Birthday Party On Christmas Eve

0 0 0
                                    

Bima terbangun ketika hari sudah mulai sore. Udara terasa sedikit panas karena matahari memang tepat di depan jendela kamarnya saat sore hari. Bima turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.

“Ibu, apa makan malam sudah siap?” tanya Bima sembari duduk di kursi makan

“Kamu sudah bangun toh?” ibunya bertanya balik, “Tadi ibu kaget waktu teman kamu antar kamu pulang. Dia bilang kamu tiba-tiba pingsan dan jatuh dari motor,” tambahnya

Bima teringat kejadian pagi tadi, serta pertemuannya dengan Satya. Ternyata Satya yang mengantarkannya pulang. Dia semakin yakin bila Satya sebenarnya orang yang baik.

“Nih, kamu makan kue dulu saja ya. Ibu belum selesai masaknya. Dinda ke rumahnya Nabilah, jadi ibu enggak ada yang bantu,” ujar bu Larasati sembari meletakkan sepiring kue

“Bima rasa sudah waktunya deh ibu punya karyawan. Lagian nih ya, katering ibu kan sudah mulai tersohor. Ya hitung-hitung kan meringankan beban ibu,” kata Bima sambil mengunyah sepotong kue

“Mungkin kamu benar. Ya, ibu pikir-pikir dulu lah,” ucap bu Larasati sambil berjalan kembali ke dapur.

Bima mengikuti ibunya ke dapur. Dia mengambil pisau dan mulai memotong-motong wortel dan kentang.

“Kamu yakin bisa bantu ibu?” tanya ibunya sembari membersihkan daging ayam

“Iya enggak apa kok bu, tadi itu cuma gara-gara Bima kurang tidur saja. Makanya pingsan,” dusta Bima

“Kamu itu ya persis bapakmu dulu, kalo kerja pasti lupa waktu,” ujar ibu

Sebuah mobil taksi online berhenti di depan rumah mereka. Dinda turun bersama Nabilah yang membawa tas ransel dan koper, dan seperti biasa kacamata Nabilah miring.

“Ibu, Dinda gak jadi menginap di rumah Nabilah,” kata Dinda dari luar pintu dapur, “Tapi Nabilah yang bakal menginap di sini!” tambahnya bersemangat

“Wah bagus dong! Makin ramai makin meriah, apalagi seminggu lagi kan Natal,” kata ibu senang

“Tuh, benar kan Na kata aku, ibu pasti senang kalo kamu selama libur natal di rumah kami,” ujar Dinda sambil merangkul sahabatnya itu

Nabilah mengangguk pelan sambil berucap, “Terima kasih bibi, maaf merepotkan,”

“Iya, tidak apa-apa kok. Lagian bibi lebih tenang kalau kalian berdua di sini,” ucap bu Larasati

Bima menghampiri mereka dengan mangkuk adonan tepung tempe mendoan di tangannya. Dia mencelupkan telunjuknya ke dalam adonan lalu mencorengkannya ke hidung Nabilah. Sontak gadis berkacamata itu kaget dan wajahnya merona merah.

“Sudah kakak bilang kan jangan terlalu formal,” kata Bima sambil nyengir

Dinda membantu Ibunya dan Bima memasak makan malam. Nabilah yang tidak enak bila hanya diam saja akhirnya ikut membantu. Semua makanan tersaji di meja bertepatan dengan pulangnya Bagas.
Nabilah menceritakan pada mereka tentang kakeknya yang sedang sakit, sehingga ayah dan ibunya harus pulang ke Bandung untuk membantu neneknya merawatnya. Kakak Nabilah pun tidak dapat menemani karena anaknya masih bayi.

“Lantas kenapa enggak menginap di rumah kakakmu saja? Toh bisa sekalian bantu dia ngurus anaknya, ketimbang kamu sendirian di rumah kan? ” tanya Bagas

“Iya sih kak, Nabilah maunya juga gitu. Tapi kan sekolah masih sampai lusa dan rumah kakakku jauh banget dari sekolah, naik ojol mahal, angkot juga musti 2 kali. Tadinya ya mau ajak Dinda menginap di rumahku sampai lusa,” jelas Nabilah

“Berarti emang sudah betul nih Dinda ajak kamu menginap di sini saja. Biar dia juga ada temannya,” ujar Bagas diikuti anggukan bangga Dinda

Selesai makan bu Larasati mengingatkan Dinda dan Nabilah agar jangan tidur terlalu larut. Dia juga mengingatkan hal yang sama pada Bagas dan Bima.

NawasenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang