10

591 63 14
                                        



🔴🔴 TYPO ALERT 🔴🔴

Buat bestie's kecintaan aku yg kemarin request update healer mana suaranya? Wajib komen yg banyak yaw...
Part ini masih kurang nyambung sama vibes part sebelumnya jadi harap maklum karna saya agak puyeng nyambunginnya susah 😩 jangan lupa komen dan vote yg banyak ya biar ga bintitan 😎





Tak pernah terukir dalam sejarah bahwa kehilangan orang terkasih tak meninggalkan duka, kurang lebih itulah yang di alami gadis cantik Faradilla Ayu Anjani saat ini, setelah sang Ibu berpulang dan sang Ayah yang kembali menjalani proses penyidikan, dunia yang ia jalani benar benar terasa luluh lantak.

Bumi tempat berpijak seolah tak merestui bahagianya, masalah dan coban datang bertubi tubi... gadis malang itu kini tak memiliki arah, terombang ambing dalam lautan duka dan berkubang di dalamnya.

Dering telefon genggam menggema kencang dari atas tempat tidur empuk, dalam sebuah kamar yang berukuran tak terlalu luas namun cukup nyaman, apartemen milik Nabila Dian Kartika yang di tinggali Dilla untuk sementara.

Gadis cantik itu terusik, hari ketiga setelah kehilangan ibunya Dilla sama sekali tak bisa tidur dengan tenang, bahkan pagi ini Dilla bangun dengan kondisi meringkuk di lantai yang beralaskan sajadah dan mukenah lengkap yang masih ia kenakan sejak subuh tadi.

"selamat pagi cantik, ganti baju... saya tunggu kamu di bawah, hari ini kita jalan jalan sekalian sarapan di luar aja." bibirnya tersenyum namun tatapan matanya tetap kosong.

"mungkin lain kali ya Pak, hari ini masih..." kalimat Dilla terputus mendengar nada tak sabaran pria di sambungan telefon tersebut.

"saya ga terima penolakan, waktunya Cuma 10 menit atau kamu pilih, kamu yang turun ke lobby atau saya yang naik ke apartment kamu." Sambungan telefon itu di putus sepihak membuat kening Dilla mengkerut heran.

Setelah sadar dari lamunannya, Dilla bergegas mandi dan menganti bajunya, merias wajah dengan ala kadarnya hanya agar tak terlihat terlalu pucat saja. Gadis cantik dengan mata sembab itu turun menuju lobby yang di maksud, dari kejauhan Dilla melihat punggung tegap yang baru hari ini bisa menemuinya lagi setelah terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit kala itu.

"kirim semuanya ke email saya, nanti saya priksa dulu." Dilla berdiri tepat di balik punggung lebar itu, dengan jarak yang cukup dekat ini Dilla mampu mencium wangi tubuh seorang Rizky Irmansyah yang begitu ia suka, rasanya sangat menenangkan.

"eh.. kirain masih di atas." Hati Rizky terasa terhimpit batu besar yang menyesakkan dada, saat menyadari tubuh gadisnya nampak kehilangan berat badan, semangat, dan binaran mata yang indah itu.

Dilla hanya tersenyum kecil dan membiarkan Rizky menariknya dalam dekap hangat pria itu, semua orang memang datang dan pergi namun Dilla berharap setidaknya Rizky akan tetap tinggal, hingga tanpa terasa matanya mulai basah seolah mengadu betapa pilu hari harinya kini.

"saya disini, maaf ya." Sesekali Rizky mencium puncak kepala Dilla hangat. Setelah dirasa cukup tenang Rizky mengurai peluknya dan menatap wajah sendu Faradilla.

"padahal dulu tengil banget, sekarang clingy banget ya." Ejeknya berhasil membuat seutas senyum Dilla merekah indah.

"kapan sampai Indonesia?" alasan utama Rizky tak bisa menemani Faradilla di pemakaman sang ibu adalah tengah bertugas di luar negeri selama beberapa hari.

"semalem, ga bisa tidur saya keinget bocil ini terus." Rizky mengacak rambut Dilla gemas.

"ayo jalan, keburu siang." Dilla memandang tangan kanannya dalam genggaman Rizky dengan hati menghangat, bolehkah Dilla berharap lebih? Bisakah Dilla berharap bahagia sekali lagi?

Sepanjang perjalanan Rizky terus saja berkelakar betapa menyenangkannya perjalanan dinasnya beberapa saat lalu, hingga kejadian kejadian lucu di luar nalar yang ia alami hanya untuk mendengar tawa geli gadisnya, hingga sampailah mereka di Dufan, Ancol. Rekomendasi dari saudara perempuan tercintanya Nabila Dian Kartika, membawa Dilla berlibur sejanak untuk melepaskan riuh di kepalanya barang hanya sehari.

"kenapa ke Dufan?" tanya Dilla heran.

"emang kamu ga suka? Banyak wahana yang belum pernah saya selesaikan." Dilla hanya menurut, mengekori langkah lebar itu.

Satu persatu wahana mereka coba, mulai dari wahana air hingga wahana yang memacu adrenalin semuanya mereka naiki berdua, adrenalin yang meningkat membuat Dilla sejenak berhasil melupakan kesedihannya, puncaknya saat mereka berdua ada di wahana roller coaster Dilla nampak sangat menyukainya karna dapat berteriak kencang dan bebas, sementara wajah Rizky memerah menahan gejolak dalam perutnya menahan muntah.

"ayo naik sekali lagi!" tanpa menjawab, Rizky turun dengan cepat dari kereta kecil yang bergerak setengah gila itu.

"ayo sekali lagiii... aku mau naik sekali lagi." Sebelum menaiki wahana satu ini, Rizky membayangkan bahwa Dilla akan memeluknya erat dan berteriak ketakutan, namun ia salah... dara cantik itu bahkan kini nampak ketagihan dan tak ada rasa takut sama sekali dengan wahana mematikan itu.

"kamu aja, saya tunggu disini" jawabnya lemah, Rizky menunggu di luar pagar pembatas arena sementara Dilla kembali menaiki wahana itu di putaran kedua, tak jauh berbeda gadis itu nampak seperti kecanduan dengan wahana wahana berbahaya lainnya.

Keringat yang membasahi wajah cantiknya sama sekali tak melunturkan semangat dalam diri dara cantik tak kenal takut itu, hingga membuat Rizky keheranan sendiri.

"makasih ya Pak Rizky ... hari ini aku bisa istirahat." Binar mata cerah dan raut wajah ceria itu benar benar memukau Rizky, terasa seperti slow motion yang sering ada di film film, waktu seolah berjalan lambat untuknya saat ia menatap dalam mata indah itu.

"banyak sekali yang perlu di revisi itu." Rizky menarik tangan gadis itu lembut untuk duduk di salah satu tempat istirahat yang telah di sediakan.

"apa emangnya?" tanya Dilla tak mengerti.

"pertama ayo kita tetapkan dulu, saya bukan Bapak kamu apalagi pimpinan kamu jadi jangan panggil Bapak, lagi pula kita kan pacaran." Dilla bahkan ternganga mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir pira tampan disampingnya ini.

"ga usah protes, mau protes kan? Simpen aja protesnya... mulai hari ini saya mau di panggil hmmm... apa ya? Kamu pilih deh sayang, ayang, cinta, baby, bee, bubub apa lagi panggilan anak jaman sekarang itu ya?" Dilla benar benr tak percaya dengan apa yang baru ia dengar itu.

"pilih satu buruan, ga boleh protes!" wajah Dilla nampak bingung, hingga membuat Rizky mati matian menggigit pipi dalamnya gemas.

"tapi... tapi sejak kapan? Kita kan ga pacaran, Pak Rizky juga ga ada nembak aku tuh." Akhirnya suara Dilla berhasil kembali.

"sejak hari ini, Jakarta 18 September 2024 hari pertama Rizky Irmansyah jadi milik seorang Faradilla Ayu Anjani." Jarak mereka sangat dekat hingga membuat Dilla menahan nafasnya sesaat, sebelum merasakan benda lembut dan hangat menempel di atas bibir ranumnya.










Bersambung...











HealerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang