Malam itu Akash mengajari Bima cara menggunakan "mantra" alchemy. Meskipun sempat kesulitan Bima akhirnya bisa menguasainya.
"Kerja bagus Tuan-ku! Anda telah berhasil membuat pintu rahasia. Saya rasa Anda bisa mendapatkan gelang Devanka tanpa hambatan," kata Akash sedikit berbangga karena ajarannya pada Bima membuahkan hasil
"Semoga saja. Tapi Akash, apa tidak aneh aku terlihat seperti ini?" tanya Bima sambil bercermin
Warna mata kiri Bima berubah menjadi ungu cerah. Sangat kontras dengan warna mata kanannya yang hitam.
"Bim? Bima? Kamu ngapain sih dari tadi berisik banget?" terdengar suara ketukan di pintu kamar
"Ah! Tidak ada apa-apa kok bu!" sahut Bima panik sambil melirik ke arah Akash yang mengaguk seakan berkata tidak apa-apa bila ibu Bima Masuk
"Kamu lagi telpon teman ya? Atau lagi main game?" tanya ibu setelah Bima membukakan pintu
"Tadi... Ada kecoa! Iya, ada kecoa! Jadi Bima coba pukul tapi gak kena-kena," ujar Bima tertawa canggung
"Kamu ini ada-ada saja deh. Itu juga ngapain kamu pakai lensa kontak cuma sebelah?" tanya ibunya setelah menyadari warna mata kiri Bima berbeda
"Ini... Oh, ini Bima rencana mau cosplay jadi tokoh komik Bima pas acara NetToon Fair bulan depan. Pas baru pake sebelah, eh ada kecoa terbang. Jadi berburu kecoa dulu deh," dusta Bima
"Ya sudah kalau begitu. Jangan berisik lagi, gak enak sama tetangga," perintah ibunya sambil meninggalkan kamar
Bima menutup pintu kamar dan menguncinya kembali. Lalu berbaring di atas ranjangnya. Dia memperhatikan tangannya yang gemetar setelah lelah berlatih.
"Hey Akash, memang apa hubungannya menggunakan alchemy dan warna mata yang berubah ungu?" tanya Bima tanpa mengalihkan pandangan dari tangannya
"Perubahan warna mata Anda menjadi ungu adalah efek dari pengendalian energi supranatural dan alchemy disaat yang bersamaan," jawab Akash, "Saya bisa mengajari Anda teknik untuk menyembunyikan perubahan warna tersebut bila Anda memang merasa perlu," tambahnya
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Bima meninggalkan rumah sebelum sarapan. Dengan alasan ingin olahraga dia berpamitan pada ibunya. Warna mata kirinya pun telah berhasil disamarkan dengan bantuan Akash.
Terkadang Bima lupa bila tidak ada seorangpun yang dapat melihat Akash, sehingga beberapa kali dia memerintahkan Akash untuk kembali ke dalam kalungnya.
Bima masuk ke dalam museum selayaknya pengunjung biasa. Puluhan artefak tersusun rapi didalam display kaca. Beberapa orang nampak keluar masuk pintu di bagian belakang.
"Jadi benar-benar tidak bisa dilepaskan ya?" tanya seorang pria tinggi pada teman wanitanya
"Iya, gelang itu sepertinya menempel dengan tangan mumi itu," sahut si wanita
"Yah, sayang sekali. Padahal aku masih ingin meneliti gelang itu sebelum dipajang," ujar si pria tinggi
Gelang yang mereka maksudkan sepertinya gelang Devanka. Bima dengan berhati-hati membuntuti mereka ke ruang belakang sambil berusaha sebisa mungkin tak nampak mencurigakan.
Sambil mengendap-endap Bima bergerak ke arah sarkofagus. Jasad Devanka nampak masih utuh, mumi yang sangat sempurna dan Bima merasa dia dapat membayangkan bagaimana wajah Devanka semasa hidup. Perlahan Bima mengulurkan tangannya untuk meraih gelang itu.
"Halo Devanka, maaf aku harus mengambil gelangmu. Maksudku, kau pasti mewariskan gelang ini untukku bukan?" bisik Bima
Terdengar suara klik metalik pelan dan gelang tersebut terlepas begitu saja dari tangan Devanka. Bima segera mengambil dan bergegas pergi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Nawasena
ActionApa yang kalian ketahui tentang pahlawan pelindung Nusantara? Pahlawan Nasional? Raja-raja? Apa yang kalian pelajari di sekolah itu hanya yang tercatat dalam sejarah, tapi tahukah kalian bila jauh sebelum kerajaan-kerajaan berdiri bahkan jauh di era...