PROLOG

4.2K 193 1
                                        


Pasha baru saja selesai membersihkan piring kotor setelah ia selesai makan siang sendiri dirumah yang ia tinggali baru satu bulan ini.

"Hufftt... Bad mood banget dirumah sendirian gini. Tau gitu gue ikut jadwal Prima aja tadi." Ujar Pasha bergumam sendiri.

Ia kesal karena sang suami membatalkan rencana untuk pergi kerumah orang tau Pasha hari ini.
Pagi tadi, Pramudya dihubungi oleh sang ayah yang katanya harus pergi mengikuti meeting perusahaan.

Awalnya Pram berjanji akan pulang siang, mengingat dia tidak ada jadwal bersama boyband Venus untuk satu minggu kedepan.
Sama seperti Pasha yang mengajukan cuti satu minggu untuk menginap dan merayakan ulang tahun sang Mami dirumah kedua orang tua Pasha.

Namun, beberapa saat lalu sang suami menghubunginya dan mengatakan bahwa rencana mereka batal karena urusan mendesak perusahaan.

Pasha kesal, marah dan ingin mengamuk namun apalah daya, ia tak bisa melakukan itu.
Ia paham, hal seperti ini akan terus terulang mengingat sang suami bukan hanya sekedar idol grup biasa, namun seorang anak yang mengemban amanah besar dari sang ayah untuk mengelola bisnis keluarganya.

"Gue tau kak, jadi lo sakit. Tapi kenapa harus bawa-bawa gue juga buat ngerasain sakit sama lo?" Gumam Pasha lagi, merasa sisi sensitifnya kembali menyeruak.

Pasha mengelus perutnya yang hampir menonjol itu. "Apa salah ya gue pertahanin anak lo kak? Seharusnya sejak awal gue gak perlu kasih tau lo aja." Dan semakin kemana-mana pula ucapan Pasha.

"Duh, mikirin apa sih gue?! Jangan kayak gitu, Sha. Kasian anak lo. Dia gak boleh ngerasain sakit yang sama kayak Papanya, dia harus ngerasain bahagia aja kayak Pupunya." Menggeleng kepala Pasha, mengatakan pada dirinya untuk tidak berfikiran buruk lagi.

"Maafin Pupu ya sayang? Papa sama Pupu sayang banget kok sama kamu. Bejo?" Pasha mengelus perutnya lagi, mengatakan pada sang jabang bayi bahwa Pasha beruntung adanya dia dihidupnya saat ini, sambil menyebutkan nama aneh yang sering digunakan oleh Pramudya untuk anaknya.

Hari ini pun dilalui Pasha dengan perasaan dongkol, dia hanya mengelilingi rumah mewah satu lantai itu yang katanya dibeli Pram dengan uang hasil kerja kerasnya selama ini.

*
*

Jam menunjukkan pukul 10, Pasha baru saja selesai membersihkan diri setelah dua jam lalu ia beres melakukan live bersama Jonathan untuk promosi produk baru dari camilan bermerk Lays.

"Bang? Mau langsung pulang?" Tanya Pasha saat keluar kamar, melihat kearah Pakin yang tengah duduk di soffa sambil memainkan tab-nya diruang tengah rumah itu.

"Iya nih, Namira dari tadi udah nelponin terus, sampe panas nih hp gue." Ujar Pakin sambil bercanda menunjuk ponselnya yang tergeletak disampingnya.

"Mbak Namira cuman nemenin Prima ke event Gucci doangkan?"

"Hooh. Abis tuh balik kerumah, dia jadi lebih capekan sekarang. Jadi kadang kalo ikut event Prima cuman sekali dua kali doang, sisanya sama asistennya aja si Fila." Jawab Pakin, ia melirik Pasha yang ikut duduk disebelahnya sambil membawa dua gelas jus jeruk.

Pasha mengangguk paham sambil meminum jus jeruknya, pandangan fokus kearah tv yang sejak tadi menyala, menampilkan gambar boyband Venus yang sedang perform disalah satu acara musik tv.

Pakin melirik Pasha lagi kala gambar tv itu menuju kameranya kearah Pram yang tampil keren saat menyanyi dan menari disana.

"Itu syutingnya pas dua hari lalu kan?" Tanya Pakin, memulai kembali obrolan, menyimpan tab-nya yang ia rasa pekerjaannya sudah selesai.

"Iya kayanya, gue kurang tau." Jawab Pasha seadanya.

"Lah, waktu itu lo yang bilang kan? Katanya lo mau nemenin Pram syuting buat i-Pop."

GARIS SIMPUL [PondPhuwin AU] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang