11

507 45 4
                                        





Holla friend 😚 siapa yang kangen Rizky Dilla? Kali ini up setelah sekian tahun ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Holla friend 😚 siapa yang kangen Rizky Dilla? Kali ini up setelah sekian tahun ya.. Mohon bersabar 🤗 lagi lagi alasannya karna kalau ga mood aku ga maksa nulis, tapi akhirnya harus kupaksa karna lama banget ga up 🤧

Jangan lupa shadow sudah tersedia di google play ya sayangku 🤗





Sesuai dengan apa yang di ucapkan pria tampan itu di hari sebelumnya, pagi ini Faradilla di jemput di apartmen milik Nabila untuk menuju ke suatu tempat yang masih di rahasiakan, Rizky memintanya untuk berpakaian rapi dan berdandan secantik mungkin.

"hmmm mencurigakan." Dilla menatap wajah tegas di sampingnya itu, rahang yang kokoh dengan senyum tipis adalah perpaduan indah menyambut pagi harinya.

"apa sih." Rizky menjawab seadanya membuat Dilla kembali memfokuskan pandangannya pada sosok tegap itu.

"kemana sih kita? Ooooh... atau jangan jangan Pak Rizky mau lamar aku? Ih... ih... malu banget." Tawa Rizky meledak, dari awal ia tau bahwa Dilla adalah sosok gadis ekspresif dan ceplas ceplos namun sangat lucu di matanya.

"Geer banget... ngarep ya kamu? Mau di lamar sekarang?" Dilla menutup wajah dengan kedua tangannya malu, astagaaaa apa tidak bisa sedikit saja mulutnya ditahan agar berhenti berkata yang tidak tidak?

"engga... siapa yang geer? Biasa aja." Elak Dilla menahan rasa malunya.

Wajah yang sudah memerah itu kian nampak jelas saat mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran sebuah kantor milik negara bernuansa hijau pupus, Dilla mengenalinya dengan sangat. Beberapa waktu sebelumnya dara cantik itu tersipu karna malu dan kini wajahnya merah menahan haru saat sang Ayah berdiri di lobby kantor tersebut nampak beramah tamah dengan beberapa orang di sampingnya.

"hari ini dandan cantiknya karna mau jemput Ayah... Ayah kamu di bebaskan hari ini, lamarannya nanti nanti ya." Bisik Rizky di telinga kiri Dilla.

Tak langsung turun dari mobil, Dilla justru masuk dalam dekap hangat tubuh tegap pria di sampingnya, pria yang memberi segala yang ia inginkan, bukan tentang uang... Rizky memberinya keluarga dan dukungan yang sangat ia butuhkan.

"makasih ya." Tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa bersyukurnya Dilla memiliki Rizky di sampingnya.

"mulai sekarang... bahagia kamu adalah prioritas buat saya, yang kuat ya... kamu harus terus sehat biar bisa balas budi ke saya." Bukannya mereda dan tertawa, tangis bahagia itu kian deras membuat Rizky tertawa.

"Ayah nungguin nih, masa mau peluk terus." Dengan cepat Dilla melepas pelukan itu dengan sedikit kasar, Rizky tak marah justru ia tertawa.

"ya kamu makanya jangan peluk aku terus, gimana sih." Nadanya sangat sewot, namun wajah sembab itu sangat menggemaskan di mata Rizky yang tengah jatuh cinta pada dara cantik ini.

"Ayah." Aji memeluk putrinya erat, putri kecil semata wayang kesayangannya telah melalui banyak hal sendirian.

"maafin Ayah ya Nak." Mata pria paruh baya itu menangkap sosok Rizky di belakang Dilla dan membuka sebelah tangannya, mengijinkan Rizky ikut memeluknya.

"kalau bukan kamu, saya ga tau bisa minta tolong ke siapa lagi buat jagain anak saya yang nakal ini." Aji bersungguh sungguh dengan ucapannya, bersyukur sang putri berada di lingkungan yang baik dan di kelilingi orang orang yang yang menyayanginya, walau merasa harus membalas budi namun Aji Prawinto benar benar berterimakasih.

