08

730 79 5
                                        


Holllaaaa
Maaf ya bestie lama banget updatenya 😢 semoga kalian setia menunggu ya...
Mau aku spill draft ebooknya Djiwa sedikit ga? Buat obatin kangen kalian gitu maksudnya kali aja ada yg kangen Djiwa Alden






"Ayah gimana sayang? " Tanya Novia melihat putri tunggalnya Faradilla berjalan memasuki kamar rawat inapnya

"Belum tau Bu, nanti Dilla cari tau ya... Ibu makan dulu ya" Dilla berusaha telaten mengambil mangkuk berisi soto ayam sebagai makan siang sang Ibu yang di sediakan rumah sakit

"Ibu ga mau makan itu, Ibu pengennya ayam kecap nak" Dilla tertegun

Dalam kantong celananya hanya tersimpan uang pecahan dua puluh ribuan itupun hanya satu lembar sedangkan seluruh tabungan dan sistem keuangan mereka saat ini tengah di bekukan untuk kepentingan penyidikan bagaimana cara Dilla menyampaikan situasi ini pada sang Ibu?

"Nanti malam Dilla beliin buat Ibu ya, sekarang Ibu makan ini dulu" Novia menolak dengan menggelengkan kepala juga mendorong pelan mangkuk soto itu

"Kamu aja yang makan" Novia tau putri tunggal kesayangannya itu belum makan apapun sejak pagi tadi

"Kalau roti? Ibu mau roti ga? Atau Dilla kupas kan buah ya? " Lagi lagi Novia menggeleng sebagai respon

Dilla yang bingung, lelah dan banyak pikiran merasa mulai kehabisan kesabaran tanpa sengaja meletakkan mangkuk itu sedikit keras di atas meja sebelum keluar ruangan

Dara cantik itu duduk di kursi tunggu depan ruang rawat inap Ibunya dengan menangis dan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan

Ia merindukan sang Ayah dan kehidupan mereka yang baik baik saja beberapa waktu lalu, seolah berubah 180° kini mereka terpisah tanpa bisa bertukar kabar dan pelukan seperti yang biasa mereka lakukan. Faradilla Ayu Anjani kini berada di titik terendah dalam hidupnya

*****

"Abah lihat berita ternyata ayahnya pacar kamu itu korupsi ya Dek? Kok bisa gitu sih? Pikir pikir lagi deh" Rizky hanya diam tak merespon sedikitpun ucapan sang Ayah

Ketatnya proses penyidikan di area polisi militer membuat Rizky kesulitan mendapat informasi tentu saja untuk kepentingan proses penyidikan pula Aji tidak dapat di temui

"Mending cari yang lain aja Dek dari pada karir kamu tercoreng kena imbas mereka bisa jadi pak Prabowo nanti juga ikutan kena" Terang pria paruh baya itu lagi

"Biar proses penyidikannya selesai dulu Bah" Jawab Rizky se kenannya

"Abah kasih tau kamu supaya kerja keras kamu selama ini ga sia sia gitu aja cuma gara gara perempuan" Kali ini Rizky tak terima

Di kenal sebagai sekertaris pribadi salah satu politikus ulung di Indonesia membuat nama Rizky Irmansyah kerap di perbincangkan khalayak ramai

Kerap di isukan dekat dengan beberapa wanita mulai dari kalangan selebriti hingga pengusaha membuat sepak terjang kehidupan asmaranya tak berjalan mulus dan selalu terekspose publik

"Belum ada kejelasan apa apa Bah jadi biarkan proses penyidikannya berjalan sesuai prosedur" Ucap Rizky tegas

Meski begitu ia tak habis pikir beberapa waktu lalu kedua orang tua juga kakak perempuannya terlihat sangat menyukai sosok Faradilla kini berbalik melarang mereka berhubungan

*****

"Maksud Dilla kalau tante ada simpanan Dilla mau pinjam dulu barang satu juta tante nanti Dilla kembalikan kalau sudah ada kerjaan" Dilla mencubit paha kanannya sendiri menahan ego dan rasa malu untuk memberanikan diri meminjam sejumlah uang demi sang ibu menggunakan telefon genggam yang ia pinjam dari asisten rumah tangga yang telah belasan tahun bekerja bersama keluarganya

"Bukan tante gamau pinjamkan ya gimana anak anak tante sudah SMA banyak pengeluaran" Kuku panjangnya menggores paha mulus itu hingga mengeluarkan sedikit darah dan memerah

"Nanti Dilla ganti kalau Dilla punya uang tante" Lirih Dilla dengan suara mulai bergetar, ia kalut seolah seluruh jalan di hadapannya tertutup rapat

Merasa tak mendapat bantuan yang ia harap Dilla mencoba menghubungi saudara yang lain berharap mendapat uluran tangan

"BISA GA SIH KALAU ADA MASALAH GA USAH NYERET KELUARGA LAINNYA!!" Tanpa salam dan ramah tamah, saudara dari garis sang Ibu justru membentaknya kencang membuat air mata yang sedari tadi Dilla tahan akhirnya jatuh juga

"Om... Dilla minta maaf kalau Dilla dan orang tua Dilla ada salah tapi kali ini aja Dilla mohon bantuannya" Isak tangis itu kian kencang bahkan Dilla tanpa sadar membungkukkan badannya seolah berhadapan langsung dengan orang yang di mintai tolong padahal mereka hanya berbincang melalui telefon genggam

"BILANG SAMA ORANG TUAMU ITU YA KALAU GA MAMPU YA GA MAMPU AJA GA USAH KORUPSI KORUPSI SEGALA BIKIN MALU!! " Sambungan telefon itu di tutup sepihak

Dilla sesekali memukul dadanya sendiri saat perasaannya tak dapat tergambarkan ia khawatir pada kesehatan sang Ibu, merasa gagal, malu, marah dan sedih semua bercampur menjadi satu tak tertahankan lagi

"Non... Non Bibi ada sedikit uang buat pegangan Non dulu aja ya? Buat Ibu beli ayam kecap makan sama Non Dilla ya? " Isaknya semakin keras, tak ada lagi binaran wajah ceria Faradilla yang dulu lagi

"Non Dilla jangan sedih sedih... Yang kuat ya cah ayu.. Sebentar lagi Non dan keluarga di angkat derajatnya sama Gusti Allah" Dilla memeluk erat tubuh paruh baya yang mulai renta itu

*****

"Sayang.. Tadi Mas Rizky ada telfon aku katanya aku di minta bantu ngasih pendampingan hukum ke.. Hmmm... Siapa namanya tadi ya.. " Suara halus itu terjeda beberapa saat

"Dilla sayang" Jawab Dimas membantu sang istri Nabila Dian Kartika mengingat ingat nama yang di sebutkan rekanannya tadi

"Oh iya... Kamu sudah tau? Boleh berarti ya? " Tanya Nabila bersemangat

"Boleh sayang... Pendampingan buat Dilla dan Ibunya, saya dengar dari cerita Rizky juga kasian sekali mereka ... Ini anak anak belum pulang sekolah ya? Kok sepi" Tanya Dimas balik

"Belum.. Tadi Dhanu telfon katanya Abang di ajak jenguk Miss Claire di rumahnya itu loh gurunya yang kemarin kecelakaan yang kelingkingnya patah, aku jalan sekarang ya Yangg" Nabila mengikat rambutnya ke atas memperlihatkan leher jenjangnya

"Oh yaudah... Trus jalan sama siapa diantar siapa?" Jika Dhanu tengah menjemput kedua buah hati kembar mereka maka tak akan ada yang mengantar Nabila

"Sama Mama sama Mas Awan, ini Mama mau ke rumah sakit check up rutin bareng Mas Awan sekalian nanti pulangnya baru di jemput Dhanu sekalian aku ke galeri ya" Jelas Nabila panjang lebar dengan senyum merekah di wajah cantiknya

"Ke galeri mulu.. Kamu pengacara atau kurator sih? Kenapa gemesin banget" Suara Dimas lebih kecil di ujung kalimatnya

Semenjak mengetahui dirinya kembali berbadan dua, Nabila sangat menyukai seni bahkan tak ada sehari pun ia lewati tanpa berkunjung ke galeri seni milik salah seorang teman Dimas

Usia kandungannya menginjak bulan ke 4 di lalui Nabila tanpa hambatan berarti sejauh ini dan sudah sangat membuatnya bersyukur karna di kehamilannya yang kedua ini jauh lebih mudah dari kehamilan pertamanya dulu








Bersambung...











HealerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang