BAB 10
Suara teriakan terdengar sangat kencang. Di samping. Di rumah kecil. Rupanya Ridwan sudah sadar. Dan mulutnya belum tersumpal. Kepanikan melanda sepasang suami istri penjagal itu. keduanya mencari pakaian Ridwan, tapi sudah tidak ada. Sepertinya di bawa pria bertopeng buff itu.
"Tolooong!, Toloong,.."
Sayup-sayup teriakan meminta tolong terdengar ke kamar Pram. "Suara siapa itu?!"
"Tolooong!, Toloong!.."
Suara itu kembali terdegar. Lebih kencang. Dan serak. Menyayat lirih. Pram kembali mendengarnya. "Sepertinya dari rumah di samping". Dibuka gorden jendela kamarnya yang menghadap ke halaman depan. Dia mencoba mencari tahu, dari mana sumber suara itu. Tidak ada siapa pun di luar. Dia menyibakkan kain gorden lebih lebar lagi. Merapatkan tubuhnya ke dinding dan jendela. Melihat dengan memepetkan wajahnya ke kaca jendela. Dia ingin melihat ke rumah kecil yang posisinya tidak sejajar dengan kamarnya. Lebih menjorok ke dalam.
Rumah itu terang. Kelihatan dari atapnya yang berpendar. Ya, rumah tersebut memang tak memiliki langit-langit. Hanya ditutupi atap rumah berupa genteng kodok yang sudah berlumut. Sudah tua.
"Argghh, lepasin!. Lepasin!..", kembali Pram mendengar suara laki-laki itu berteriak.
"Sebenarnya apa yang terjadi di rumah itu. kenapa ada suara orang berteriak minta tolong. Dan meminta di lepasin", dari tadi Pram berbicara sendiri. Mencoba memecahkan misteri malam yang janggal baginya.
"Apa suara itu, suara laki-laki di depan kamar Ridwan tadi. Kalau memang benar, berarti antara suaranya Ilham atau Tomi. Trus kemana Ridwan". Dia mencoba mengingat suara seseorang di depan kamar Ridwan yang tertangkap basah oleh suara seorang wanita.
Pram langsung ingat. Ia segera mengambil ponselnya. Kemudian menelepon Ridwan. Berkali-kali dihubungi, hanya suara nada sambung yang terdengar.
"Jangan-jangan yang di dalam rumah itu Ridwan. Sedang di siksa". Namun ia langsung menepis pikiran buruknya. "Ah ngga mungkin. Ridwan baik-baik aja. Mungkin sedang di kamar mandi sewaktu aku di kamarnya". Pram terus berdiri. Menanti kelanjutan jerit memilukan di rumah kecil itu. Kemudian dia menggelosor duduk menyandar ke dinding. Di bawah jendela kaca.
Sementara di dalam rumah kecil itu. Ridwan terus meronta-ronta. Tak henti berteriak. Memanggil-manggil siapa pun di rumah kos. Sayangnya Pram tidak mendengar. Dia tertidur bersandarkan dinding di bawah jendela kaca.
Karena saking geramnya korban yang tidak bisa terdiam, pria penjagal itu melepas celananya. Dan menyumpal mulutnya dengan celana dalamnya. Sang istri yang melihat terperangah dengan tindakan suaminya. Jadilah dia ikut menurunkan pakaiannya. Sesuai keinginannya mereka melakukan hubungan intim di depan Ridwan.
Ridwan jijik melihatnya. Desahan-desahan sepasang penjagal itu membuatnya mual. Dia ingin melepaskan diri. Tetapi tenaganya sudah habis. Ridwan mencoba berteriak, tetapi sumpalan di mulut membuatnya tersedak. Dia menangis. Air matanya memberontak keluar.
Selesai menyelesaikan hasratnya, sepasang penjagal itu mengenakan pakaian. Lalu, seperti biasa. Sang suami mengasah golok yang menjadi senjata andalannya untuka menghabisi korban. Dan sang istri mengelilinginya, melihat tubuh tanpa busananya sambil tersenyum menggoda. Kerlingan matanya membuat Ridwan tersulut amarah. Namun dia tidak mampu berbuat banyak.
Wanita itu mencium pipi sang korban. Lalu menoleh pada sang suami. Dia mengangguk. secepat kilat suaminya menebas leher Ridwan dengan goloknya yang sangat tajam.
Darah segar menyembur ke segala arah. Tak terkecuali ke wajah sang istri yang masih menciumi pipi Ridwan. Bukannya menghindar, wanita itu justru menadahinya dengan telapak tangan kanannya yang dikerucutkan. Dan darah segar yang tertampung diminumnya. Hanya sekali tenggakan saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH KOS
Mystery / ThrillerSeorang gadis yang cantik merantau dari kota Semarang ke kota Jakarta. Davina diterima bekerja sebagai seorang sekertaris CEO sebuah perusahaan swasta. Sebagai gadis yang baru nebapakkan kakinya di kota sebesar Jakarta, Davina tidak teliti dalam mem...