"Ayahhh." Dilla merengek tak terima dan mengurai pelukan itu.

"sekalian ijin Jendral, tadi anak nakal ini sudah kode minta di lamar." Ucapan Rizky sontak membuat Dilla memekik keras tak terima.

"HEH!!... bohong Yah... Ayah tau kan dia..." kalimat pembelian Dilla terpotong.

"kalau saya sih mau kapan aja oke, udah acc mantu." Dilla terdiam melihat dua pria gagah di hadapannya itu, pemandangan seperti ini yang selalu ia doakan beberapa waktu lalu, andai sang Ibu masih berada diantara mereka mungkin kebahagiannya akan terasa semakin lengkap.

Sementara di tempat lain, dalam sebuah rumah megah bergaya minimalis di dominasi warna hitam dan abu abu nampak beberapa orang duduk di ruang keluarga dengan pembahasan yang cukup serius.

"sampai mati Abah ga akan ijinkan." Pria paruh baya itu terlihat sangat teguh dengan pendiriannya.

"kalau Adek suka ya kita bisa apa Bah." Ucap seorang yang lain.

"kalian semua tau Adek kalian itu karirnya lagi bagus bagusnya, masa iya dapet modelan anak koruptor? Ga mungkin Abah ijinkan." Nampak tak ada jalan tengah diantara mereka.

"yang jalanin itu Rizky Bah, lagi pula yang dinikahi juga Dilla sebagai individu... kepribadiannya, bukan dia anak siapa... Abah tau kan Rizky ga akan dengerin Abah." Keluarga inti tengah berkumpul untuk membahas bagian dari masa depan, namun yang menjadi inti utama perbincangan sedang menikmati waktu indahnya di suatu tempat bersama pujaan hatinya.

"kalau bukan karna Mbak Nabilla mungkin aku udah jadi gelandangan Yah." Mulut penuh dengan kwetiaw goreng itu berbicara sambil mengunyah, tidak beretika namun sangat seru berbincang membahas permasalahan sembari menyantap makan siang bersama, yang sudah lama tidak mereka lakukan.

"Ayah hutang budi sama mereka, sama kamu juga Ki... saya gatau mau ngomong apa lagi." Rizky tersenyum menanggapi itu.

"ijin, kalau ucapan terimakasihnya di ganti Dilla gimana Pak? Kasih aja dia ke saya." Uhuk... uhuk... Dilla tersedak makanannya saat mata indahnya tanpa sengaja bertatapan dengan mata elang Rizky yang penuh arti itu.

"basi banget guyonan orang tua ya." Sindir Dilla sarkas.

"dih... tua tua juga kamu mau, tadi siapa yang peluk peluk gamau lepas? Siapa yang biarin Ayahnya nungg.." dengan cepat Dilla menyuapkan se sendok penuh kwetiaw goreng di hadapannya untuk membuat Rizky berhenti bicara yang membuatnya malu di depan sang Ayah.

"kali ini dia pasti dengerin Abah, ya... kecuali dia mau kehilangan segalanya, logika aja Kak Adek kamu itu bisa di bilang tangan kanan orang penting, politikus besar yang handal, dan jadi mantu koruptor? Kecuali dia cukup gila buat lepasin semuanya" Ayah Rizky masih melanjutkan perdebatannya di lain tempat, logika yang masuk akal namun sangat sakit jika menjadi kenyataane.

Tanpa di ketahui Rizky berada dalam pilihan sulit, Dilla atau karirnya... cinta atau masa depannya... Dilla atau keluarganya, Rizky mulai menyadari itu sejak beberapa waktu yang lalu, saat ia mendengar kabar bahwa Ibu Dilla di larikan kerumah sakit, Rizky butuh waktu cukup lama untuk meyakinkan dirinya bahwa ia bisa mendapatkan dua hal yang ia inginkan, yakni masa depan dan Dilla.









Bersambung...










HealerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang