DI UJUNG KEMATIAN

12 1 0
                                        


BAB 20 

Setelah pulang kerja. Pram langsung memasang cctv di jendela kamarnya yang menghadap halaman rumah kos. Dan di dalam kamarnya di sudut ruangan. Di belakang pintu. Cctv yang dia beli saat jam makan siang yang tidak jauh dari kantornya. Pram semakin yakin kalau sosok bertopeng tadi malam adalah seorang yang dia curigai. Antara Tomi dan Ilham. Pram yakin akan bisa memergoki pelakunya.

Sudah selesai dipasang, Pram mengunduh aplikasi yang berhubungan dengan cctv itu di ponselnya. Dia sedikit tenang. Kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan kejadian seperti semalam, bisa dia berikan bukti itu pada kepolisian. Hingga kini, Pram belum mendapatkan informasi dari keluarga pak Sugeng yang mencari keberadaan Ayu. Walaupun dia sudah tahu sebenarnya kalau kemungkinan besar Ayu adalah korban kebiadaban penjagal-penjagal tak punya hati itu.

Malam ini Davina tidur sendiri. Santi dan Nova menginap di kampus karena mereka menjadi panitia untuk event di beberapa fakultas perguruan tingginya. Pram sangat khawatir, mengingat kejadian kemarin malam yang hampir mengambil satu korban lagi di rumah kos ini. Entah dirinya atau Davina. Pram yakin, mereka berdua adalah target selanjutnya. Lalu ia mengingat tongkat baseball yang ditemukan Tomi di lantai bawah sewaktu Ridwan menghilang. Apa benar Tomi tidak mengetahuinya, atau hanya akal-akalannya saja pura-pura tidak mengetahuinya.

Ingin rasanya mencari keberadaan tongkat baseball itu. Tapi di mana Tomi menyimpannya. Keluar di jam tengah malam ini. Bukannya Pram takut, tapi prasangka buruk akan disematkan padanya. Dan bukan takut pada makhluk tak kasat mata. Tapi pada manusia-manusia kejam yang kesadisannya melebihi iblis.

Pram mencoba mengecek apa Davina sudah tidur. Dia melakukan panggilan telepon. Beberapa kali tidak diangkat. Pram memutuskan tidak meneleponnya lagi. Mungkin Davina sudah tidur. Pikirnya. Namun tak berlangsung lama, Davina meneleponnya. Menanyakan kenapa Pram menghubunginya di tengah malam. Dengan gamblang Pram mengetakan kalau ia khawatir karena gadis itu sedang sendirian di kamarnya.

"Aku justru pengen ngecek ke rumah kecil itu mas"

"Mau ngapain Vin"

"Aku penasaran aja mas. Siapa tahu sosok bertopeng itu ada lagi"

Pram melarangnya. Namun tanpa sepengetahuan laki-laki ganteng itu, Davina turun ke bawah sendirian. Berjalan melewati kamar-kamar tanpa penerangan. Rata-rata mereka sudah mematikan lampunya sejak pukul delapan malam. Rumah kos ini sangat sepi sejak kepergian lima orang tanpa kabar, yang sampai sekarang dari pihak kepolisian belum mampu membongkarnya.

Davina sampai di depan rumah kecil itu. Dia berdiri di depan pohon beringin di samping kolam ikan yang airnya sudah mengering. Tak ada siapa-siapa di sana. Sunyi. Hanya suara jangkrik saling bersahutan menandakan tempat itu tak terjamah sejak kemarin malam. Dia berjalan ke depan pintu pagar rumah kecil. Di gembok. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Gadis itu mengingat tiga potongan kepala yang belum sempat di lihatnya.

Kemana ya potongan tubuh itu dibuangnya. Bagaimana caranya mereka membawa dua tong besar yang terbuat dari besi. Kalau bukan karena bantuan laki-laki bertenaga besar, hal itu tidak mungkin terjadi. Apa dugaan Pram benar. Kalau salah satu sosok bertopeng itu Tomi atau Ilham. Apa dia yang membantu membuang tong-tong besar itu. Tapi untuk apa mereka melakukannya... untuk uang??

Davina berdiri mematung di bawah temaram cahaya. Alunan suara jangkrik yang sedari tadi bersahut-sahutan tidak mengendurkan niatnya untuk melihat ke dalam halaman rumah kecil itu. Davina mengintip dari lubang kecil di mana gembok itu di kaitkan. Dia melihat ke pojok kiri. Dan memang sudah tidak ada dua tong besi berukuran besar di situ.

RUMAH KOSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang