PERTIKAIAN DI HALAMAN

12 1 0
                                        

BAB 19 

Tubuh didera letih teramat sangat. Menaiki tangga curam rumah kos ini bak mendaki gunung terjal untuk pertama kalinya. Sangat melelahkan. Menguras keringat. Menyesakkan napas. Benar yang dikatakan Pram beberapa waktu lalu, tubuhnya harus dibiasakan bergerak. Berolahraga. Setidaknya berjalan setiap pagi sebelum berangkat kerja. Atau sekali seminggu di akhir pekan. Yah, berkeringat dengan cara yang santai tidak dengan dipaksa seperti menaiki tangga rumah kos ini.

Blouse putih yang dipakainya basah oleh keringat yang mengalir cukup deras. Lepek. Blouse dengan bahan chiffon itu melekat ditubuhnya. Lekukan punggung indahnya tergambar jelas. Bahannya yang tipis menerawang memperlihatkan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat. Bahkan warna tali bra-nya terlihat jelas. Blazernya sudah dilepas sejak meninggalkan kantor. Pram yang mengikuti dari belakang tak sengaja melihat pemandangan langka ini. Wajahnya memerah. Tapi menikmati. Dan ketika Davina membalikkan tubuhnya menghadap Pram, sempat terlihat bagian depannya yang selama ini ditutupi gadis itu. Pram segera memalingkan wajahnya.

"Eee, aku langsung ke kamar ya Vin", ucapnya kikuk.

"Iya mas"

Malam ini cuaca enggan menghangatkan jiwa. Di cakrawala, bergulung awan hitam merayap berteman suara gemuruh. Dingin udara menghembus. Membius menghantarkan kantuk. Gadis cantik berwajah oriental itu berbaring setelah ritualnya selesai sebelum beranjak ke peraduan –ritual bagi kaum hawa. Baru jam delapan malam. Tetapi kedua kelopak matanya yang membentuk bulan sabit tak kuasa menahannya untuk tetap membuka. Ia tertidur.

Di kamarnya, Pram melihat sapu tangan teronggok begitu saja di meja kecil di kamarnya. Ia mengambil. Lalu menciumnya. Ia ingat, sapu tangan itu ditemukannya di bawah tangga ketika Ridwan menghilang malam itu.

Pram mengambil ponselnya yang masih tersimpan di dalam tas kerjanya. Dia bermaksud menelepon Davina. Dicarinya nama gadis itu di dalam daftar kontak. Lalu dia menghubunginya. Walaupun tinggal dalam rumah kos yang sama. Di lantai yang sama. Pram bukanlah seperti pria lainnya, yang tiba-tiba datang ke kamar Davina. Laki-laki ganteng itu akan memberitahu si gadis jika akan datang ke kamarnya.

Beberapa kali telah dihubunginya. Gadis itu tak mengangkatnya. Hanya nada sambung yang menyapa di telinga Pram. Berulang kali. Ingin mendatangi kamarnya, namun tak enak rasanya pada penghuni yang lain. Pergerakannya serasa dibatasi di rumah ini. Seperti ada yang memata-matai.

Pasti Vina sudah tidur. Besok saja aku bicara langsung. Gumam batinnya. Mendadak teringat Santi dan Nova belum kembali. Ia juga teringat sesuatu. Apa Davina sudah mengunci kamarnya. Atau menggeser lemari ke belakang pintu kamarnya.

Berinisiatif mendatangi Davina. Ia hanya ingin mengingatkan yang harus dilakukan gadis itu sebelum tidur. Sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar, Pram menghubungi Nova untuk menanyakan kepulangannya.

"Sudah di depan gerbang mas Pram. Sama Santi"

Pram lega mendengarnya. Dan memberitahunya kalau Davina sudah tertidur, makanya meminta Nova dan Santi untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Pram tahu kalau kedua mahasiswi itu mempunyai kunci kamar Davina. Ya, gadis pujaannya itu sengaja memberi kunci cadangan untuk Santi dan Nova kalau sewaktu-waktu ingin masuk ke dalam kamarnya.

*

Dua minggu berlalu. Dua minggu yang tenang tanpa ada penghuni yang pergi tanpa berkabar dengan penghuni yang lain. Dua minggu yang tidak membuat gusar penghuni. Tapi tidak seluruh penghuninya tidak gusar. Hanya empat orang saja yang memahami sesuatu tapi belum bisa berbuat apa-apa.

Malam itu. Setelah semua tertidur. Pram keluar kamar. Lapar melanda perutnya. Banyaknya tugas kantor membuatnya lupa untuk membeli makan malam. Niat hati ingin mengajak Davina, namun tidak jadi. Karena Davina yang sedang berkutat dengan tugas-tugas kantornya di kamar. Ia bergegas keluar rumah kos. Tempat biasa membeli makan. Dan Pram akan membelikan gadis itu makan malam. Kejutan kecil untuk gadis pujaannya.

RUMAH KOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang