak perlu dijelaskan seharusnya sudah mengerti". Pram berlalu meninggalkannya. Tomi memburunya. Mencegat jalannya.
"Sudah segitu aja Pram. Kok kabur?"
"Tidak perlu saya ladeni", jawabnya mengabaikan Tomi. Pram berusaha mengacuhkannya. Melangkah untuk meninggalkannya. Tapi lagi-lagi Tomi menghadangnya. Tidak puas dengan sikap Pram. Tak jauh, sudah berdiri Davina. Memperhatikan kedua laki-laki itu. Lalu menghampiri kedua laki-laki itu.
"Kalian berdua kenapa. Ada apa ini?", tanya gadis itu.
Pram dan Tomi diam. Mengunci rapat-rapat mulutnya.
"Ngga ada apa-apa Vin. Yuk kita pulang", ajak Pram pada gadis itu. Davina menurut. Bahkan ketika digandeng tangannya oleh Pram. Tomi semakin terbakar api cemburu. Tapi gadis itu masih memiliki etika, dia berpamitan pada Tomi.
Berjalan mengikuti langkah kaki Pram yang sedikit tergesa. Davina mencoba mensejajarkannya. Butuh usaha karena tinggi tubuh Pram dan langkahnya yang panjang. Gadis itu melirik pria yang menggandeng tangannya. Sikap gentlenya membuat Davina terkagum.
"Mas, ada pesan dari Santi", ucap Davina sesaat mereka sudah mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Tumben sekali bus jalur khusus itu masih sepi. Padahal biasanya bus ini sudah berjejal penumpang di jam pulang kantor.
"Dia bilang apaan?"
"Katanya ada satu keluarga yang mencari kak Ayu"
Pram bengong memandang Davina. Selama ini dugaannya benar, kalau Ayu jadi salah satu korban pembunuhan. Dan tebakan Davina memang benar kalau di Rumah kos itu ada sesuatu yang tidak beres.
"Berarti salah satu kepala di dalam tong itu... Ayu!". Pram geram dengan tindakan itu. Tapi dia belum bisa menemukan siapa orang di balik itu semua. Davina menceritakan ketika pagi tadi. Saat dia berada di depan pohon beringin, dia bertemu dengan wanita yang dia panggil bu Anna. Sebenarnya dia tidak yakin kalau itu bu Anna atau bu Anni. Karena dia belum benar-benar bisa membedakan yang mana bu Anna dan yang mana bu Anni. Namun dia terpaksa memanggil bu Anna agar tidak terlihat kaku dan menghargai orang yang jauh lebih tua.
"Aku pun masih sulit membedakan. Penghuni lain pun begitu", ucap Pram.
"Iya, mereka selalu memakai pakaian yang sama. Tingkah laku mereka pun sama. Fisik mereka apalagi", keluh Davina.
Jadi kira-kira siapa yang dihalaman tadi pagi. Bu Anna atau bu Anni. Batin Davina masih kebingungan akan sosok wanita itu.
Mampir dulu di tempat makan. Sudah menunggu Nova dan Santi. Mereka tengah duduk berdempetan menatap sendu ke depan. Seperti tak bermasa depan. Pram dan Davina mendekati. Bergabung dengan dua mahasiswi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH KOS
Misterio / SuspensoSeorang gadis yang cantik merantau dari kota Semarang ke kota Jakarta. Davina diterima bekerja sebagai seorang sekertaris CEO sebuah perusahaan swasta. Sebagai gadis yang baru nebapakkan kakinya di kota sebesar Jakarta, Davina tidak teliti dalam mem...
