BAB 8

3K 151 32
                                        

HAPPY READING JAA🔥🔥

Sorry for typo 🥹 🙏🏼

*

*

Tuan Johnson menatap murka kearah Pram yang baru saja masuk kedalam ruangannya.

Ia sudah memegang tongkat baseball ditangan kanannya, menunggu Pram untuk mendekat.

Pram yang tau akan apa yang terjadi setelah ini hanya bisa pasrah, ia melangkah maju, berdiri tepat didepan sang ayah.

BUGH!

BUGH!

PRANG!

Dua pukulan menghantap lengan kanan dan kiri Pram, setelah itu Tuan Johnson melempar tongkat baseball itu ke sembarang arah, menimbulkan suara nyaring yang memekan telinga.

Pramudya hanya menutup kedua matanya sambil menahan sakit pada lengannya yang baru saja dihantam oleh sang ayah.

"ANAK KURANG AJAR! Mau jadi apa kamu, Pram?!! Benar-benar mengecewakan!!!" Teriak Tuan Johnson dengan murka.

"Ma-maaf, Pah." Cicit Pram pelan. Ia tak bisa membela diri dihadapan si tetua.

"Pasha?" Tanya Tuan Johnson heran, menyebut nama yang tidak asing ditelinga.

"Kamu tau sendiri siapa Pasha kan, Pram? Dia rekan kerja abang kamu!! Kenapa Hah?! Ingin membalas dendam karena Jonathan mengambil Danniel darimu?!" Tanya Tuan Johnson tajam, matanya masih menatap Pram dengan amarah yang belum mereda.

Pram menggelengkan kepalanya pelan. "Pram gak bermaksud seperti itu, Pah. Ini semua diluar kendali Pram. Pram tau Papa kecewa, maafin kesalahan Pram." Ujarnya sambil menundukkan kepalanya, menatap sol sepatu yang ia pakai sejak tadi.

Tuan Johnson mengurut dahinya pertanda pening, ia tak percaya putranya akan melakukan kesalahan fatal seperti sekarang.
Semua rencana masa depan yang sudah ia susun untuk sang putra tiri, tiba-tiba hancur berantakan karena kelalaiannya sendiri.
Tuan Johnson gagal, ia marah dan kecewa pada dirinya sendiri.

"Gugurkan." Ujar Tuan Johnson tegas membuat Pram melotot terkejut, tak percaya ayahnya bisa berkata seperti itu, meskipun hal seperti ini sudah Pram prediksi sejak ia memutuskan untuk pulang kerumah megah ini.

"Pah? Papa gak serius ngomong gitukan?" Tanya Pram kepada ayahnya.

"Kamu pikir Papa lagi bercanda? Kapan Papa gak serius sama omongan Papa, Pram?! Gugurkan atau keluar dari Venus!" Titah Tuan Johnson dengan keyakinannya.

Pram mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, berusaha untuk tidak menghantam wajah paruh baya itu.

"Itu pilihankan? Kalo iya, Pram pilih untuk keluar dari Venus dan mempertahankan anak Pram." Jawab Pram dengan nada penuh penekanannya.

"PRAMUDYA!!!" Teriak Tuan Johnson saat mendengar jawaban putranya.

"Pram gak mau jadi pembunuh, Pah! Apalagi itu anak kandung Pram! Darah daging Pram sendiri, gak mungkin Pram bunuh anak itu!" Balas Pramudya tak kalah murka. Ia muak untuk tidak melawan pria paruh baya dihadapannya.

"Papa mau Pram bunuh cucu Papa? Lebih baik Pram pergi aja dari rumah ini kalo Papa suruh Pram buat bunuh anak Pram." Ujar Pram lagi, menurun suara ucapannya.

Tuan Johnson diam, ia berjalan menuju kursi kebesarannya, duduk disana dengan halaan nafas panjang yang tak henti ia suarakan.

Pramudya tau, ayahnya tak akan bisa melepaskan ia begitu saja, mengingat perusahaan sang ayah lebih banyak dikelola olehnya, itu kenapa Tuan Johnson tak bisa lanjut berkata.

GARIS SIMPUL [PondPhuwin AU] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang