BAB 18
Akhir pekan yang melelahkan. Hari yang tak ingin terulang lagi. Seharusnya menjadi hari yang digunakan untuk berkumpul dengan keluarganya. Namun, hari sabtu ini menjadi pelajaran rumah untuk sang komandan. Laporan keluarga Ayu membuatnya harus menyelidiki kebenarannya. Kemana perginya Ayu yang tidak mengabari keluarganya. Hari yang menjengkelkan.
Seorang laki-laki ganteng menghampiri meja makan. Tiga orang polisi sudah menunggunya. Seraya menahan perut yang kelaparan, kembali bersiap untuk menginterogasi penghuni rumah kos ini. Sementara jarum jam sudah berada di titik yang sama. Tepat menunjuk ke atas, ke matahari yang berdiri tegak lurus.
"Silahkan duduk saudara Pram", tukas sang komandan.
"Terima kasih pak"
Penghuni kos yang lain sudah letih menunggu di teras. Menunggu giliran di interogasi. Berharap waktu bergerak lebih cepat. Walaupun biasanya mereka berharap sebaliknya, waktu bergerak lebih lambat di setiap akhir pekan.
"Saudara Pram", ucap komandan sengaja meninggikan suaranya. Dan semakin meninggi ketika menyebut nama pemuda itu.
"Ya pak", jawabnya tenang. Memang terlihat tenang di wajah. Tapi jantung serasa ditabuh stick drum berkali-kali.
"Dari daerah mana anda berasal?"
"Jogja pak"
"Saya dengar. Saudara Pram adalah penghuni terlama di sini. Bisa ceritakan bagaimana keadaan dari pertama masuk ke sini hingga detik ini duduk di depan saya"
"Saya sudah lima tahun tinggal di sini pak. Keadaan masuk pertama kali biasa saja. Seperti rumah kos yang lain"
"Ini rumah kos yang keberapa anda tempati selama di Jakarta?"
"Yang ketiga pak"
"Di dua rumah kos sebelumnya. Berapa lama menetap?"
"Tidak lebih dari lima bulan"
"Kenapa di sini sampai lima tahun?"
"Murah pak"
Pram berusaha membuat interogasinya menjadi mudah. Dia hanya menjawab sesuai pertanyaan dari komandan polisi tersebut. Tidak ingin bertele-tele.
"Baik. Selama saudara tinggal di sini. Ada sesuatu yang menurut saudara ganjil?"
"Ya itu pak..", laki-laki ganteng itu diam sejenak. "Ada beberapa orang yang pergi tanpa kabar ke kami"
"Kenapa saudara bilang pergi tanpa kabar?"
"Karena pagi-pagi sekali mereka sudah menghilang. Sementara malamnya masih ada di sini pak"
"Kenapa saudara yakin mereka menghilang?"
"Setelah mereka mendadak pergi. Saya dan penghuni lain selalu menghubungi ponselnya. Tapi tidak pernah diangkat. Bahkan beberapa langsung tidak aktif"
Giliran sang komandan yang terdiam. Mencari kalimat yang tepat untuk pertanyaan selanjutnya. Tak lupa, setengah kopi yang tersisa dihabiskan. Komandan itu menyeka mulutnya. Setitik air kopi tersisa dikumis tipisnya.
"Selama saudara tinggal di sini. Sudah berapa penghuni kos yang pergi tanpa kabar?"
"11 orang pak"
KAMU SEDANG MEMBACA
RUMAH KOS
Misterio / SuspensoSeorang gadis yang cantik merantau dari kota Semarang ke kota Jakarta. Davina diterima bekerja sebagai seorang sekertaris CEO sebuah perusahaan swasta. Sebagai gadis yang baru nebapakkan kakinya di kota sebesar Jakarta, Davina tidak teliti dalam mem...
